Rasanya Elvina tak kuasa jika harus bertabrak pandangan dengan pria itu. Bagaimana bisa ia tetap menjadi ibunya Clara jika Rafael menikah dengan wanita lain? Jauh di lubuk hatinya, Elvina tak rela. Namun, ia juga tak bisa mengunci hati Rafael hanya untuknya. Ia pun bingung dengan pernikahan dan perasaan untuk Rafael yang tak dapat ia balas.
“Sepertinya kamu harus di fotocopy, yang satunya biar nikah sama aku secepatnya,” canda Rafael dan mereka pun tertawa bagai sedang menonton acara comedy. Padahal, hati keduanya sama-sama terluka, Elvina bahkan menjerit dan berteriak saat itu juga di dalam hatinya.
“Oh ya, aku mau kamu hadir di pernikahan adikku, Franz. Bunda sudah berharap banget kamu bisa hadir,” tutur Rafael.
“Oh iya, kapan Franz nikah?” tanya Elvina, ia memang tahu jika adik Rafael yang bernama Franz akan segera menikah. Rafael pernah membicarakan itu saat di telepon, tetapi Elvina lupa akan tanggalnya.
“Hari Minggu. Kamu mau hadir? Biar aku yang jemput kamu. Kita langsung ke hotel saja, ke tempat resepsinya,” ajak Rafael dengan semangatnya.
Elvina manggut-manggut menyetujuinya. “Boleh,” jawabnya tidak keberatan.
Rafael senang bukan main mendengar jawaban Elvina. “Kalau gitu, setelah ini kita ke butik Bunda, biar kamu yang pilih sendiri gaun yang mau kamu pakai nanti.” Rafael memberi saran yang terdengar seperti keputusannya sendiri.
“Bunda punya butik?” Elvina mengernyitkan keningnya kaget dan Rafael mengangguk pelan. Elvina memang tidak tahu bahwa Martha memiliki butik.
Setelah makan selesai, mereka keluar dari area restoran dan memasuki mobil Rafael yang berwarna merah. Rafael membawa Elvina menuju butik milik ibunya, Martha. Tempatnya cukup jauh, tetapi Elvina tak keberatan karena ia sangat merindukan Clara. Cukup sulit untuk menghabiskan waktu dengannya lagi karena sekarang ia sudah bekerja.
Sepanjang perjalanan, Clara tak henti bicara kepada Elvina. Gadis kecil itu menceritakan tentang sekolah dan teman-temannya, juga tentang ayahnya yang sering memarahinya karena sering mencorat-coret berkas miliknya. Sedangkan Rafael hanya bisa diam, putrinya itu tidak memberinya kesempatan untuknya bicara sehingga Elvina terus tertawa geli melihat raut wajah Rafael yang terlihat kesal dan pasrah.
Sampainya di tempat tujuan, Rafael memarkirkan mobilnya lalu keluar dan membuka pintu mobil untuk Elvina. Ia langsung menggenggam tangan Elvina layaknya sepasang kekasih, Elvina juga tidak berniat untuk melepaskannya. Sejenak, Elvina terpaku melihat butik milik Martha begitu luas dan besar, terlihat sangat megah dan mewah. Mereka segera masuk ke dalam butik setelah seorang security menyapa Rafael selaku putra pemilik butik tersebut.
“Hey? Vina ... ya ampun, Bunda gak salah lihat, 'kan? Kamu sudah kerja?” tanya Martha bertubi-tubi seraya tersenyum menghampiri.
“Iya, Bun. Ini baru pulang,” jawab Elvina seadanya. Dirinya memang masih berpakaian kantor, tak heran jika Martha sudah dapat menebaknya.
“Vina baru pulang, langsung Rafa culik ke sini,” timpal Rafael.
Martha tersenyum seraya menggeleng pelan. “Ayo masuk,” ajaknya pada Elvina. Lalu, melirik ke arah Clara dan berkata, “uh cucu Nenek.” Martha segera menggendong Clara, juga membawa Rafael dan Elvina menuju sofa. Segera, ia memanggil seorang karyawan untuk membawakan minum.
“Bun, biar Vina yang pilih gaun buat nanti hari Minggu,” kata Rafael.
“Vina mau hadir? Makasih loh, Vin.” Martha tersenyum senang mengetahui itu.
Martha lalu memanggil dua karyawannya untuk membantu Elvina mencari gaun yang cocok untuknya. Ditemani Clara, ah tidak! Clara hanya berlari ke sana ke mari mengelilingi butik milik neneknya, sehingga beberapa kali Elvina memperingati gadis kecil itu dan yang diperingati hanya tertawa renyah. Martha dan Rafael ikut tertawa karena keakraban Elvina dan Clara yang tampak tak peduli di depan siapapun dan di manapun.
Mengelilingi butik milik Martha, Elvina melihat pakaian di sana sangat bagus dan berkelas. Tidak diragukan lagi, harganya pun sangat tinggi dan jangan berharap Elvina pernah membeli dress semahal itu. Dress yang terpajang sepertinya dikhususkan kalangan atas karena desainnya yang terlihat simple tetapi rumit saat membuatnya. Namun dari banyaknya dress yang Elvina lihat, tidak ada satu pun yang membuatnya benar-benar menyukainya.
Terlepas dress di sana sangatlah bagus, tetapi ada yang membuat Elvina tak nyaman, yaitu potongan dress itu sendiri. Bagian dadanya sudah dapat diperkirakan akan terekspos tanpa mencoba memakainya terlebih dahulu. Dan jujur, Elvina tak biasa dan tak akan nyaman menggunakan dress seperti itu. Untuk kebanyakan wanita modern memakai pakaian seperti sudah biasa, tetapi tidak dengan Elvina yang tak pernah mengikuti trend fashion.
Setelah hampir setengah jam mengelilingi butik tersebut, akhirnya Elvina menunjuk salah satu dress untuk ia coba. Dress itu terlihat elegan, desainnya sendiri tidak berlebihan atau bisa dikatakan sederhana tapi sangat cantik. Elvina segera memasuki kamar ganti untuk mencoba dress yang ia pilih. Salah satu karyawan membantunya untuk memakaikannya.
“Sayang, tolong! Kamu bisa rusakin gaunnya, loh. Kamu ini ... argh,” geram Elvina ketika Clara menarik gaun yang sedang ia coba saat ia keluar dari kamar ganti.
“Wle” Clara menjulurkan lidahnya sambil menjauhi Elvina. Senyum riang menghiasi wajahnya yang mungil, senang telah membuat ibu angkatnya itu kesal.
“Rafa.” Martha menyikut tangan Rafael agar melihat ke arah Elvina.
“Cantik,” puji Rafael menatap Elvina, lalu menatap Martha dengan senyum yang merekah di bibirnya.
Martha berdiri, mendekati Elvina. “Sudah pas?” tanyanya sambil memperhatikan gaun yang indah di tubuh Elvina.
“Kayaknya terlalu terbuka,” desah Elvina memegang dadanya yang terekspos.
Sebenarnya tidak terlalu terbuka. Namun, Elvina hampir tidak pernah memperlihatkan bagian dadanya yang menurutnya gaun itu terlalu terbuka untuknya.
“Nggak kok. Kamu emang gak pernah pakai gaun seperti ini? Seperti ini standar loh sebenarnya. Coba lihat gaun lain, lebih terbuka tapi banyak yang pakai,” jawab Martha tak setuju dengan lontaran Elvina.
Elvina memang sudah mencari gaun yang tidak terlalu terbuka dan sepertinya ini yang lebih cocok dibanding yang lain. Pada akhirnya, Elvina memutuskan untuk memilih gaun itu untuk ia bawa pulang.
Karena hari sudah mulai gelap, Elvina berpamit untuk pulang. Sempat bersitegang dengan Rafael karena pria itu ingin mengantarkannya pulang, tetapi Elvina keras kepala ingin pulang menggunakan taksi. Rafael mengalah, akhirnya Elvina pulang seorang diri memakai taksi, ia tak ingin Rafael tahu di mana apartemennya. Akan sulit menghindari jika tiba-tiba Rafael mengunjungi apartemennya atau sekadar akan menjemput Elvina untuk berangkat ke kantor.