Andre melangkah menuju ke kamar Samantha, ia membawa sebuah amplop berisi sebuah undangan untuk Samantha. Sampai di depan pintu, Andre tak ragu untuk mengetuk pintu kamar temannya itu. Tak berselang lama Samantha sendiri yang membukanya, wajah Samantha langsung terlihat masam saat melihatnya lalu berbalik pergi. “Ada apa? Kenapa kau terlihat tidak suka begitu saat aku datang?” tanya Andre sembari melangkah masuk mengekori Samantha. “Kukira kau adalah Sebastian.” “Memangnya ke mana dia?” tanya Andre. “Sedang pergi ketempat Madam Violetta untuk memesankan gaun.” “Untukmu?” “Iya, Andre. Memangnya untuk siapa lagi? Ngomong-ngomong yang ada di tanganmu itu adalah undangan untukku?” tanya Samantha dengan antusias setelah duduk di meja kerjanya. Samantha mencondongkan tubuhnya ke depan se

