Esoknya
Elvina sudah membulatkan hatinya untuk mengunjungi sang kakak, Rangga Wijaya. Ia rasa tak mungkin jika kakaknya itu bisa menyakitinya jika sedang berada di kantor. Ya ... Elvina ingin mengunjungi Rangga juga pamannya yang berada di Bandung. Ia sudah meminta izin kepada Dafa untuk tidak masuk kantor, ia beralasan tak enak badan.
Untuk yang pertama kalinya, Elvina meminta untuk ditemani oleh para pengawal Mehmed. Tentu mereka tidak keberatan, karena memang tugas mereka adalah melakukan pengawalan terhadap keluarga Abizard kemanapun mereka pergi. Meski para pengawal sempat merasa aneh atas permintaan Elvina, akhirnya mereka mematuhi perintahnya untuk mengantarkan Elvina ke perusahaan yang dipimpin Rangga di Bandung.
Tak dapat dipungkiri, Elvina takut terjadi sesuatu padanya nanti. Namun, ia juga tak bisa menahan diri untuk mencari tahu sebuah kebenaran tentang siapa dirinya. Sementara William, tak mengetahui apapun rencana Elvina.
Salah satu pengawal segera turun dari mobil yang ia tumpangi, bergegas membukakan pintu mobil untuk Elvina. Dengan perasaan tak menentu, Elvina berjalan anggun memasuki gedung perkantoran milik alm ayahnya.
Sejenak, ia mengingat kapan terakhir ia datang, yaitu saat peresmian Rangga untuk memimpin. Sebagai pewaris, Elvina diminta untuk menandatangani beberapa berkas tanda persetujuan Rangga yang menggantikan posisi ayahnya. Sejak saat itu, Elvina tak pernah menginjakkan kakinya lagi di sana. Bisa dikatakan, ia tak sudi untuk menghirup udara di sana karena ketidak adilan Rangga yang membuat Elvina tak ingin terlibat di dalam perusahaan, tidak ada niat sedikitpun untuk menjabat di sana.
Seperti yang kita ketahui, Elvina lebih memilih untuk menjadi seorang pengasuh Clara daripada memiliki jabatan di perusahaan ayahnya. Pun, Rangga tak pernah meminta Elvina untuk ikut campur urusan perusahaan membuat sang adik semakin malas.
Saat Elvina memasuki gedung perkantoran, tidak ada siapapun yang menyambutnya. Ya ... bahkan orang-orang yang berpapasan dengan Elvina tak mengetahui bahwa wanita itu adalah putri bungsu Wijaya, adik sang pemimpin perusahaan. Elvina tidak bertanya kepada siapapun di mana ruangan Rangga, tentu saja itu tidak perlu karena ia mengetahuinya.
Sementara itu, dua pengawal yang berjalan di belakang selalu sigap, tak henti mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah meski kepala mereka tegak menghadap ke depan, tetapi bola mata mereka tak diam guna mengetahui apapun yang akan terjadi kepada sang majikan. Khawatir jika ada seseorang yang menguntit atau mengintai untuk menyakitinya.
“Saya mau bicara dengan Pak Rangga,” ucap Elvina kepada seorang wanita yang berdiri di depan ruangan Rangga, wanita itu adalah sekretaris Rangga.
“Maaf, dengan siapa saya bicara? Apa Ibu sudah ada janji?” jawab sekretaris itu lemah lembut.
“Saya adiknya,” ungkap Elvina dengan nada malas.
“Adik?” Sekretaris itu terlihat bingung, menelisik Elvina dari ujung kaki hingga ujung kepala tak percaya.
Elvina tak heran, sudah dipastikan sekretaris Rangga yang baru ini tidak mengenalinya juga Elvina yakin, kakaknya tak pernah mengakui bahwa ia memiliki adik yaitu dirinya.
“Katatan bahwa seorang wanita yang bernama Elvina ingin menemuinya,” pinta Elvina dengan wajah tak tenang.
Elvina bosan menjawab pertanyaan dari beberapa security yang berada di setiap lorong menuju ruangan Rangga. Yang benar saja! Dirinya benar-benar merasa orang asing saat ini.
Sekretaris itu mengangguk pelan, lalu memasuki ruangan Rangga untuk meminta izin. Seperti yang Elvina tebak, Rangga tidak mengizinkannya untuk bertemu. Sekretaris itu menghampiri dan mengatakan bahwa Rangga tak ingin diganggu oleh siapapun.
Elvina menghela napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan sebelum ia meninggalkan tempat itu. Dengan langkah gontai penuh kecewa, ia keluar dari kantor tersebut dan melanjutkan perjalanan menuju rumah pamannya.
Tak henti Elvina berdoa dalam hatinya, berharap pamannya masih tinggal di rumahnya yang Elvina ketahui. Jika saja pamannya sudah pindah, maka ia tak akan mendapatkan penjelasan apapun tentang keluarga Wijaya.
Sementara itu, Elvina tak berniat untuk memberitahu Susan dan Safira tentang Rangga yang ingin menyetubuhinya, ia tak ingin menimbulkan masalah baru di keluarga Wijaya. Belum lagi yang ada dipikirannya adalah Safira, ia tak ingin membuat kakak iparnya itu terpuruk dan merasa bersalah atas apa yang dilakukan Rangga terhadapnya.
Sampainya di rumah sang paman. Untung saja pamannya itu masih tinggal disana dan seorang security segera membukakan gerbang untuk Elvina dan beberapa mobil pengawalnya untuk masuk.
“Kalian tunggu di sini,” pinta Elvina kepada para pengawalnya.
“Tidak, Nyonya. Biarkan saya ikut bersama Nyonya, sedangkan yang lain menunggu di luar,” jawab ketua pengawal.
Tampaknya ia begitu khawatir kepada Elvina. Untuk yang pertama kalinya Elvina meminta pengawalan, artinya menantu Abizard satu-satunya itu mengkhawatirkan sesuatu dan tentu ia ikut khawatir.
“Ini rumah paman saya. Jangan ada yang ikut masuk,” pinta Elvina yang kali ini tidak ingin dibantah.
Segera, Elvina memasuki rumah pamannya itu setelah seorang asisten rumah mempersilakan untuk masuk. Asisten itu mengantarkan Elvina ke ruang keluarga, di mana paman Elvina juga istrinya ada di sana. Mereka sangat kaget atas kedatangan Elvina. Bagai melihat sebuah ancaman, mereka terdiam dan menatap heran.
“Om Agung? Tante Mira?” panggil Elvina membuat paman dan istrinya terkesiap.
“Ayu .... ” Agung segera berdiri dan mendekati Elvina. Saat tepat di dekat pamannya, Elvina langsung mencium punggung tangan paman dan istrinya.
“Untuk apa kamu ke mari?” tanya Mira bernada ketus, tampak dari raut wajahnya pun tak menyukai kedatangan Elvina.
“Mah.” Agung memperingati istrinya. “ayo, kita duduk.” Lalu meminta Elvina untuk duduk bersama.
“Mama mau ke atas,” ketus Mira yang segera melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, meninggalkan Elvina dan Agung.
Elvina termenung, menatap kepergian tante iparnya. Tentu Agung menyadari itu. Ia berkata, “Tidak apa-apa. Duduklah.”
Mereka berdua lalu duduk berhadapan. Tampaknya Agung pun seperti Mira, tak menyukai atas kedatangan Elvina. Ia berkata langsung pada intinya, “Ada masalah apa? Keluarga Abizard? Jangan bilang kamu tidak nyaman dengan mereka dan—”
“Bukan Abizard, tapi Wijaya,” potong Elvina dengan cepat, membuat sang paman menatap bingung.
“Ayu pikir, hubungan Om sama Papa dimasa lalu gak sampai berdampak sama anaknya. Om ... Ayu butuh sosok Papa. Bisakah Om jadi pengganti Papa sebentar aja?” Elvina sudah mempersiapkan diri untuk tidak menangis, akan tetapi usahanya sia-sia saja, karena ia tetap menangis mendapatkan respon dari paman dan istrinya yang terlihat tak suka dengan kedatangannya.
Agung menatap iba mendengar penuturan Elvina. Ia berdiri, lalu duduk di samping keponakannya itu. Pria itu menghela napas dan menghembuskan dengan kasar, sedangkan Elvina sibuk menghapus air matanya yang hendak menetes.
“Kenapa dengan keluarga Wijaya?” tanya Agung yang terdengar bingung untuk bicara.
“Siapa Ayu? Ayu cuma mau tau, siapa ayu sebenarnya. Hanya itu. Setelah itu, Ayu gak peduli lagi,” kata Elvina sambil menangis.