Telat Menyadari

1006 Kata
Elvina segera membuka lemari dan mengambil pakaian yang akan ia pakai untuk tidur, juga untuk esok bekerja. Tak lupa dengan skincare dan make up yang akan ia pakai. Setelah sudah mengganti pakaiannya, ia segera keluar dari kamarnya dan William masih di ruang TV tanpa melakukan apapun. “Sudah?” tanya William melihat Elvina sudah siap. William segera berdiri dan kini ia melihat wajah Elvina dengan jelas. Jika tadi, wajahnya tertutup rambut dan make up yang berantakan, kini Elvina memperlihatkan wajah alaminya yang sudah ia cuci. William melihat ada sedikit luka di beberapa bagian, yang menarik perhatian adalah memar di sekitar keningnya akibat terbentur ke mobil William. “Kamu ... kenapa? Apa yang terjadi?” tanya William merasa khawatir. Dirinya memang telat mengetahui hal itu, tapi khawatirnya itu nyata. Seketika ia merutuki dirinya sendiri, mengapa ia tak menyadari jika Elvina telah mengalami kecelakaan yang entah apa penyebabnya. “Jangan pedulikan Vina.” Elvina berjalan ke arah pintu keluar, tapi William mencekal tangannya hingga wanita itu berhenti berjalan dan menatap heran. “Ada masalah apa? Siapa yang berani menyakiti keluarga Abizard?” William memperhatikan wajah Elvina yang terlihat merah terutama di bagian pipi dan keningnya. Pipinya ditampar beberapa kali oleh Rangga sangat keras, tentu membuat pipinya merah, panas dan perih. “Siapa yang keluarga Abizard? Vina? Sejak kapan?” Elvina balik bertanya dengan sindiran yang menusuk. “Sejak saya menikahimu, Elvina,” jawab William tanpa mengedipkan matanya dan terus menelisik wajah Elvina dengan saksama. Mendengar jawaban William, membuat Elvina menyunggingkan senyumnya. “Pernikahan konyol! Vina bagian Abizard kalau Mama Amy sama Papa Mehmed ada di Indonesia aja!” ungkapnya yang diakhiri bentakan. “Saya butuh jawaban. Siapa yang melukaimu?” William mengulangi pertanyaannya yang belum mendapatkan jawaban. “Gak penting! Dan tolong jangan seolah Bapak peduli sama Vina.” Elvina menggelengkan kepalanya seraya mencoba untuk melepaskan tangan William yang mencekal tangannya, tapi suaminya itu malah semakin mengeratkan cekalannya. “Masalahnya akan rumit kalau sampai Papa atau Mama tahu. Saya gak mau ambil resiko,” kata William. William mendekatkan wajahnya ke wajah Elvina seolah meminta istrinya itu untuk mengerti. Akan sulit menjelaskan kepada kedua orangtuanya jika sesuatu terjadi kepada Elvina. Yang ia takutkan adalah, para pesaing perusahaannya yang bisa saja merencanakan apapun untuk menyakiti keluarga Abizard. “Mereka gak akan tahu. Resiko? Atas apa?” tanya Elvina yang terdengar tak tenang. “Saya pernah bilang sama kamu, Abizard Group punya banyak saingan dan kami sadar akan hal itu. Jangankan seorang pesaing, bahkan perusahaan yang berada di bawah naungan Abizard Group saja, bisa jadi mereka tak menyukai Abizard Group dan mempunyai niat untuk menyakiti keluarga Abizard. Jangan lupakan itu.” William menegaskan ucapannya. “Oke.” Elvina tak ingin pusing. Kembali ia mencoba melepaskan cekalan tangan William dari tangannya. “Kamu belum jawab, siapa yang menyakitimu? Apa Natalia lagi?” William mengeraskan rahangnya. Ya ... Pria itu tahu penyebab depresi Elvina beberapa bulan yang lalu yang disebabkan Natalia. Tak heran jika ia mencurigai Natalia sebagai penyebab Elvina terluka saat ini. “Gak penting. Gak ada hubungannya sama Abizard Group dan para pesaingnya juga Natalia.” Elvina benar-benar tak ingin menceritakan apapun yang telah terjadi padanya hari ini, terlebih masih ada rasa sayangnya terhadap Rangga sebagai seorang kakak. Elvina tak ingin William ataupun keluarga Abizard tahu, jika Rangga hampir memperkosanya hari ini. Ia takut mertuanya akan menyakiti Rangga. Terlepas ia pun merasa kecewa atas tindakan kakaknya itu, tapi tetap saja ia tak ingin kakaknya terluka. “Lalu?” desak William ingin mendengar jawaban yang pasti, tapi istrinya itu tak ingin menjawab apapun dan memilih berjalan keluar apartemen. William menghela napas kasar lalu mengikuti Elvina keluar dari apartemen dan berjalan di belakang istrinya itu. “Vina pake taksi aja. Bapak, 'kan mau pulang ke apartemen Bapak,” ujar Elvina saat sudah di parkiran apartemen. “Kamu ikut mobil itu aja,” pinta William sambil menunjuk dengan kepalanya ke arah mobil yang lain, milik pengawalnya. “Antar Elvina ke rumah Mama.” William memerintah kepada pengawalnya yang memakai mobil tersebut dan 2 pengawal itu membungkuk hormat. Segera, salah satunya membukakan pintu mobil untuk Elvina. Malam itu, Elvina tidur di rumah mertuanya sedangkan beberapa barangnya tertinggal di hotel. Tas, dompet, ponsel, sepatu dan yang lainnya. Tidak masalah, yang penting untuk saat ini ia merasa nyaman berada di dalam rumah mertuanya yang memiliki sistem keamanan yang ketat. Hampir mustahil rumah itu bisa dimasuki sembarangan orang . Bagaikan melindungi berlian, petugas keamanan dan CCTV tersebar di luar dan dalam rumah. Kembali ia memikirkan Rangga, ia takut kakaknya itu terluka karena kejadian tadi bersama orang-orang Sukma. Namun, ia lebih khawatir lagi jika Rangga memberitahu Sukma jika dirinya adalah menantu Abizard. Dalam hatinya terus bertanya-tanya, mengapa Rangga sangat tega ingin menyetubuhi adiknya sendiri? Sebenci itukah dirinya terhadap Elvina? Tak ada sisi lembut dari sang kakak sejak ia kecil, yang ada malah makian dan kekerasan. Ia tahu jika Rangga memang sering main wanita, baik itu di belakang ataupun di depan Safira, istrinya sekalipun. Itu sebabnya, Elvina sangat menyayangi Safira karena kesabarannya yang luar biasa menghadapi kakaknya. Safira tidak memiliki pilihan lain selain bertahan dan berpura-pura buta juga bisu. Ia tak memiliki keluarga lagi karena orangtuanya sudah meninggal. Keluarga besarnya adalah keluarga kurang mampu. Namun, Susan sangat menyayangi Safira sehingga Safira dapat bertahan hingga saat ini, begitupun Elvina yang sangat menyayangi Safira melebihi kepada kakaknya sendiri. Esoknya, Elvina tetap bekerja. Ia memakai make up yang cukup tebal agar menyamarkan memar di wajahnya. Ia mengatakan kepada ketua penjaga rumah Abizard akan menggunakan taksi dan tak ingin diantar oleh sopir. Elvina tahu, jika ia diantarkan sopir, maka para pengawal juga akan mengikutinya. Para pengawal sudah tahu jika Elvina tak suka dikawal hingga mereka membiarkannya menaiki taksi online. Saat jam istirahat, Elvina dan kedua temannya keluar dari gedung perkantoran untuk mencari makan. Namun saat melewati pos security di depan, Elvina melihat Rafael ada di sana. Ia segera turun dari mobil milik Sandra dan memintanya untuk pergi lebih dulu. Selanjutnya, ia bergegas menghampiri Rafael yang sedang berbicara dengan seorang security di sana. “Kak Rafa?” panggil Elvina dan Rafael langsung melirik kearahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN