“Elang, pengen pipis,” bisik Liana membelai rambut Elang. Bagaikan mendengar suara alarm, Elang segera membuka mata. “Sekarang?” Liana mengangguk kepala. “Ok.” Elang bangun menyalakan lampu hingga bangsal yang tadi gelap menjadi terang. Dia menghentikan laju cairan infus agar darah tak naik ke selang ketika bergerak, baru kemudian menuntun Liana ke kamar mandi. “Di luar aja! Aku bisa sendiri kok.” “Kamu gak akan bisa. Biar aku bantu.” “Tapi aku malu.” “Udah pernah lihat, raba, tusuk, apalagi?” “Kamu kok gitu sih ngomongnya? Bikin aku tambah malu ah.” Liana memutar bola—tersipu malu. Bisa-bisanya Elang berbicara terlalu frontal di saat tak ada siapa-siapa dalam bangsal. “Sekarang cepat buka celana, duduk di kloset!” “Ya udah, kalau mau bantu, sekalian aja.” “Emang demen.” Elang m

