Setelah beberapa hari mengurusi lahan yang akan dijadikan sebagai kebun angur oleh Samantha, gadis itu memperhatikan seluruh kebunnya di beranda rumahnya. Cahaya matahari senja mulai membanjiri beranda rumahnya, menyirami tubuh Samantha dengan warna oranye yang menawan, membuat gadis itu terlihat berkilauan. “Akhirnya ….” Samantha menghela nafasnya lega, kerja kerasnya bersama para pekerja akan segera terbayar. Ia tinggal menunggu tanahnya siap untuk ditanami dan semua kerja keras mereka akan terbayar lunas. Samantha ingin berbagi kebahagiaan kecilnya ini kepada seseorang, ia menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari keberadaan Sebastian. Selain Grace dan ayahnya, pria itu biasanya akan antusias dengan apa yang diucapkan oleh Samantha. Meski yang keluar dari mulutnya, biasanya adalah kata-

