Kecemasan Elvina

1208 Kata
“Itu Bu Elvina. Bapak bisa bicara langsung,” ucap security kepada Rafael. Rafael mengangguk, lalu mendekati Elvina. “Ikut aku sebentar. Barang-barangmu ada di mobil,” pintanya sambil meraih tangan Elvina, lalu membawanya menuju mobilnya yang tak jauh dari sana. “Kak Rafa kenapa gak masuk aja ke dalam kantor?” tanya Elvina saat sudah di dekat mobil Rafael. “Aku ada urusan tadinya. Mau langsung pergi tapi ... melihat kamu kayaknya aku gak jadi pergi.” Rafael menggoda dengan senyum manisnya. Ia lalu membuka pintu mobil untuk Elvina, setelah itu berlari kecil memutari mobil dan memasuki kursi pengemudi. “Sejak kapan bisa gombal gini?” sindir Elvina dengan tawa kecil menatap Rafael sambil memasang seatbelt. “Ayolah. Kamu mau makan?” tanya Rafael dan Elvina mengangguk. Mereka lalu keluar dari area kantor Abizard dan mulai menyusuri jalanan beraspal. “Aku bingung mau antar barang kamu ke mana. Kostan kamu 'kan gak tau, nomor teman-temanmu juga gak punya. Tadi pagi telepon Melia, tapi dia malah minta aku ke kantor kamu,” ungkap Rafael sambil sesekali menatap Elvina, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke depan jalan yang akan ia lalui. “Ayah Kak Rafa bilang apa?” tanya Elvina khawatir, tapi ia juga penasaran apa yang dikatakan Sukma kepada putra sulungnya itu. Tiba-tiba Rafael menepikan mobilnya di pinggir jalan, lalu memutar setengah tubuhnya untuk menghadap ke arah Elvina dan meraih tangannya. “Aku sangat berterima kasih sama Ayah karna sudah menyelamatkanmu. Secara tidak langsung, Ayah menjagamu untukku. Ayah bilang, pria yang bersamamu di hotel itu ... orang yang sudah ... maaf, membelimu dari seseorang. Pertanyaannya adalah, siapa yang melakukan itu padamu? Sayang ... aku mau kamu jujur. Izinkan aku membantumu,” jawab Rafael lemah lembut. Namun, siapapun yang melihat wajahnya, bisa menebak bahwa pria itu terlihat menyimpan amarah di matanya. Tentu saja! Ia tak akan membiarkan orang yang telah menjual tubuh Elvina kepada laki-laki itu, sedangkan laki-laki itu dibiarkan pergi. Sukma mengatakan, laki-laki itu tak bersalah karena ia hanya pembeli. Yang bersalah sepenuhnya adalah, orang yang telah menjual tubuh Elvina. Baik Sukma ataupun Rafael, mereka hanya tidak tahu jika laki-laki itu adalah kakak Elvina sendiri tapi Elvina tak ingin memberitahu kebenarannya. “Kak Rafa percaya itu? Jujur, Vina takut Kak Rafa berpikir yang tidak-tidak,” tutur Elvina masih dengan nada pelan, ia takut jika Rangga memberitahu yang sebenarnya. Rafael menggelengkan kepalanya. Tak sedikitpun ia mempunyai pikiran bahwa Elvina adalah perempuan yang tidak baik. “Mana mungkin, aku mencintaimu Vin. Aku percaya sama kamu. Lagipula, kalau kamu memang perempuan seperti itu, gak mungkin kamu berteriak meminta pertolongan,” jawab Rafael. Memang itu yang membuat Rafael dan Sukma percaya, bahwa Elvina hampir saja diperkosa oleh orang yang tidak dikenali. “Ayah Kak Rafa kok bisa ada di sana?” tanya Elvina penasaran, ia ingin menanyakan hal itu dari semalam tapi ponselnya saja tertinggal di hotel. “Ayah ada pertemuan dengan temannya di hotel itu. Ayah bilang, ia melihat kamu saat di lobby hotel. Ayah juga bilang, sempat berpikiran buruk tentang kamu yang datang ke hotel, tapi ayah sangat teliti. Ia mau tahu apa yang kamu lakukan di sana hingga ayah meminta orang untuk mengikuti kamu. “Lalu, Ayah mendapatkan laporan dari orangnya bahwa terdengar teriakan dari kamar yang kamu tempati. Sekarang katakan padaku, apa saja yang pria itu lakukan? Dia .... ” Rafael menggantung kata-katanya, menatap manik mata kecoklatan milik Elvina, tapi yang ditatap malah mengalihkan pandangannya. “Belum sempat. Dia bahkan gak sempat cium Vina,” jawab Elvina jujur tetapi ia tak sanggup menatap Rafael, tak mungkin ia memberitahu jika pria itu adalah kakaknya sendiri. “Lalu, apa yang dia lakukan? Ayah bilang kamu di dalam cukup lama,” tanya Rafael penasaran, ia terus menatap Elvina yang terlihat gugup. “Menampar, memukul, memaki,” lirih Elvina sesekali menatap Rafael lalu mengalihkan pandangannya kembali. “Sayang .... ” Rafael mendekati Elvina lalu memeluknya. Elvina pun membalas pelukan itu dengan hangat. Hanya Rafael yang mengkhawatirkannya. Sementara suaminya sendiri, tampak tak peduli atau lebih tepatnya terlambat untuk merasa khawatir. “Tolong ucapkan terima kasih sama ayahnya Kak Rafa,” pinta Elvina yang masih di dalam pelukan Rafael. “Justru aku yang harusnya berterima kasih sama Ayah, karena Ayah menyelamatkanmu. Jika tidak, aku gak bisa maafkan siapapun termasuk aku sendiri,” balas Rafael jujur, ia mencium puncuk rambut Elvina berulang kali. Tak henti merasa bersyukur karena Elvina baik-baik saja. “Kak Rafa 'kan gak tau apa-apa.” “Aku mau kamu disisiku Vin, di sampingku, selalu. Dengan itu, aku bisa lindungi kamu,” ungkap Rafael yang dimengerti Elvina. Ia ingin Elvina menjadi istrinya, tapi Elvina tak dapat menjawab apapun. “Bagaimana dengan kakakmu? Apa yang dia lakukan?” tanya Rafael terdengar kesal, yang ia maksud adalah William. Jika dirinya merasa ingin menghancurkan dunia atas musibah yang Elvina alami, seharusnya William lebih murka darinya, bukan? “Tentu marah. Dia minta orang-orangnya buat mencari cowok itu dan ... siapa yang menjual Vina sama dia,” jawab Elvina asal sambil melepaskan pelukan. “Baguslah. Aku yakin, Abizard tidak akan mengampuninya,” ujar Rafael terlihat lega. Rafael senang jika Abizard benar-benar akan menemukan pelakunya dan menghukum orang-orang yang terlibat. Tidak! William bahkan tidak tahu apa yang terjadi dengan Elvina. Namun, wanita itu hanya manggut-manggut seolah setuju dengan ucapan Rafael. “Kak Rafa bukannya ada perlu?” Elvina memperingati. “Biarkan aku bersamamu, Sayang. Bahkan, semalam aku mau tetap bersamamu. Apa boleh buat kakakmu menunggu, nanti gak dapat restu gimana?” jawab Rafael lemah lembut. Wajah Elvina seperti memakai blush on berlapis-lapis, tersipu malu. Senyumnya yang tak dapat ia tahan, muncul di bibirnya yang manis. Sayang? Manis sekali pikirnya. Tunggu! Rafael berharap restu dari pria yang ia ketahui sebagai kakak Elvina yang sebenarnya adalah suami wanita itu sendiri. Namun, lagi-lagi mustahil Elvina mengatakan yang sebenarnya. Rafael lalu melanjutkan perjalanannya menuju rumah makan. Kebetulan memang jam makan siang, ia pun juga merasa lapar. Saat mobil berhenti, Rafael bergegas keluar dan membukakan pintu untuk Elvina sambil tersenyum menyanjung. Kemudian, menggenggam tangannya tanpa rasa sungkan, membawanya ke dalam restoran. “Kamu gak pernah cerita Vin,” kata Rafael memecah keheningan sambil memotong steak di atas piringnya tanpa menatap Elvina. “Soal apa?” tanya Elvina bingung. Rafael menghentikan kunyahannya, menatap Elvina lekat lalu berkata, “Soal keluargamu. Aku seharusnya marah sama kamu karena kamu berhasil menipuku.” Tampaknya Rafael kecewa dengan kebenaran yang Elvina sembunyikan. Keluarga Elvina adalah keluarga terkaya di Jakarta. Yang dimaksudnya itu adalah William—Abizard Group, yang mengaku kakaknya Elvina saat William menjemputnya di rumah Rafael. “Hm ... bukan seperti itu Kak ... Vina—” Elvina gugup harus berkata apa. Rasa-rasanya ia tak memiliki kata-kata untuk membicarakan tentang William ataupun keluarga Abizard. “Tidak apa, aku tahu ada alasan dibaliknya. Kamu gak mungkin mau jadi seorang pengasuh, kalau tidak ada masalah di keluarga kamu. Tapi akhirnya, kamu bekerja di perusahaan keluarga kamu juga. Aku harap masalah keluarga kamu sudah membaik,” ujar Rafael yang lagi-lagi menganggap bahwa Elvina adalah keluarga William. Memang iya, Elvina keluarga William, istrinya dan bukan adiknya! Elvina hanya mengangguk pelan. Setelah makan siang selesai, Elvina memutuskan untuk kembali ke kantor menggunakan taksi. Ia tak enak jika Rafael mengantarkannya, sedangkan pria itu sedang ada urusan penting. Sesudah membawa barang-barangnya yang ada di mobil Rafael, Elvina segera memasuki mobil taksi dan meninggalkan Rafael.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN