Menghadiri Pesta

1061 Kata
Beberapa hari kemudian—Hari Minggu Elvina mengunjungi sebuah salon untuk meminta bantuan make up dan hair stylist karena dirinya memang tak pandai berdandan untuk acara resmi. Menggunakan make up cukup tebal tetapi sesuai permintaannya, ia tak ingin terlalu mencolok dan memilih warna natural. Rambut yang sudah disanggul longgar dan membiarkan beberapa bagian terurai menggantung. Dress yang ketat membentuk tubuh idealnya dengan potongan terbuka rata di d**a hingga bahunya, menampilkan bahu yang rata seperti manekin. Rafael tiba untuk menjemput sebelum Elvina selesai dirias dan dengan senang hati menunggunya. Di tempat lain, Clara sudah berada di hotel bersama keluarganya. Tampak Rafael menggunakan jas berwarna yang sama dengan gaun Elvina yaitu warna Navy, ia terlihat berkali lipat sangat tampan bahkan seperti ialah yang akan menikah dan bukan adiknya. 30 menit Rafael menunggu, akhirnya Elvina selesai mempercantik diri dan segera menghampiri pria itu yang sedang duduk dengan tenangnya. Rafael langsung berdiri sambil tersenyum, tak sungkan ia meraih tangan Elvina untuk ia genggam dan ia tuntun keluar. Tak lupa ia juga membukakan pintu mobil untuk Elvina masuki, setelah itu baru ia ikut masuk di sisi lain. “Hm ... Kak ... nanti jangan jauh-jauh, ya?” pinta Elvina ragu-ragu. “Kenapa?” Rafael mengerutkan keningnya, merasa bingung juga aneh atas permintaan Elvina. “Takut jatuh. Heels Vina ketinggian Kak, tapi Bunda bilang udah serasi sama gaunnya,” desis Elvina yang tak biasa memakai heels 8cm. Rafael tersenyum dan menggeleng pelan. “Harusnya aku yang bilang seperti itu, jangan jauh-jauh dariku karena mungkin banyak pria yang ingin menculik kamu dari aku,” jawabnya sekenanya. “Vina menor, ya? Atau terlalu terbuka? Vina gak mau malu-maluin Kak Rafa,” terang Elvina tak percaya diri. Sejujurnya, ia hampir tak pernah menghadiri acara resmi. Ibunya, Susan, tak pernah mau membawa Elvina untuk menghadiri undangan apapun. Elvina hanya menghadiri acara resmi undangan dari teman-temannya saja walaupun tak sering. “Kamu over,” jawab Rafael singkat. “Over menor? Serius, Kak? Vina gak jadi ikut deh.” Elvina panik sendiri dan Rafael malah tersenyum gemas melihat gelagat Elvina yang super polos itu. “Over cantik. Aku yakin, banyak wanita yang iri nanti sama kecantikan kamu, juga banyak yang iri karena aku yang membawa kamu ke sana,” goda Rafael membuat pipi Elvina merah merona. Ia sangat malu juga gugup mendengar pujian dari Rafael yang tulus ia ucapkan. Sampainya di hotel yang dituju, tampak beberapa pria penerima tamu dengan pakaian yang rapi menyambut kedatangan Rafael selaku kakak dari mempelai pengantin pria. Rafael meminta Elvina untuk menggamit lengannya dan Elvina merutinya. Rafael menuntun Elvina menuju ballroom hotel, tempat dimana resepsi pernikahan diadakan. Kini Elvina melihat pelaminan serta kedua orangtua Rafael dan kedua orangtua mempelai wanita dan tentu pengantinnya juga di sana. Rafael terus membawa Elvina menuju pelaminan untuk bersalaman dengan semua orang yang berdiri di sana. Mendadak semua orang memperhatikan Elvina yang berada di samping Rafael. Bagaimana tidak? Rafael tidak pernah membawa siapapun untuk menghadiri acara-acara resmi bahkan almarhum istrinya pun tak pernah ikut. Namun sekarang, ia membawa seorang wanita yang sangat cantik yang ia cintai walaupun tanpa status. “Terima kasih sudah datang. Kamu cantik sekali, gaunnya cocok untukmu,” puji Martha membalas salam Elvina seraya tersenyum. Begitupun Sukma yang memasang wajah tersenyum membalas uluran tangan Elvina. Elvina lalu menyalami sepasang pengantin. “Cepat nyusul Kak, nanti diambil orang,” bisik mempelai pria kepada Rafael dan kakaknya itu tidak ingin menjawab apapun. Bukan tak ingin, tetapi apa boleh buat Elvina tak pernah menerima perasaannya dan ia tak ingin memaksa. “Kak, terima kasih sudah datang,” ucap mempelai wanita seraya tersenyum juga mempelai pria yang tak kalah menghormati Elvina sebagai kekasih Rafael, begitulah tanggapan keluarga Rafael. “Kak? Kayaknya tuaan dia deh,” batin Elvina geli mendengar panggilan dari kedua pengantin memanggilnya dengan sebutan 'kak'. Selanjutnya, Rafael membawa Elvina menghampiri sebuah meja yang diisi rekan-rekannya, lalu ikut duduk diantara mereka. Elvina menjabat semua tangan rekan-rekan Rafael untuk berkenalan. Tentu saja, semua rekan-rekan Rafael tak percaya dengan apa yang dilihatnya hari ini. Elvina begitu muda untuk Rafael. Hal itu membuat rekan-rekannya merasa iri, belum lagi Elvina memiliki wajah yang sangat cantik berbentuk oval dan leher yang jenjang. Namun, yang diperhatikan banyak orang malah menyembunyikan kegugupannya dengan memainkan ponselnya sambil menundukkan wajahnya. Tiba-tiba, seorang wanita datang menghampiri Elvina setelah cukup lama duduk dan membeo disana. Wanita itu berkata, “Kak Rafa, Vina, ikut sebentar bisa?” pinta Natalia tetapi Rafael langsung menatap tak suka ke arah sang adik. Rafael menghukum Natalia dengan cara tidak bicara sama sekali setelah adiknya itu menyakiti Elvina beberapa bulan yang lalu. Begitupun Elvina yang masih trauma, ia menatap Rafael berharap membantunya untuk bicara. “Nata?” Rafael memperingati dan meminta Natalia untuk pergi dengan isyarat matanya. “Sebentar aja kok. Vina please .... ” Permohonan Natalia yang terdengar lembut seraya memegang tangan Elvina. Merasa tak enak jika menolak, akhirnya Elvina menyanggupinya. “Oke,” jawabnya singkat lalu hendak berdiri. “Vin, tidak perlu.” Rafael menghentikan Elvina untuk tidak ikut dengan Natalia, ia sendiri tidak yakin apa yang akan dilakukan Natalia. Ia tak ingin adiknya itu membuat masalah di pesta pernikahan adiknya yang lain, yang juga kakak Natalia. “Gak apa-apa, Kak, sebentar aja.” Elvina tak enak kepada Natalia. Rafael hanya memperhatikan ke mana Elvina dan Natalia pergi. Dengan langkah pelan, Elvina mengikuti Natalia karena takut terjatuh dari heels-nya. Natalia membawa Elvina ke sebuah ruangan dan menutup pintu ruangan tersebut, lalu menatap Elvina dan memegang tangannya dengan lembut. “Vin, sorry ya soal waktu itu? Sumpah gue gak bisa kontrol emosi gue. Gue paling gak bisa liat Kak Rafa sakit hati lagi. Lo tau 'kan cerita Kak Rafa dulu? Dan gue gak mau Kak Rafa sakit lagi. Dia baru sembuh Vin, gue gak bisa diam kalo ada yang sakitin hatinya lagi. Gue mohon, lo ngerti maksud gue,” ungkap Natalia. Kini sikapnya sangat lembut. Jauh berbeda saat berada di kampus. Ia gadis yang sangat angkuh juga sombong yang ditakuti banyak mahasiswi. Dan Elvina mengerti yang dikatakan Natalia, ia tak ingin Rafael kembali kepada Rafael yang pendiam dan tidak memiliki semangat untuk hidup. Ia tak ingin Rafael menjadi gila lagi seperti yang Ambar katakan. “Lupakan, Nat. Gue baik-baik aja kok,” jawab Elvina singkat. Apalagi yang bisa ia lakukan setelah ini? Ia pun bingung dengan permainan takdir. Bagaimana jika statusnya terbongkar, sebagai istri seseorang dan orang itu adalah William? Untuk membayangkannya saja, Elvina tak sanggup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN