Di dalam mobil, William melihatnya sendiri dengan mata kepalanya, menyaksikan dua sejoli yang saling berpelukan yang juga disaksikan oleh orang-orang William. Entah mengapa dadanya terasa terbakar, ia terus membuang wajahnya ke sembarang arah. Niatnya tak ingin melihat apa yang sedang mereka lakukan, tapi tetap saja kepalanya malah ingin menatap ke arah jendela, lebih tepatnya ke arah Elvina dan Rafael.
William ingin melakukan sesuatu. Bukan ingin menenangkan Elvina, tapi malah ingin menghajar Rafael. Tapi tidak, ia terus menenangkan dirinya, sadar jika ia tak memiliki hak untuk itu. Sadar dipandangi William dari dalam mobil, Rafael segera melepaskan pelukannya merasa tak enak dengan pria yang ia ketahui sebagai kakak Elvina.
“Vin?” panggil Rafael menatap Elvina dengan lekat.
“Ayah Kak Rafa gimana?” tanya Elvina khawatir, sementara Rafael sibuk menghapus air mata Elvina dengan jarinya.
“Aku belum tahu kamu ada masalah apa, Ayah belum cerita apapun. Ayah cuma bilang kalau kamu ... di hotel bersama pria. Ayah juga bilang kalau Ayah sudah menyelamatkanmu dari pria itu. Yang belum Ayah lakukan adalah, mengejarmu untuk melindungimu. Makanya Ayah minta aku cepat cari kamu.
“Kebetulan daerah ini kawasan kantor aku dan aku bisa cepat cari kamu. Padahal tadi aku ada di sana waktu kamu masuk ke mobil kakak kamu, mungkin kamu gak lihat.
“Aku yakin, Ayah baik-baik saja. Aku mau temui Ayah sekarang. Kamu gak perlu ceritakan dulu, biar Ayah yang cerita sama aku. Sekarang pulang, kakakmu menunggu,” ucap Rafael panjang lebar dengan nada setenang mungkin akan tetapi wajahnya terlihat khawatir dan tak tenang, tak henti mengusap-usap pipi Elvina yang terus teraliri air mata.
Elvina melirik ke sekitarnya dan ia bingung sendiri, mengapa William dan orang-orangnya masih berada di sana?
“Pulanglah. Kalau saja belum Malam, mungkin aku akan membawamu dan membuatmu tenang. Aku sayang kamu, Elvina,” ucap Rafael pada Elvina, kemudian mencium keningnya.
Rafael tersenyum, lalu meraih tangan Elvina, membawanya ke arah mobil William. Tanpa mengatakan apapun lagi, Rafael meminta Elvina untuk masuk ke dalam mobil William. Ia ingin mengatakan sesuatu kepada William, tapi 'kakak' dari wanita yang dicintainya terlihat dingin bahkan tak ingin menatap Rafael sehingga Rafael urungkan untuk bicara.
Setelah memastikan Elvina sudah di dalamnya dengan nyaman, Rafael segera menutup pintu mobil. Ia tersenyum saat mobil William melaju meninggalkanya, lega karena Elvina bersama kakaknya. Dia hanya tidak tahu, jika pria itu bukan kakaknya melainkan suami Elvina sendiri.
“Ada masalah?” tanya William menatap wajah Elvina yang sedang bersandar di ujung jendela mobil.
“Hm ... kamu ... pakai ini. Takutnya keliatan sopir.” William berbisik, lalu memberikan jasnya untuk dipakai di bagian d**a Elvina.
Kancing kemejanya terbuka karena ulah Rangga yang belum sempat Elvina lihat hingga tanktop-nya tercetak jelas dan samar terlihat bra-nya. Belum lagi pakaiannya basah karena hujan, membuat penampilan Elvina sangat amat berantakan.
Elvina meraih jas itu dan menempelkan pada dadanya dengan asal, setelah itu menyandarkan kembali kepalanya pada sudut jendela tanpa mengatakan apapun. Pikirannya sibuk membayangkan kejadian tadi, kejadian saat Rangga akan melakukan sesuatu yang tak pernah Elvina lakukan, bahkan bersama pria yang sudah menjadi suaminya sekalipun.
Ia benar-benar tak mengerti dan tak menyangka. Rangga yang ia anggap sebagai kakak, ingin melakukan itu? Namun, ia mengkhawatirkan yang lainnya. Ia takut Rangga mengatakan kebenaran kepada ayah Rafael, kebenaran bahwa Elvina sudah menikah dengan William. Apa jadinya jika Rafael dan keluarganya mengetahui itu? Masalah ini begitu rumit dan sungguh menguras pikiran Elvina.
“Mau tidur di mobil?” Suara William membuat lamunan Elvina bubar.
Merasakan mobil telah berhenti dan ia baru sadar jika sudah sampai di parkiran apartemennya. Elvina menjawab dengan gugup, “Oh ... hm ... maaf.”
Segera, Elvina menyingkirkan jas milik William dan keluar dari mobil tanpa mengatakan apapun. Namun, sesuatu mengganggu pikirinnya hingga ia berbalik dan mengetuk jendela mobil William yang masih di sana. William membuka sedikit kaca mobilnya.
“Ada apalagi?” tanya William dari celah kaca jendela.
“Bapak bisa minta orang Bapak buat anterin Vina ke atas?” pinta Elvina dengan nada pelan, ia sangat ragu tapi ia khawatir orang suruhan Rangga ada di sekitar apartemennya.
William terlihat bingung atas permintaan Elvina. “Kamu takut hantu?” tebaknya yang sepertinya ingin sekali melihat Elvina mencak-mencak.
“Bukan, Pak, sebentar aja kok. Takutnya ... ada seseorang yang nungguin Vina. Vina takut orang, bukan hantu,” jawab Elvina lirih.
Elvina terus mengedarkan pandangannya ke segala arah dengan perasaan takut. Melihat wanita yang sudah ia nikahi seperti itu, membuat William ikut khawatir.
“Mau tidur di rumah Mama?” William menawarkan untuk menginap di rumah orangtuanya.
Sekian detik Elvina berpikir, lalu bertanya, “Bapak tidur di mana?” Ia tak ingin tidur satu atap dengan William, meski tak satu kamar.
“Apartemen saya,” jawab William malas. Tanpa Elvina mengatakannya, ia sudah tahu bahwa Elvina tak ingin satu atap dengannya.
“Boleh tidur di rumah Mama?” tanya Elvina ragu tetapi nadanya memelas.
“Kenapa tidak? Itu 'kan rumah orangtuamu juga! Cepat masuk!” bentak William kesal sekaligus aneh.
Mengapa Elvina terlihat sangat sungkan kepadanya? Sedangkan Mehmed dan Amy adalah orangtua angkat Elvina sendiri. Seharusnya tidak perlu meminta izin dari William jika ingin mengingap di rumah Abizard, bukan?
Elvina tersenyum lega, bisa mencari sedikit perlindungan di rumah mertuanya. Namun, itu hanya sebentar. Senyumnya menghilang dan ia merengek, berkata, “Tapi Vina mau ambil baju ganti dulu, Pak.”
“Ribet banget jadi cewek! Ayo saya antar,” jawab William ketus.
William lalu menyentuh handle pintu dan keluar dari mobilnya. Elvina mundur dua langkah untuk memberi ruang kepada William, begitupun para pengawalnya yang juga turun dari mobil masing-masing.
“Bukan Bapak, Vina minta orang Bapak,” ujar Elvina takut-takut suaminya itu salah mendengar.
“Sama aja. Cepetan.” William melangkah lebih dulu memimpin jalan diikuti Elvina dan beberapa pengawal William.
Entah apa alasannya, kini Elvina merasa lebih tenang dan nyaman berjalan di tengah-tengah orang-orang kepercayaan William, sedangkan suaminya itu berada di depannya. Mereka memasuki lift untuk ke lantai atas di mana apartemen Elvina berada.
Sadar istri pertamanya itu sedang tidak baik-baik saja, William meminta satu pengawal untuk berjalan lebih dulu guna memeriksa koridor yang akan mereka lewati. Sampainya di depan pintu apartemen, Elvina masih saja merasa takut.
Elvina tahu, Rangga bisa melakukan apapun, termasuk menyusup ke apartemennya. Dengan ragu ia meminta satu orang William untuk ikut masuk, tapi yang masuk malah William sendiri sedangkan para pengawalnya menunggu di luar.
“Kamu dikejar siapa emang? Debt collector?” tuding William mendahului Elvina dan segera duduk di ruang TV tanpa dipersilahkan yang empunya.
Elvina terus melangkah melewati ruangan TV menuju kamarnya. “Serah lu aja, Pak. Lagi gini juga tetep aja ngajak ribut, heran. Gak ada kasihan sedikitpun. Kak Rafa ... Vina mau sama Kak Rafa ... hiks ... hiks ..., ” lirihnya saat memasuki kamarnya sambil menggerutu, lalu menangis.