Esoknya di kantor Abizard Group
Elvina sedang duduk di mejanya, menatap layar komputer, jari-jarinya menari-nari di atas keyboard. Suara sepatu wanita yang diinjak-injakan terdengar dari kejauhan. Elvina tak mengindahkannya, sampai seorang wanita berdiri di hadapan mejanya.
“Apa Dafa ada di dalam?” tanya wanita itu.
Wanita itu tersenyum ramah. Penampilannya sederhana, tidak bisa dinilai rendah ataupun tinggi. Namun, tentu penampilan serta apapun yang menempel di tubuhnya, lebih rendah dari Elvina. Tubuhnya sedikit gemuk, kulitnya tak putih juga tak hitam, khas wanita Indonesia pada umumnya atau lebih dikenal sawo matang.
“Maaf, apa Ibu sudah ada janji?” tanya Elvina lemah lembut setelah berdiri dengan anggun.
“Tidak, maksudnya belum. Dafa tidak tau saya akan menemuinya,” jawab wanita itu tanpa rasa canggung. Bibirnya terus melengkungkan senyuman, tanda ia adalah wanita yang bermurah hati.
“Boleh saya tahu, siapa nama Ibu?” tanya Elvina ramah.
“Naina.” Sekali lagi, wanita itu tersenyum manis setelah menjawab.
“Sebentar.” Elvina ikut tersenyum, lalu memasuki ruangan Dafa.
Saat itu, Dafa sedang sibuk dengan berkas-berkasnya. Namun mendengar siapa yang ingin menemuinya, ia segera menutup berkasnya dan dengan semangat meminta Elvina untuk memberi izin wanita yang ingin menemuinya untuk masuk.
“Silakan masuk. Maaf membuatmu menunggu,” kata Elvina pada wanita itu, merasa malu. Karena dari respon Dafa, ia bisa menebak begitu berharganya wanita yang ingin menemuinya.
“Tidak masalah. Kamu sekretaris baru Dafa?” tanya wanita itu penasaran, tetapi tak ada raut kesal karena menunggu. Sebaliknya, ia bertanya dengan lembut.
“Ya.” Elvina mengangguk satu kali atas pertanyaan wanita itu. Sebenarnya Elvina sudah berbulan-bulan bekerja, tetapi ia tak pernah bertemu dengan wanita itu.
“Kak Naina,” panggil Sandra yang baru saja datang, ia habis dari toilet.
“Sandra.” Wanita itu balas menyapa. Kemudian, ia dan Sandra melakukan jabatan tangan dan cium pipi kanan dan kiri.
“Udah lama gak ke sini. Sibuk?” tanya Sandra pada wanita itu.
“Lumayan. Aku permisi,” pamit wanita itu pada Sandra. Selanjutnya, wanita itu masuk ke dalam ruangan Dafa.
“Siapa?” tanya Elvina pada Sandra. Ia benar-benar penasaran dengan wanita itu.
“Tunangannya Pak Dafa,” jawab Sandra jujur.
“Buset. Mampus gue.” Elvina memukul keningnya sendiri, raut wajahnya langsung menegang.
“Kenapa?” Sandra bingung.
“Gue 'kan gak tau.” Tiba-tiba saja Elvina menggerutu, tapi tak mengatakan yang lainnya. Dirinya malah langsung duduk dengan lesu.
“Terus?” Sandra semakin penasaran, duduk di samping Elvina sambil menatapnya dengan tatapan intimidasi.
“Gue suruh nunggu dulu tadi. Ya gue ke dalem dulu minta izin,” desis Elvina merasa bersalah.
Sandra memutar bola matanya dengan malas lalu berkata, “Yaelah. Siap-siap aja lo kena semprot. Pak Dafa ganas kalo soal tunangannya.”
“Lah, ya 'kan gue gak tau Dra.” Elvina langsung frustasi sendiri. Ditambah teman biadabnya itu malah terus menyudutkannya.
“Mampus. Gue gak bisa belain lo.” Sandra berdecih dengan sinis, bergaya seolah ia merasa puas jika Elvina mendapat masalah. Memang teman gak ada akhlak.
“Malah nyalahin gue, 'kan? Orang dia gak bilang kalo dia tunangannya Pak Dafa,” rengek Elvina seperti anak kecil yang sedang mencari perlindungan.
“Mampus pokoknya mampus. Gue yakin, lo liat penampilan dia, 'kan? Makanya lo gak percaya kalo dia tunangannya Pak Dafa?” tebak Sandra langsung pada intinya.
“Kenapa emang?” Elvina enggan berterus terang tentang penilaiannya terhadap penampilan tunangan Dafa, Naina.
“Tapi gue gak bermaksud kayak gitu.” Elvina merengek lagi, takut-takut ia benar-benar kena makian Dafa karena membuat tunangannya menunggu.
“Muka lo biasa aja. Lagian, Kak Naina gak suka ngadu.” Akhirnya, Sandra tak tega juga melihat Elvina. Otak wanita itu sudah tidak sehat, Sandra hanya tidak ingin membuat temannya semakin tidak sehat.
Elvina sedikit merasa lega walaupun tetap saja ia merasa tak enak. Memang, hampir semua petinggi kantor Abizard memiliki sifat angkuh dan berkuasa. Siapapun yang berani menyinggungnya, sama saja mencari jalan untuk berhenti bekerja di sana.
Setelah cukup lama Naina berada di dalam ruangan Dafa, mereka keluar bersamaan. Tentu sambil menggenggam tangan satu sama lain. Elvina yang saat itu sedang duduk, langsung bangkit dan menghampiri Dafa juga Naina.
“Bu Naina ... maaf tadi membuatmu menunggu. Saya tidak tau bahwa Ibu adalah tunangannya Pak Dafa. Sekali lagi, saya minta maaf,” kata Elvina sambil menundukkan kepalanya, merasa tak berani menatap Naina apalagi Dafa.
“Tidak!” pekik Naina segera mendekati Elvina, lalu melanjutkan ucapannya dengan gugup, “ti—tidak perlu seperti itu. Kamu gak seharusnya meminta maaf. Saya paham kamu belum kenal saya.” Naina mengusap lengan Elvina dengan lembut, membuat Elvina bingung sendiri dengan keramahan Naina.
“Sekali lagi, saya minta maaf. Di masa depan, saya tidak akan membuatmu menunggu lagi, Bu.” Elvina tetap rendah hati, tak ingin dinilai sebagai sekretaris yang tak tahu diri.
Di sisi lain, Naina menatap Dafa dengan bingung. Hal itu tentu tak diketahui Elvina karena Elvina sedang menundukkan kepalanya. Kali ini Dafa yang berkata, “Tidak masalah, Elvina. Untuk apa kamu mengkhawatirkan itu?”
“Sandra bilang, Bapak bisa jadi singa kalau membuat Bu Naina gak nyaman,” jawab Elvina pelan, terdengar sangat hati-hati. Memang itu yang membuatnya mendadak frustasi, karena ucapan Sandra yang memprovokasinya.
Dafa menghela napas kasar. Andai Sandra sedang ada di sana, ia ingin sekali memelototinya. Namun, saat itu Sandra sedang di dalam ruangannya dan Elvina yang yang duduk di meja depan. Dafa berkata, “Lupakan.”
“Jangan pernah lakukan itu lagi padaku. Jangan pernah meminta maaf. Mengerti?” pinta Naina terdengar menegaskan, tetapi masih dengan nada lembutnya.
“Terima kasih.” Elvina mengangguk, sedikit menegakkan kepalanya lalu tersenyum.
“Saya akan kembali beberapa jam lagi,” kata Dafa pada Elvina.
“Baik,” sahut Elvina. Lalu, Dafa dan Naina pun pergi.
Beberapa saat yang lalu, di dalam ruangan Dafa.
Dafa menceritakan tentang Elvina, tentang siapa statusnya saat ini. Naina sangat tercengang sekaligus prihatin. Mendengar cerita pernikahan yang tak bahagia antara Elvina dan William. Lalu Elvina yang bekerja sebagai sekretaris Dafa, tetapi William sendiri tak mengetahuinya dikarenakan tidak tinggal di tempat yang sama.
Sungguh, hatinya merasa kecil jika dibandingkan dengan Elvina, istri seorang pemimpin perusahaan besar, menantu sekaligus putri angkat Mehmed dan Amy, harus bekerja di kantor suaminya sendiri dengan cara sembunyi-sembunyi?
Melihat sendiri bagaimana ramahnya Elvina, Naina yakin Elvina adalah wanita yang baik juga rendah hati. Tentu saja malah Naina yang merasa tak enak saat Elvina meminta maaf padanya sebagai tunangan dari bosnya. Padahal, status Elvina jauh lebih tinggi, bahkan Dafa sekalipun.