6
Harvey menggigit bakpao dan mengunyahnya. Sesaat kemudian ia mendesah nikmat.
Layla tersenyum melihat itu. Tangan langsingnya terulur mengambil bakpao.
Diam-diam Harvey kagum akan bentuk tubuh sang istri yang masih seindah dan selangsing ketika pertama kali mereka bertemu. Mencicipi bermacam-macam makanan sepanjang hari sama sekali tak memengaruhi berat badannya. Layla rutin berolahrga.
“Aku tidak pulang makan siang, nanti,” kata Harvey saat teringat kesibukannya hari ini. Rencananya ia akan meninjau proses pembangunan gedung supermarket barunya yang hampir selesai. Memang letaknya masih di pusat kota, tapi Harvey tidak tahu akan berapa lama di sana. Ia tak mau membuat Layla telat makan siang karena menunggunya.
“Oh, oke. Kau ingin makan apa hari ini?”
Hati Harvey menghangat. Setiap pagi dan sore Layla melontarkan pertanyaan itu. “Kau ingin makan apa nanti siang?” Pada sore hari, Harvey akan menerima pesan, kau ingin apa untuk makan malam?
Harvey merasa sangat diperhatikan. Belum pernah ada yang bersikap seperti itu kepadanya. Sederet wanita-wanita yang pernah menjadi kekasihnya, hanya sibuk mengurusi dompet dan restliting celananya.
“Apa pun yang kau masak, akan kumakan, Sayang.” Selalu itulah jawaban Harvey setiap kali Layla bertanya. Begitu juga pagi ini.
“Aku hanya akan masak apa yang ingin kau makan."
Harvey telah menghabiskan bakpaonya. Ia meneguk kopinya hingga tandas, lalu bangkit dan menghampiri Layla. Ia merangkul bahu sang istri dan mengecup lembut sudut bibirnya, meski wanita itu sedang mengunyah bakpao. “Sebenarnya aku lebih suka makan dirimu.”
Tiba-tiba Harvey merasa ada yang berontak di celananya. Sial! Memikirkan menyapu bibirnya di seluruh tubuh Layla membuat harsratnya bangkit.
Layla tersedak.
Harvey tergelak dan meraih gelas berisi teh dan mengulurkan pada istrinya.
“Kau sangat nakal,” kata Layla setelah selesai meneguk teh.
Harvey menyeringai. Matanya terpaku pada setetes teh yang masih melekat di sudut bibir sang istri.
Layla menjilatnya.
Hasrat Harvey terbakar. Ia pun meraih sang istri dan membaringkannya di atas meja.
“Harvey!” teriak Layla terkejut.
Harvey tertawa.
Sesi percintaan panas pun dimulai.
***
Dua jam kemudian, Harvey pergi ke supermarketnya. Sementara Layla, dengan sisa tenaga setelah percintaan kilat mereka, terjun ke dapur, memasak salah satu menu kesukaan Harvey, yaitu, ikan nila bakar, tahu dan tempe goreng. Tak lupa sambal terasi super pedas dan beberapa irisan timun.
Menjelang pukul dua belas siang, Layla selesai memasak. Ia memasukkan nasi putih dan lauk pauk yang dimasaknya ke dalam rantang stainless. Setelah itu, Layla beranjak meninggalkan rumah. Terkadang, ia menyuruh Pak Karim, sopir pribadinya, mengantarkan makan siang masakannya untuk sang suami.
Sejak menikah dengan Harvey, mobil yang Layla miliki sebelumnya, hanya terparkir manis di garasi. Harvey membeli mobil Alphard sekaligus menyiapkan sopir untuknya. Sebenarnya Layla lebih suka mengendarai mobilnya sendiri, tapi Harvey berkeras Layla harus menggunakan Alphard dan sopir. Tak mau berdebat, Layla pun menurut. Harus ia akui, mobil mewah yang suaminya belikan untuknya itu nyaman luar biasa, sangat berbeda dengan mobil mungilnya, yang harganya selisih berkali-kali lipat.
Tiga puluh menit kemudian, setelah melewati padatnya kendaraan pada jam makan siang, Layla pun tiba di supermarket sang suami. Ia melangkah anggun menuju ruang kerja Harvey sambil sesekali membalas senyum para staf yang kebetulan berselisih jalan dengannya.
Ketika hampir tiba di ruangan suaminya, Layla menghentikan langkah untuk menyapa Andre, pemuda kurus berkacamata minus yang menjadi sekretaris sang suami.
Pemuda itu melempar senyum padanya, yang dibalas Layla dengan senyum ramah.
“Bapak ada di dalam, Dre?” tanya Layla sambil melempar pandangan ke ruangan Harvey.
“Ada, Bu. Baru tiba sekitar sepuluh menit yang lalu. Ada Pak Arion juga di dalam.”
“Oh, oke, terima kasih, Dre.”
“Sama-sama, Bu.”
Layla pun melangkah ringan ke ruangan sang suami. Jejak langkah kakinya hampir tak menimbulkan suara. Hari ini ia mengenakan sepatu tanpa hak.
Tiba di depan ruangan sang suami, Layla membuka pintu perlahan. Niatnya untuk segera masuk urung ketika mendengar Arion berkata, “Jadi, kau belum bosan padanya.”
Keduanya jelas tidak sadar ada yang membuka pintu.
Kalimat itu lebih bernada pernyataan dibandingkan pertanyaan. Layla membeku. Tiba-tiba seakan ada es menjalari telapak kakinya hingga ke seluruh tubuh.
Apa yang sedang mereka bicarakan?
“Dia pasti sangat hebat di ranjang,” lanjut Arion. “Biasanya hanya dua-tiga bulan, kau sudah bosan. Ini sudah hampir setengah tahun, Bung!”
Napas Layla tertahan. Apakah mereka sedang membicarakan dirinya? Atau diam-diam Harvey berkencan dengan wanita lain?
“Aku asumsikan kau tak akan menceraikannya dalam waktu dekat,” lanjut Arion.
Cerai. Hanya orang yang menikah yang bisa bercerai. Berarti yang kedua pria tampan itu bicarakan adalah dirinya. Tanpa sadar Layla mencengkeram gagang rantangan erat-erat.
“Tadinya aku pikir hanya butuh tiga bulan untuk melihat kau menyandang status duda. Menikah karena seks semata menurutku keputusan yang buruk.” Arion terkekeh.
Mata Layla membeliak. Seketika wajahnya memucat. Harvey menikahinya demi seks dan berniat menceraikannya setelah bosan? Oh, Tuhan!
Tak sanggup mendengar tanggapan Harvey yang pastinya lebih menyakitkan, dengan kaki lemas, Layla berbalik dan melangkah pergi dengan hati yang hancur berkeping-keping.
***
Sore itu cuaca cerah. Udara di rumah mungil Layla terasa agak panas. Ia mengelap kening yang berkeringat dengan handuk kecil sembari memandang meja makannya yang dipenuhi dua puluh loyang bolu kemojo pesanan pelanggannya. Binar puas memancar dari iris cokelat keemasannya.
Suara mobil yang berhenti di depan rumah, menarik perhatian Layla. Ia meninggalkan ruang makan dan berjalan ke pintu.
“Kau serius?”
Begitu pintu teralis dibuka, ia langsung mendapat todongan pertanyaan itu dari Karenina.
“Apa?” tanya Layla bingung.
Karenina melangkah masuk. Layla menutup pintu teralis dan menguncinya.
“Kau akan menikah, tiga minggu lagi?”
Senyum seketika terulas di bibir Layla. Ia mengangguk.
Karenina duduk di sofa dan mencomot cake lapis legit yang terhidang di atas meja tanpa dipersilakan.
Layla duduk di sofa seberang gadis berambut pendek itu.
“Kau yakin?” tanya Karenina setelah menghabiskan sepotong cake dan meneguk air mineral yang selalu tersedia di meja. Keraguan terpancar jelas di matanya. “Kau tahu dia playboy, bukan?”
Ya, Layla tahu Harvey Almanzo seorang playboy. Siapa yang tak kenal taipan muda pemilik supermarket terbesar di Pekanbaru itu? Pria itu dikelilingi para wanita cantik yang bersedia berlutut di kakinya untuk menyenangkannya.
Layla sendiri tahu tentang Harvey lewat majalah bisnis yang mengekspos kisah sukses sang bujangan, juga dunia percintaannya, tapi baru benar-benar berkenalan dengan pria itu di suatu pesta.
“Ya. Bukankah dia sudah menunjukkan kesetiaan dan keseriusannya dengan melamarku?” Layla mencomot cake lapis legit dan mengigitnya. Cake buatannya ini terasa lezat. Layla mengunyah dengan perasaan puas. Bukan hanya tentang rasa cakenya, tapi juga bentuk tubuhnya yang tetap langsing padahal ia rajin mengamil. Layla rajin berolahraga. Setiap hari, ia selalu menyempatkan diri untuk sit up dan joging di treadmill yang ada di rumah.
“Menikahimu bukan berarti akan setia, Layla. Hubungan kalian baru beberapa bulan. Bukankah sebaiknya menunggu sedikit lebih lama?”
Layla mendesah pelan, lalu meneguk air minum yang tersedia di meja. “Aku yakin dia akan setia padaku. Dia mencintaiku, Nina.”
“Apakah dia pernah bilang begitu?”
***
Love,
Evathink
Follow i********:: evathink