Saat sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba ponsel Elvina berdering. Wanita itu segera meraih ponselnya dan tertera nomor yang tak dikenal sedang menghubunginya. Malas menanggapi, karena biasanya hanya pria iseng yang hanya sekadar basa-basi ingin berkenalan atau yang lainnya. Namun, nomor tersebut terus menghubungi hingga berkali-kali dan akhirnya Elvina menjawab panggilan tersebut karena penasaran.
“Siapa?” tanya Elvina langsung saat menjawab panggilan.
“Hm,” dehaman seorang pria yang sepertinya Elvina kenal.
“Bisu? Gak bisa ngomong? Haha hehem gak jelas!” gerutu Elvina tak suka basa-basi.
“Saya tunggu di hotel. Kebetulan, saya sedang di Jakarta,” ucap pria itu membuat Elvina menelaah suaranya.
“Kak Rangga?” tebaknya sambil membelalakkan mata tak percaya.
“Ya, sopir saya akan menjemputmu. Kantor Abizard Group? Hahaha,” terdengar suara tawa seolah mengejek karena Elvina bekerja di kantor suaminya sendiri.
“Mau apa lagi? Ayu udah gak punya apa-apa tuh buat Kak Rangga ambil,” cibir Elvina menusuk.
“Saya tunggu.” Rangga segera memutuskan sambungan telepon seolah tak ingin mendengar penolakan dari Elvina.
Elvina terdiam memandangi layar ponselnya. Apalagi yang diinginkan kakak bajingannya itu? Rangga sudah menjual rumah peninggalan ayahnya yang dikhususkan untuk Elvina, tepatnya saat awal pernikahan.
Saat Rangga datang ke kampus Elvina secara tiba-tiba, meminta Elvina untuk menandatangani sebuah berkas dan ternyata berkas itu adalah surat penjualan rumah tersebut. Rumahnya berada di Bandung, akan tetapi tempatnya cukup jauh dari rumah kediaman Susan dan Safira.
Elvina menghela napas dan menghembuskan perlahan berulang kali, berharap ia tak mencemaskan apapun dan berpikir positif tentang Rangga yang mendadak ingin bertemu.
“Vin? Mau bareng? Gue anterin,” panggil Aditya sambil berlari mengejar Elvina yang sedang berjalan keluar dari gedung perkantoran.
“Gak usah. Gue ada yang jemput,” jawab Elvina malas, lalu melanjutkan langkahnya.
“Pacar lo? Si duda itu?” tebak Aditya dengan wajahnya yang terlihat sebal dan bibirnya yang sengaja ia monyongkan.
“Mukanya tolong kondisikan!” bentak Elvina kesal membuat Aditya terkekeh.
“Iye, pacar lo ganteng kok.” Aditya mengoreksi, tetapi dengan nada terpaksa.
“Tapi bukan pacar gue sih yang jemput.” Elvina bergumam.
Aditya langsung menoleh ke arah Elvina dan segera melakukan kehebohan yang dramatis. “Selingkuhan lo? Wah, sejak kapan lo—”
Plakk!
Elvina segera memukul punggung Aditya cukup keras hingga pria yang punya mulut comberan itu berhenti bicara. “Lo kalo ngomong, seriusan kayak ibu-ibu, pedes cok. Bener kata Pak Dafa, lo itu cewek, 'kan?” Elvina menunjuk hidung Aditya dengan tatapan intimidasi—mengejek.
“Anying 'kan! Malah didengerin omongan dia.” Aditya tak terima dengan lontaran Elvina.
Tiba-tiba, seorang pria mendekati mereka berdua dan berkata, “Nona Ayu, saya diminta menjemput Nona.” Pria itu berpakaian seperti sopir yang sudah cukup tua. Elvina tahu, itu sopir yang diutus Rangga.
Aditya terheran-heran dengan panggilan pria itu kepada Elvina, lantas ia mencibir, “Wah, sejak kapan lo ganti nama? Bah, lo ganti nama tiap—”
Bugh... Bugh... Bugh...
Elvina segera memukul kembali punggung Aditya, tapi kali ini menggunakan kepalan tangannya yang sudah ia bulatkan, tidak lupa dengan tendangan maut seorang Elvina.
“Aw anjir! Dasar cewek jadi-jadian! Udah kayak preman pasar aja lo!” bentak Aditya, meringis kesakitan sambil menjauhi Elvina sebelum wanita itu melakukan yang lainnya.
Hal itu tak luput dari pandangan petinggi kantor Abizard Group yang juga berhamburan keluar kantor untuk pulang, termasuk Dafa yang masih berjalan dengan beberapa bodyguard-nya karena lift dan parkiran yang Elvina lalui, memang khusus petinggi dan sekretarisnya.
“Lah, elo cowok jadi-jadian! Punya mulut kok lemes banget cyin ..., ” ejek Elvina dengan nada dan bibir lebay khas seorang banci, begitupun tangan yang ia lentikan di udara layaknya banci perempatan jalan.
Aditya berkacak pinggang saat melihat Elvina memasuki mobil berwarna hitam keluaran terbaru. Elvina memang sudah menghubungi security setempat untuk membiarkan sopir yang dikirim Rangga menunggunya di parkiran khusus petinggi yang akan ia lalui.
Hening ... tak ada yang bersuara baik itu Elvina ataupun sopir Rangga. Ternyata, mobil itu membawa Elvina ke Jakarta Selatan. Yang benar saja! Jaraknya sangat jauh, baik itu dari kantor maupun apartemen Elvina.
Hujan deras mulai mengguyur jalanan. Elvina tidak tahu apa yang diinginkan Rangga. Ia bahkan masih berpakaian kantor, berpikir tak sejauh ini sehingga ia bisa pulang dengan cepat.
Sampainya di sebuah hotel, sopir itu segera turun lebih dulu untuk membukakan pintu untuk Elvina, lalu membawa wanita itu masuk ke dalam bangunan hotel tersebut.
“Tuan Rangga di dalam. Silakan,” kata sopir itu mempersilakan Elvina untuk masuk ke dalam ruangan yang memiliki pintu berwarna coklat.
Elvina mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum mendapatkan sahutan dari dalam dan seorang pria yaitu kakaknya sendiri, Rangga, membuka pintu.
“Masuk,” pinta Rangga yang tak membuka pintu dengan lebar, sehingga Elvina yang melebarkan pintu untuknya masuk.
Di dalam, tidak ada siapapun. Rangga tampak masih berpakaian kantor pula dengan jas yang masih tertata rapi.
“Kak Rangga ... ada apa?” tanya Elvina ragu, rasanya tak pernah ia mendapat tatapan sedemikian rupa dari kakaknya.
Rangga menelisik tubuh Elvina dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan saksama dengan wajah datar andalannya. Kemudian, terlihat senyum kecil dari sudut bibirnya. Elvina semakin gugup karena tak mendapatkan jawaban apapun, ia sibuk meremas roknya untuk menghilangkan cemas dan pikiran negatifnya.
“Kemarilah,” pinta Rangga dari ujung ruangan, sedangkan Elvina masih di dekat pintu.
Pria itu membuka kancing jasnya, lalu membuka jas yang ia pakai dan menarik dasinya yang ia geser ke kanan dan ke kiri terlebih dahulu dan melemparkannya ke sembarangan arah.
“Kak?” Elvina semakin bingung dengan tingkah laku kakaknya itu.
“Mendekat. Saya tidak ingin kehabisan tenaga saya, hanya untuk bicara jarak jauh seperti ini.” Rangga terlihat kesal, ia melangkah dan duduk di sebuah sofa dengan melebarkan kakinya di lantai.
Elvina melangkah pelan, mendekati Rangga sambil menundukkan kepalanya. Entah apa alasannya, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang dan firasat buruk mulai bermunculan di benaknya.
Saat Elvina sudah hampir sampai, dengan gerakan cepat tangan Rangga meraih tangan Elvina dan segera membawanya ke atas ranjang. Tubuh Elvina terhempas keras dan Rangga segera menindih tubuhnya, mengunci pergelangan tangan Elvina dengan kasar.
“Kak? Kak Rangga mau apa?” teriak Elvina semakin cemas, jantungnya berpacu sangat cepat. Demi apapun, ia tak pernah merasa setakut ini.
Rangga menyeringai dan Elvina dapat mencium aroma alkohol dari mulutnya. Rangga berkata, “Saya akan ambil sesuatu yang belum pernah saya ambil darimu, Ayu.”
Elvina membelalakan matanya, memikirkan tentang apa yang akan dilakukan Rangga selanjutnya, lalu mengingat Safira yang merupakan kakak iparnya. Elvina berteriak, berharap kakaknya itu dapat tersadar kembali. “Kak? Ayu ini adikmu, Kak! Kakak ingat Kak Fira—”
Plak!
Rangga menampar pipi Elvina sangat keras hingga wanita itu merasa pipinya sangat panas dan perih, tapi ia segera menatap sang kakak dengan harapan, pria yang sedang di atas tubuhnya itu tersadar bahwa yang dilakukannya itu salah.
“Kak, Ayu mohon! Ayu udah nikah, Kak!” teriak Elvina histeris. Tanpa ia sadari, air mata mulai bercucuran ke samping wajahnya.
“Saya tidak peduli,” jawab Rangga enteng.
“Kita tidak sedarah, dasar anak sialan! Tidak ada salahnya untuk melakukan itu,” batin Rangga.
Rangga mendekati wajah Elvina tetapi wanita itu segera membuang wajahnya ke arah lain. Elvina terus meronta dan berteriak meminta pertolongan. Rangga sangat kesal dengan teriakan Elvina yang sangat menggema di kamar tersebut.
Berulang kali ia menampar Elvina agar mau diam tapi wanita itu terus berteriak berharap ada seseorang yang menolongnya. Walaupun, ia tahu kamar itu jauh dari lalu lalang orang karena kamar itu merupakan VIP dan lagi posisinya yang paling ujung, membuatnya tak berharap banyak.
Dengan sisa tenaganya, Elvina terus meronta dan menghindari ciuman yang akan dilakukan Rangga. Tak henti ia berteriak meminta tolong hingga kerongkongannya terasa kering sedangkan Rangga sudah melepas kemeja yang ia pakai. Yang belum ia lakukan adalah, melucuti pakaian Elvina dan celana kain yang masih ia pakai.
Elvina tak henti memohon agar Rangga tak melakukannya tetapi pria itu tak pernah menjawab apapun dari bibirnya selain pukulan dan tamparan sebagai jawabannya.
BRAK!
Seseorang mendobrak pintu, lalu beberapa pria bermunculan dari arah luar yang membuat Rangga menghentikan aksinya dan segera berdiri tegak, begitupun Elvina yang segera berdiri dan tentu menghindari kakak bejatnya itu.