“Putar balik mobilnya, mari kita jemput Grace!” seru Samantha dari kursi penumpang. Padahal mereka sudah berada setengah jalan sampai ke tempat tujuan. Sebastian memastikan dengan melihat melalui spion tengah mobil. Tepat saat itu juga, Samanatha sedang menatapnya melalui kaca yang sama. “Aku serius!” Samantha menambahkan lagi. “Baik, saya mengerti.” Sebastian pasrah saja, meski kini pekerjaannya merangkap sebagai apapun yang diinginkan oleh Samantha. Ia adalah pengawalnya, tapi juga sopirnya, kadang penasehat pekerjaannya, kadang pembuat teh dan camilannya. Semua-muanya dikerjakan oleh Sebastian sesuai dengan apa yang terlontar dari bibir Samantha tanpa membantah sama sekali. “Setelah kupikir-kupikir….” Samantha menjelaskan tentang sikapnya, merasa jika apa yang telah dia perbuat mem

