7

1344 Kata
7 Layla terdiam. Harvey memang tidak pernah bilang mencintainya, dan Layla pun demikian. Akan tetapi, Harvey sudah menjalin hubungan dengannya selama enam bulan, sesuatu yang belum pernah terjadi dalam kisah percintaan pria itu. Kalau bukan karena cinta, apalagi? Karenina menghela napas panjang. “Please, Layla. Usiamu sudah dua puluh lima tahun. Jangan naif. Bahkan remaja berumur tujuh belas tahun saja tak sepolos dirimu.” Layla cemberut. Soal percintaan, Karenina memang lebih berpengalaman. Sahabat yang seusia dengannya itu, yang dikenalnya ketika di bangku kuliah, sudah berkali-kali menjalin hubungan, sementara Layla, hanya sekali saat remaja. Lalu beberapa tahun terakhir ia menjomlo. Banyak yang mengajak berpacaran, tapi tak ada yang mampu menggetarkan hatinya, sampai ia bertemu Harvey. Yah, memang jam terbangnya di dunia asmara tak bisa diadu dengan sang sahabat. Karenina berpindah duduk ke sisi Layla dan meremas lembut punggung tangan sahabatnya. “Aku peduli padamu, Layla. Aku tak mau kau terburu-buru mengambil keputusan.” Layla bergeming. Ia sangat mengerti akan kepedulian Karenina padanya, akan kecemasan sahabatnya itu. Akan tetapi, Layla mencintai Harvey. Untuk apa ia menolak lamaran pria itu? Layla sudah siap lahir dan batin untuk menjadi istri Harvey. Layla yakin, Harvey tak akan menduakannya. Toh, selama enam bulan mereka menjalin hubungan, Harvey tak pernah berpaling, padahal pria itu terus diburu para wanita cantik dan seksi. Layla balas meremas tangan Karenina dan tersenyum tipis. “Terima kasih, Nina, tapi aku harap kau tidak cemas. Percaya padaku, pernikahanku akan bahagia. Harvey akan setia.” Air mata Layla berderai membasahi pipi teringat percakapannya dengan Karenina hampir enam bulan yang lalu itu. Betapa bodoh dirinya, bukan? Karenina sudah memperingatkan, tapi ia terlalu percaya diri. Berpikir Harvey jatuh cinta kepadanya. Layla juga ingat, ketika ia mengutarakan perihal lamaran Harvey pada kedua orangtuanya, ayah dan ibunya pun menyuarakan keberatan, menyuruhnya untuk berpacaran sedikit lebih lama lagi. Namun, Layla yang sedang dilamun cinta, telah buta. Ia meyakinkan kedua orangtuanya bahwa keputusannya untuk menikah dengan Harvey adalah keputusan paling tepat yang pernah ia ambil seumur hidupnya. Ia akan bahagia. Sekarang apa? Layla meraih tisu kesekian dan membersit hidung. Sejak mendengar percakapan Harvey dan Arion beberapa jam lalu, yang ia lakukan hanya menangis dan menangis. Tak percaya Harvey begitu kejam kepada dirinya. Layla tertawa dalam tangis. Mengejek kebodohannya. Mengejek kenaifannya. Ponsel di atas nakas berdering. Layla melihat layarnya. Karenina memanggil… “Halo,” sambut Layla dengan suara parau oleh tangis. “Aku di beranda.” *** “Apa yang terjadi, Layla?” Karenina duduk di sisi Layla, memandang sahabatnya itu dengan sorot cemas. Layla yang duduk bersandar di sofa, bergeming. Air mata membasahi pipinya. Bagaimana ia bisa bercerita sementara tenaganya sudah terkuras habis oleh sakit hati? Ia mencintai Harvey dan bersedia menikah dengan pria itu meski hubungan mereka terbilang belum lama. Namun kini, istana harapannya yang indah telah ambruk menjadi puing-puing. “Layla …,” panggil Karenina setelah sepuluh menit berlalu. Layla menarik napas panjang yang gemetar. “Dia membohongiku.” “Harvey?” Layla mengangguk lemah. “Dia menikahiku hanya untuk bisa tidur denganku.” Dengan suara parau dan d**a berat bak ditimpa gunung, Layla pun bercerita tentang kejadian tadi siang di kantor Harvey. Mata Karenina melebar. Sesaat kemudian ia memeluk Layla. “Oh, Layla!” Layla menangis sesenggukan. Setelah cukup lama waktu berlalu, Karenina mengurai pelukan mereka. “Jadi apa yang akan kaulakukan? Apakah kau akan berpisah dengannya?” Layla meraih tisu kesekian, mengusap pipi dan membersit hidung. “Entahlah. Aku tak tahu, Nina. Jika kami bercerai, kedua orangtuaku akan malu.” Dunia semakin maju dan pola pikir orang-orang semakin modern, tapi di kampung halaman Layla, tidak semua orang berpikiran terbuka. Perceraian akan menjadi aib. Menjadi gosip panas di kampung selama berbulan-bulan, bahkan menahun. Layla tidak masalah jika mereka membicarakan dirinya, toh ia tidak tinggal di sana, tapi bagaimana dengan kedua orangtuanya? Layla harus memikirkan perasaan mereka. Karenina menghela napas panjang. “Mungkin sebaiknya kau bersikap seperti biasa dulu, sampai mendapatkan keputusan.” Layla menghela napas berat. Mungkin itulah satu-satunya solusi saat ini. *** Harvey duduk di balik meja kerjanya dan memandang ponsel di tangan dengan tatapan kosong. Layar yang menyala itu menggelap, dan Harvey hanya membisu. Ia bingung. Sejak siang, pesan yang ia kirim pada Layla, sama sekali tidak dibalas. Ketika dihubungi, Layla juga tidak merespons panggilannya. Dengan perasaan gelisah, Harvey mengusap layar ponsel dan kembali menghubungi sang istri. Untuk kesekian kalinya ia harus kecewa. Lagi, Layla tidak menjawab. Rasa cemas menjalar ke hati Harvey. Mungkinkah terjadi sesuatu pada Layla? Memikirkan itu, Harvey segera beranjak meninggalkan ruangannya. *** Harvey lega luar biasa ketika tiba di rumah dan mendapati Layla sedang tertidur lelap di ranjang empuk kamar tidur mereka. Namun gerakannya untuk meninggalkan kamar dan bersantai sejenak di taman belakang, terhenti ketika melihat mata sembap sang istri. Ia melangkah mendekati ranjang. Keningnya berkerut dalam saat melihat ada bekas air mata yang mengering di pipi Layla. Istrinya menangis? Kenapa? Inikah alasan Layla tidak merespons pesan dan panggilannya? Untuk sesaat Harvey hanya mematung, berperang antara ingin membangunkan Layla dan bertanya, atau membiarkannya tidur tapi menahan segala keingintahuan dan kecemasannya. Pilihan kedualah yang menang. Sambil menghela napas pelan, Harvey melangkah meninggalkan kamar. Ia butuh secangkir kopi, dan untuk kali pertama sejak menikah, Harvey membuat kopinya sendiri. *** Makan malam berlangsung hening. Untuk kali pertama sejak mereka menikah, menu masakan di meja makan sangat sederhana. Ketika terbangun menjelang pukul tujuh malam setelah ketiduran sepulangnya Karenina, Layla segera terjun ke dapur. Dua puluh menit kemudian, telur dadar dan tumisan sayur kangkung, terhidang di atas meja. Layla tahu, sepanjang dirinya memasak, Harvey yang duduk di salah satu kursi meja makan, menatapnya hampir tanpa lepas. Layla juga tahu, ketika selesai memasak dan beranjak ke kamar untuk mandi, Harvey mengikutinya. Layla mengabaikannya. Ia bahkan tak mampu memandang wajah Harvey tanpa menunjukkan betapa suaminya itu telah menyakitinya. Layla selesai makan lebih dulu. Ia hanya makan beberapa suap. Patah hati telah menguras habis seleranya. “Layla.” Gerakan Layla membawa piring ke bak cuci piring, terhenti. Ia tidak menoleh untuk memandang sang suami. Tiba-tiba Harvey sudah berdiri di sisinya, meraih piring dari tangannya dan meletakkan ke bak cuci piring. Kemudian pria itu meraih kedua tangan Layla dan menggenggamnya. Layla hanya menunduk. Tak mampu menatap wajah pria yang paling ia cintai, tapi juga dibencinya di saat bersamaan. Pesan sang sahabat agar bersikap seperti biasa, tak mampu ia lakukan. Harvey menyentuh dagu Layla dan mengangkatnya sedikit agar mata mereka bertemu. Mau tidak mau, dengan menahan sakit hati, Layla balas menatap sang suami. “Ada apa, Sayang? Matamu sembap. Kau menangis?” tanya Harvey lembut. Air mata Layla siap berlomba keluar. Ia menggigit bibir menahan tangis. Andai saja pria itu tahu, karena dirinyalah hari ini Layla menangis hampir tanpa henti. Layla berusaha mengulas senyum, meski yakin, senyumnya sekaku tembok pagar rumah mereka. “Aku menonton drama Korea. Ceritanya sedih.” Untuk kali pertama sejak mengenal Harvey, Layla berbohong pada pria itu. Namun ia tak punya pilihan. Mengatakan kebenaran akan memperumit keadaan. Mungkin Harvey akan menceraikannya, mungkin juga akan mengarang sejuta alasan, yang tak mungkin Layla percayai sedikit pun. “Kau yakin?” Harvey jelas tak percaya. Pria itu menatap Layla ragu. Layla memperlebar senyumnya. Urat senyum di wajahnya terasa perih. Ia mengangguk pelan. Setelah itu berbalik dan melangkah ke bak cuci piring. *** Malam kian larut. Keheningan terasa menggigit. Harvey Almanzo berbaring di sisi sang istri yang tidur memunggunginya. Mata Harvey nyalang menatap langit-kangit kamar dalam cahaya temaram. Kegelisahan menyelimutinya. Berbagai pertanyaan tanpa jawaban memenuhi benaknya. Apa yang terjadi? Sedikit pun Harvey tidak percaya kalau Layla menangis karena menonton drama Korea. Ya, para wanita memang bisa terbawa perasaan akibat terseret arus cerita yang melankolis. Namun, menangis sampai mata bengkak? Sepertinya tidak mungkin. Jadi ada apa? Harvey menarik napas berat. Ia menyamping menghadap sang istri. Napas Layla tampak halus teratur menandakan telah lelap. Untuk kali pertama sejak mereka menikah—kecuali ketika Layla sedang haid, mereka tidak bercinta. Tadi, ketika Harvey menciumnya saat mereka naik ke peraduan, Layla tidak membalas seperti biasa, dan menolak ketika Harvey bertindak lebih jauh. Harvey berharap, esok hari suasana hati istrinya itu akan lebih baik dan mau terbuka tentang apa yang telah membuatnya sedih. *** Love, Evathink Follow i********:: evathink
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN