Tak Sengaja Bertemu

1038 Kata
Elvina mengarahkan pandangannya ke arah seseorang yang sedang berdiri dengan tatapan cemas. Rasanya Elvina pernah bertemu dengan orang itu. Sukma, Ayah Rafael? Ya, ia pernah bertemu dengan Sukma saat Rafael dirawat di rumah sakit. “Elvina? Siapa pria ini?” tanya Sukma menatap pedas ke arah Rangga yang bertelanjang d**a. Pun, Rangga menatap sinis ke arah Sukma. Satu tangannya mencekal tangan Elvina yang akan menjauhi dirinya. Rangga meraung, “Bukan urusanmu!” Kemudian, orang-orang yang dibawa Sukma bersitegang dengan orang-orang Rangga yang baru saja datang. Mereka datang dari arah belakang Sukma dan orang-orangnya. Elvina berusaha melepaskan cekalan Rangga, sedangkan Sukma dan orang-orangnya terdengar sedang bertengkar di luar kamar. Tak berpikir lama lagi setelah mendapat ide, Elvina menggigit kuat tangan Rangga hingga yang digigit melepaskan cekalan tangannya. Segera, Elvina berlari tanpa memperdulikan orang-orang dengan jumlah banyak yang sedang bersitegang. Terdengar suara Rangga yang meminta orang-orangnya untuk mengejar Elvina. Elvina terus berlari tak tentu arah, bahkan tanpa menggunakan heels-nya yang ia tinggalkan di kamar. Beberapa kali ia menabrak orang yang menghalangi jalannya, tak peduli orang-orang itu mengumpat kesal, ia terus berlari setelah keluar dari sebuah lift menuju keluar dari hotel tersebut. Hari sudah gelap, hujan masih deras dan orang-orang Rangga masih mengejarnya sehingga mau tidak mau Elvina terus berlari menyusuri jalanan yang terlihat lenggang. Bugh! Sebuah mobil yang sedang melaju menabrak Elvina. Untung saja mobil tersebut tidak sedang dalam kecepatan tinggi. Tanpa berpikir lagi, Elvina segera meraih handle mobil dan membuka pintunya setelah berusaha berdiri meski tertatih. Selanjutnya, ia masuk dan memiringkan tubuhnya sehingga kepalanya tepat berada di paha seseorang yang berada di kursi penumpang. “Pak, tolong jalan. Saya mohon,” pinta Elvina dengan napas terengah-engah lalu menutup wajahnya, takut-takut orang-orang Rangga masih mengejar dan menemukannya. Mobil itu melaju, tapi Elvina belum berani membuka wajahnya untuk sekadar ingin tahu, mobil siapa yang ia tumpangi dan siapa yang berada di dalam mobil tesebut. Hingga saat mobil itu sudah cukup jauh dari tempat tadi, seseorang mulai membuka mulutnya untuk bicara. “Bangun! Kamu tidak sopan! Mau menggoda saya di dalam mobil?” bentak seorang pria di dalam kursi penumpang yang dengan tidak sopannya Elvina jadikan pahanya sebagai bantal. Suara itu? Firasat Elvina langsung tidak enak. Penasaran, ia segera duduk dan .... “Maaf,” lirih Elvina dengan wajah tegang mengetahui siapa yang ada di dalam mobil tersebut. Lalu, kepalanya menuju ke arah sopir dan berkata, “tolong berhenti di sini.” “Kamu pikir ini taksi?” bentak pria itu kesal. “Maaf, 'kan tadi udah minta maaf. Lagian, Bapak kok kayak setan sih? Ada di mana-mana,” jawab Elvina dengan suara pelan, tetapi pria itu malah semakin kesal. Pria itu William. Kebetulan, ia dalam perjalanan pulang melewati jalan itu. William memasang wajah murka seakan-akan ingin mengirim Elvina kembali ke rahim ibunya. Ia berkata, “Ngapain kamu lari-lari? Pake masuk mobil orang sembarangan! Ketemu kuntilanak? Genderuwo? Buto Ijo?” cecarnya, lagi-lagi dengan nada membentak. “Wah, mereka mah lewat. Yang ada sereman Bapak,” jawab Elvina dengan nada setenang mungkin, tapi tidak dengan William yang terlihat dari wajahnya merah padam menahan murka. Bisa-bisanya Elvina bicara seperti itu, padahal dia sedang menahan tangis. “Dikejar-kejar,” jawabnya dengan malas setelah suaminya itu malah diam menunggu kelanjutan ucapannya. Sungguh, Elvina tak tahu jika itu mobil William. Jika saja ia tahu, lebih baik ia masuk ke mobil lain atau terus berlari tak tentu arah. “Kamu maling?” tuding William tanpa disaring. Dosen sekaligus CEO yang sialnya suaminya sendiri ini super sekali, gak ada khawatir-khawatirnya yang ada malah membentak parahnya memfitnah juga. Penampilan Elvina sangat berantakan, rambut panjangnya terlihat kusut dan menghalangi sebagian wajahnya yang terluka. Sehingga William tidak tahu, bahwa wanita itu sedang tidak baik-baik saja. Belum lagi posisi Elvina yang berada di sampingnya, membuat William semakin malas untuk melihat jelas wajah wanita yang sudah menjadi istrinya itu. “SEMBARANGAN!” sewot Elvina tak terima. Kembali napasnya terengah-engah, menahan amarah yang ingin sekali ia ledakkan. Tadinya mau nangis kejer-kejer tapi Elvina urungkan, malas ditertawakan suaminya sendiri. “Ya terus, ngapain dikejar-kejar segala?” tanya William yang sebenarnya penasaran. “Berhenti di sini aja.” Bukannya menjawab pertanyaan William, Elvina malah meminta sopir untuk berhenti dengan notasi tinggi. Dengan susah payah Elvina menahan tangis yang sejak tadi ditahan. Kini napasnya menggebu-gebu menahan sesak di dadanya, matanya memerah dan bibirnya bergetar. William baru menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi kepada Elvina. Ia mengamati wanita yang sudah menjadi istrinya itu sedang menangis sesenggukan. “Kita berhenti, Tuan?” tanya sopir itu memastikan, ia tak akan menuruti keinginan siapapun termasuk Elvina jika bukan William sendiri yang memintanya. “Antar Vina ke apartemennya,” pinta William tak tega. Entah mengapa hati dan mulutnya selalu berkata berbeda. Mulutnya mungkin bisa menyakiti hati Elvina akan tetapi hatinya berkata lain. “Gak usah. Vina turun di sini aja,” tolak Elvina sambil membuka tangan di wajahnya dan mengusap air mata yang membasahi hampir seluruh wajahnya. Tiba-tiba saja, sebuah mobil mensejajarkan lajunya sambil membunyikan klakson ke arah mobil yang ditumpangi Elvina. Sontak Elvina menoleh ke arah sampingnya dan ia lega saat mengetahui siapa yang ada di dalam mobil yang mengejarnya. “Tolong berhenti!” pinta Elvina antusias. “Dia yang kejar kamu?” desak William penasaran seraya memperhatikan gerak-gerik wanita yang berada di sampingnya itu. “Cepat berhenti! Dia Kak Rafa,” teriak Elvina tak sabaran dan William segera meminta sopirnya untuk berhenti. Selanjutnya, Elvina keluar dari mobil begitupun Rafael yang juga segera turun setelah mobilnya berhenti di belakang mobil William. Elvina segera berlari ke arah Rafael dan memeluk pria itu. Namun ternyata, para pengawal William yang berjumlah lebih dari delapan orang keluar dari mobil masing-masing. Segera, mereka menghampiri Rafael seolah pria itu adalah ancaman untuk Elvina ataupun William. William membuka kaca jendela mobil, meminta mereka untuk kembali ke mobil masing-masing sedangkan Elvina tak peduli dengan keadaan sekitar dan tetap memeluk Rafael. “Vin? Sayang? Kamu baik-baik saja? Ayah menghubungiku tadi,” kata Rafael membalas pelukan. Tangis Elvina semakin menjadi-jadi, akhirnya ia dapat mencurahkan air matanya dipelukan seseorang yang ia cintai. “Kak Rafa, ayah Kak Rafa .... ” Elvina tak dapat melanjutkan ucapannya, khawatir dengan keadaan Sukma yang tadi berhadapan dengan kakak iblisnya. “Ayah baik-baik saja, Vin. Tenangkan dirimu.” Rafael mengusap punggung Elvina, tak berniat sedikitpun melepaskan pelukannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN