Setelah senyuman itu membuat Naura kembali tertegun, Abi melakukan sesuatu yang membuat Naura semakin kehilangan kata-kata. “Nggak, Na.” Ucap pria itu sambil mengulurkan tangannya dan menepuk-nepuk pelan kepala Naura, hal yang kalau Naura tidak bermimpi juga Abi lakukan semalam. “Itu hanya faktor kecilnya. Sekali lagi saya bilang, Opa dan Papi memang udah pertimbangin semuanya, dan karena saya juga udah lulus kuliah bisnis makanya mereka percayain perusahaan yang lebih besar ke saya. Sama sekali bukan karena Papa. Paham?” Naura ingin sekali mengangguk, tapi entah kenapa kepalanya terasa kaku. Akhirnya hanya kerjapan matanya yang seolah memberikan tanggapan dari ucapan Abi itu. “So, kamu nggak perlu khawatir soal itu. Well, udah dulu ngobrolnya, oke? Karena dari tadi bicara kamu sama se

