Ketika hampir tengah hari, banyak sekali karyawan yang berjalan menuju ke arah barat. Mereka tak sabar menikmati makan siang di tengah gempuran perut yang membunyikan gendang. Sinka tertawa dengan empat orang temannya yang hendak ke kantin murah di belakang gedung. Jangan kira semua pekerja di lokasi itu suka makan di gedung besar. Tidak. Mereka lebih memilih makan mahal sekali seminggu daripada tiap hari. Kalau setiap hari, yang ada rugi bandar. Sinka melihat lambaian tangan Berlin di seberang. “Guys, gue makan bareng temen gue. Gak apa-apa kan?” “Okey, Sin. Kita pergi ya.” “Oke.” Sinka menyebrang jalan dengan hati-hati. Berlin memberikan satu cup kopi yang ada di tangannya. Mereka berjalan bersama dengan langkah biasa. “Aku butuh penjelasan lebih detail.” “Apa lagi sih? Aku uda

