“Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu? Apa penyebabnya?” Agung dibuat bingung dengan pertanyaan Elvina yang baru pertama kali ia tanyakan kepada dirinya.
Biasanya Elvina menanyakan hal itu kepada Susan, ibunya. Namun, susan tak pernah menjawab dengan mulut melainkan dengan pukulan dan tamparan. Kali ini, Elvina ingin mendengar jawaban pamannya yang merupakan adik kandung ayahnya, Toni Wijaya.
“Kak Rangga ... dua hari lalu, Kak Rangga datang ke Jakarta, trus minta ketemu di hotel. Ayu tau Kak Rangga gak pernah suka sama Ayu, gak pernah anggap Ayu adiknya, Ayu tau. Tapi ... kalau sampai mau ... paksa Ayu buat gituan sama Kak Rangga, salah 'kan, Om?” jawab Elvina yang terasa sulit untuk mengungkapkannya hingga beberapa kali ia menahan napasnya.
“Apa?! Rangga—” pekik Agung tak percaya dengan pendengarannya.
“Kak Rangga hampir perkosa Ayu, Om .... ” Kini Elvina tak bisa menahan tangis lagi dan ia menangis cukup keras saat ini.
Sedangkan Agung menegang, wajahnya mengartikan amarah, bola matanya terus bergerak ke kanan dan ke kiri seolah bingung kata apa yang harus ia ucapkan.
“Lalu Abizard? Apa yang akan mereka lakukan kepada Rangga?” Hanya pertanyaan itu yang dapat keluar dari mulut Agung.
Agung sendiri tahu, perjanjian antara Susan dan Mehmed saat pernikahan Elvina dan William akan dilangsungkan. Jika keluarga Wijaya berani mengganggu keluarga Abizard terutama Elvina, maka Mehmed tak akan bisa dan tak akan pernah mengampuninya.
“Ayu gak pernah ceritain sama siapapun. Om ... Ayu udah dewasa sekarang, ayu udah nikah. Ayu tau Kak Rangga benci Ayu, tapi seorang kakak gak mungkin sampe segitunya. Sekarang Ayu mau tanya, Ayu ini siapa? Ayu bukan anak Mama Susan sama Papa Toni? Kalau iya, lalu Ayu anak siapa? Siapa orangtua Ayu? Kasih tau Ayu, Om ..., ” cecar Elvina, berharap mendapatkan penjelasan yang tak pernah ia ketahui selama ini.
“Kalau kamu bukan anak Toni, lantas mengapa Om yang jadi wali nikah kamu mewakili Toni? Sudahlah. Kamu sudah menikah sekarang, tidak seharusnya kamu masih berhubungan dengan keluarga Wijaya. Ma—maksud Om ... seperti yang kamu tau, Rangga ingin mencelakaimu, artinya kamu jangan pernah mau bertemu dengan keluarga Wijaya lagi,” jawab Agung seolah tak peduli, ia bingung karena tak mempunyai kata-kata yang akan ia jawab.
Elvina membelalakkan matanya menatap Agung. 'Tidak seharusnya kamu masih berhubungan dengan keluarga Wijaya'. Apa maksud pamannya itu? Kata-kata itu begitu aneh di telinga Elvina.
“Om ..., ” panggil Elvina lirih.
“Om sudah katakan yang sejujurnya. Kamu anak kandung Toni.” Agung menekankan ucapannya.
“Lalu, kenapa Kak Rangga benci sama Ayu? Mama Susan juga Om ... sejak dulu, sejak Ayu kecil,” jerit Elvina kecewa karena tak mendapatkan jawaban yang pasti.
“Om tidak tau. Kamu bisa pergi,” usir Agung.
“Apa ..., ” lirih Elvina saat melihat Agung berdiri, lalu meninggalkannya seorang diri setelah tanpa sungkan mengusir dirinya.
Elvina semakin bingung dengan keluarganya sendiri, keluarga Wijaya. Ia tahu alm.ayahnya dan Agung memiliki masalah di masa lalu. Entah apa masalahnya, yang jelas Agung tak pernah menyukai keluarga Toni termasuk Elvina sendiri. Tak ingin berlama-lama lagi, Elvina bergegas keluar dari rumah pamannya itu dan kembali ke Jakarta.
Hanya tiga hari Elvina menginap di rumah mertuanya. Elvina membulatkan keputusannya untuk kembali ke apartemen. Alasannya karena jarak dari rumah mertuanya menuju kantor sangatlah jauh, sedangkan jika dari apartemen ke kantor hanya membutuhkan waktu 15 menit. Ia meyakinkan dirinya sendiri, jika Rangga tak akan menggangunya lagi, mungkin.
Minggu-minggu berlalu.
Elvina sudah terbiasa dengan pekerjaannya yang menguras akal dan pikirannya. Ia sudah sangat akrab dengan teman-teman sesama sekretarisnya terutama dengan Sandra dan Tania. Kalau Tania jangan ditanya lagi! Tania dan Sandra bahkan sempat menginap di apartemen Elvina.
Seperti rencana mereka yang ingin menonton drama Korea hingga larut Malam dan dilanjutkan setelah bangun tidur. Mereka bahkan tidak peduli dengan pasangannya masing-masing karena terlalu asik menonton drama Korea kesukaannya.
Suatu hari saat pulang kantor, Elvina ingin menemui Rafael dan Clara di sebuah restoran. Hari itu, Rafael menghubungi Elvina untuk bertemu. Kebetulan, Rafael akan melewati kantor Elvina bekerja untuk mengantarkan Clara ke rumah ibunya. Elvina menyanggupi ajakan Rafael, karena ia tahu waktunya hanya sebentar untuk bertemu gadis kecilnya itu.
“Mama,” panggil Clara antusias dan Elvina langsung memeluk gadis kecilnya itu juga mencium kedua pipinya dengan gemas.
“Kak Rafa sudah nunggu lama?” tanya Elvina tak enak. Pekerjaannya lumayan banyak, sehingga ia pulang paling terakhir.
Rafael tersenyum seolah meminta Elvina untuk tidak perlu merasa bersalah seperti itu. “Tidak juga. Sepuluh menit yang lalu mungkin,” jawabnya tak masalah. Elvina segera menggeser kursi untuk ia duduki di sebrang Rafael.
“Mama cantik. Papa bilang, Mama sekarang kerja?” celoteh Clara memandangi Elvina dengan perubahannya yang sangat mencolok.
Jika saat menjadi pengasuh Elvina hanya memakai foundation dan bedak saja, tidak saat Elvina bekerja di kantor, ia ber-make up lengkap tapi tipis. Maskara yang ia pakai di bulu mata lentik dan lebatnya, membuatnya hampir seperti bulu mata palsu. Belum lagi pakaian kantor yang belum pernah Clara lihat, membuat gadis kecilnya semakin terpaku. Bisa diperkirakan jika Rafael berkali-kali lipat lebih terkagum-kagum karena dengan perubahan Elvina, membuatnya semakin terlihat dewasa.
“Iya Sayang, Mama sekarang kerja, jadi gak bisa temenin kamu. Maaf, ya?” ungkap Elvina sambil membelai pipi Clara, merasa tak enak.
Clara menggeleng dan tersenyum. “Tapi Mama, tetep Mama aku 'kan?” tuntutnya tak ingin Elvina menjadi orang lain meskipun mereka jarang bertemu.
“Tentu, emang Mama kamu ada lagi?” Elvina penasaran. Mungkin saja Rafael memiliki kekasih karena bosan menunggu dirinya, bukan?
“Mama Clara hanya satu.” Bukan Clara, tapi Rafael yang menjawabnya. Elvina menatap Rafael yang sedang menatapnya. Rafael melanjutkan, “kamu.”
Elvina tersenyum manis mendengar ucapan Rafael yang menegaskan bahwa hanya dirinya yang akan menjadi ibu Clara. Selanjutnya, mereka memesan makanan juga minuman dan memulai ritual makannya. Namun seperti biasanya, Elvina lebih fokus menyuapi Clara karena gadis kecilnya itu belum bisa makan dengan benar. Selain itu, Elvina juga memang sedang ingin memanjakan Clara karena jarang sekali ia dapat bertemu.
“Aku harap kamu tetap menjadi ibu Clara walaupun ... mungkin nantinya kamu nikah sama pria lain atau bahkan sebaliknya,” harap Rafael setelah memulai makannya. Sejujurnya, hatinya sangat amat teriris mengucapkan itu, tapi ia berusaha mengendalikannya.
“Tentu, Kak. Clara anak Vina dan akan tetap menjadi anak Vina. Udah Vina tanamkan di hati Vina sejak pertama ketemu Clara, tapi mungkin keadaannya akan berubah kalo Kak Rafa menikah lagi. Maksudnya ... nanti istri Kak Rafa yang jadi ibunya Clara,” ungkap Elvina tanpa berani menatap Rafael.