“Liana, aku pulang.” Elang membuka pintu. Gegas melangkah dengan senyum bahagia. Dia memeluk Liana yang membeku di atas brankar. Wajah pucat, tangannya dingin. “Aku bawakan sarapan. Maaf ya gak bilang dulu. Jadinya kamu harus menunggu lama.” Elang belum peka dengan kondisi Liana saat ini. Dia letakkan bungkusan bubur ayam di atas nakas. Lantas Liana masih diam. Matanya memandang lurus dengan tatapan kosong. Bayang-bayang Ares serta ucapannya masih terngiang di dalam kepala. Susah untuk dikeluarkan. “Sayang.” Elang mengagetkan Liana. Spontan dipeluk erat tubuh sang suami, menangis sesenggukan. “Kenapa?” tanya Elang penasaran. Kondisi Liana yang mendadak berubah membuatnya ingin mengetahui penyebabnya. Jika itu karena kehilangan anak, maka sudah menjadi tugas Elang untuk menghibur. “Aku

