Ungkapan Cinta

1034 Kata
“Thanks Vina. Gue tau lo cewek baik-baik. Jangan pernah sakiti Kakak gue lagi. Lo bisa hukum gue, tapi jangan Kak Rafa. Gue sayang banget sama Kak Rafa. Lo tau, Kak Rafa gak pernah mau ngomong lagi sama gue sejak kejadian itu? Gue udah minta maaf berulang kali, tapi Kak Rafa belum maafin gue, Vin.” Setelah mengucapkan itu, Natalia memeluk Elvina seraya menangis. Tangan Elvina menyentuh punggung Natalia, mengusapnya dengan lembut dan memintanya untuk tetap tenang. Elvina tak pernah menyangka, sisi lain seorang Natalia yang ia kenal ternyata begitu penyayang. Elvina mengerti, kemarahan Natalia padanya atas dasar kasih sayangnya kepada Rafael. Namun, Rafael tak memberinya toleransi dan 'menghukumnya'. Tiba-tiba suara pintu terdengar terbuka. “Nat?” panggil Rafael yang mencari-cari Elvina dan sekarang ia melihat Natalia sedang memeluknya. Sontak Elvina melepaskan pelukan dan Natalia segera menghapus air matanya. “Kak Rafa,” sahut Elvina segera menghampiri. “Kita pergi.” Rafael tak henti menatap Natalia dengan tatapan murkanya. “Permasalahan kita sudah selesai. Gak seharusnya Kak Rafa marah sama Nata. Lagipula, Nata marah sama Vina juga karena Nata sayang sama Kak Rafa. Karna ... Vina sempat tinggalin Kak Rafa,” ucap Elvina mencoba membuat hubungan Rafael dan Natalia membaik. Ia memang sudah mendengar kabar tersebut jika kakak dan adik ini menjadi tak saling mengenal setelah kejadian itu. “Terlepas apa alasannya, tetap saja dia salah. Tak seharusnya dia menghakimi tanpa mengetahui kebenarannya,” sergah Rafael tak bisa memaafkan apa yang telah dilakukan Natalia kepada Elvina. “Aku permisi,” sela Natalia segera keluar dari ruangan tersebut, melewati Rafael dan Elvina. “Siapa yang Kak Rafa bela? Vina? Vina siapa? Vina cuma orang lain bahkan jika Vina menjadi istri Kak Rafa sekalipun, Vina tetap orang lain. Sedangkan Nata itu adik Kak Rafa dan sampai kapanpun dia Adik Kak Rafa. Jangan lupakan itu. Jangan hukum Nata seberat itu Kak, Vina gak suka. Lagipula sekarang, Vina di depan Kak Rafa dan Vina sehat-sehat aja, 'kan?” Elvina mencoba menjelaskan dan terkadang otaknya yang tak sampai itu bisa dipakai berpikir dewasa juga. Rafael terdiam dan merenungkan ucapan Elvina. Tidak ada satupun yang tahu, diamnya Rafael kepada Natalia disebabkan karena apa. “Aku sayang sama kamu Vin. Aku mau melindungi kamu tapi dia malah sakiti kamu. Lebih baik aku yang sakit daripada kamu yang harus menanggungnya. Aku gak mau kamu menjauh lagi, Vin.” Rafael memeluk Elvina erat dan Elvina membalas pelukan itu. Pikiran dan hatinya kini sudah tidak berbentuk lagi. Tak tahu apa yang harus ia katakan dan ia lakukan. Namun, hatinya tak bisa berbohong, ia juga mencintai Rafael. Kelembutan, perhatian dan kasih sayangnya yang tulus membuat hati Elvina luluh. “Kasih Vina waktu Kak. Vina hanya belum siap,” kata Elvina membuat Rafael melepaskan pelukan dan menatapnya penuh harap. “Katakan sesuatu, Vin. Katakan kamu juga merasakan hal yang sama. Tidak peduli kamu siap atau tidak, aku hanya mau mendengar kalau perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan.” Rafael menuntut pernyataan Elvina yang tak pernah ia dengar. Wanita di hadapannya itu mengangguk pelan. Berkata, “Vina sayang sama Kak Rafa, tapi kasih Vina waktu Kak.” Kini Elvina tidak baik-baik saja, ia menahan tangis tapi tetap saja air matanya menetes perlahan. Mendengar ungkapan Elvina membuat Rafael tersenyum lega seraya menghapus air mata di pipi wanita itu. “Aku tidak akan menuntut lebih apalagi memaksa kamu. Mendengar itu saja, aku sudah sangat bahagia. Setidaknya, cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Dan aku akan menunggumu hingga kamu siap. Tolong jaga hati kamu untukku, Vin.” Rafael mencium kening Elvina, lalu turun mencium hidungnya, turun lagi di bibirnya dan mulai melumat bibir sexy itu dengan lembut. Elvina membuka sedikit mulutnya, membiarkan lidah Rafael masuk kedalamnya dan Elvina mencoba membalas ciuman itu walaupun masih sangat kaku. Namun, Rafael segera melepasnya sebelum sesuatu terjadi, lebih tepatnya sebelum sesuatu pada dirinya meronta menginginkan yang lebih dan itu akan sangat tidak berkesan jika kepunyaannya menegang di pesta pernikahan adiknya sendiri. “Kita keluar sebelum seseorang membuka pintu ruangan ini,” ujar Rafael lalu tersenyum seraya menggenggam tangan Elvina, keluar dari ruangan itu. “Sebentar.” Elvina menghentikan langkah, begitupun Rafael yang langsung membalikkan badannya dan menunggu kelanjutan ucapan Elvina. “Vina mau pulang,” rengeknya tiba-tiba. Hal itu berhasil membuat Rafael bingung. “Kenapa?” tanya Rafael menelisik Elvina, takut-takut ada sesuatu yang membuatnya tak nyaman. “Make up Vina terlalu menor kayaknya atau mungkin gaun Vina kebalik atau yang lainnya. Banyak yang liatin Vina soalnya.” Lagi-lagi Elvina merasa tak percaya diri, memperhatikan penampilannya sendiri, khawatir ada yang aneh di tubuhnya yang membuat para tamu memperhatikannya. Rafael hanya tersenyum dan menggeleng pelan melihat tingkah lucu Elvina. “Aku tadi bilang apa? Kamu terlalu cantik dan membuat banyak orang iri sama kamu, begitupun sama aku yang membawa kamu. Percaya sama aku,” ucapnya meyakinkan Elvina dan melanjutkan langkahnya. “Rafa ... ya ampun ... Bunda cari kalian loh. Acara dansa mau segera dimulai dan kalian malah menghilang. Cepat bawa Vina ke depan,” perintah Martha meminta Rafael dan Elvina berjalan ke dekat pelaminan, tempat dimana acara dansa akan dilakukan. Martha mengelus lengan Elvina lalu pergi. Sedangkan Elvina menahan tangannya saat Rafael akan menyeretnya. “Vina gak bisa Kak, serius. Kita duduk lagi aja.” Elvina benar-benar tak pernah berdansa dengan siapapun, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Sementara itu, musik romantis sudah menghiasi telinga siapapun yang menghadiri pesta tersebut dan tampak beberapa pasangan sudah siap untuk berdansa. “Aku ajarkan nanti. Kamu tinggal ikuti alunan musik. Ayo,” ajak Rafael tetap ingin berdansa walaupun Elvina sudah ogah-ogahan. Rafael terus melangkah, hingga ia berhenti di dekat adiknya yang sedang menikah itu. Tanpa sungkan, ia menuntun tangan Elvina untuk ditempatkan di bahunya, satu tangan Rafael memegang pinggang Elvina sedangkan tangan satunya lagi meraih tangan Elvina ke udara dan menyatukannya. Elvina mengikuti arahan Rafael walaupun tetap saja sangat kaku, akan tetapi seiring berjalannya waktu, ia dapat mengimbangi gerakan dan musik. Tak sedikitpun Rafael mengalihkan pandangannya dari wajah Elvina yang tepat di hadapannya. Senyum serta merta menghiasi wajah tampannya. Begitupun Elvina yang menikmati suasana dan terbuai kedalamnya. Begitulah cinta, dunia serasa milik berdua sedangkan yang lainnya ngontrak. Terlalu mendalami suasana, membuat mereka tak menyadari jika sejak tadi mereka datang, ada seorang pria yang mengawasinya hingga detik ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN