“Bapak memanggil saya?” tanya Elvina saat masuk ke dalam ruangan William setelah sebelumnya mengetuk pintu dan mendapat sahutan dari dalam. “Kamu sini,” titah William dan Elvina segera mendekat. Seperti biasanya, Elvina akan duduk tanpa diminta. Namun kali ini, William kesal karena wanita itu tak bertanya apapun terlebih dahulu. “Siapa yang izinkan kamu duduk?” tanya William tanpa menatap Elvina dan fokus memainkan ponselnya. “Terus? Bapak panggil Vina, 'kan?” Elvina mengernyitkan keningnya, bingung. “Kamu pijitin bahu saya,” pinta William membuat Elvina membulatkan matanya. “What? Mohon maaf, Tuan William, saya ini sekretaris ya dan bukan asisten pribadi,” hardik Elvina tak terima. “Ini juga pekerjaan kamu, Elvina! Cepat saya pegal, nanti kalah perang.” William memaksa. Memang

