********
Ada cemburu yang tidak pada tempatnya.
********
Malam minggu seperti hari paling spesial bagi beberapa orang. Termasuk Sera. Di hari itulah memori tersimpan dengan kenangan yang manis. Saat dimana Sera menikmati malam bersama Barat.
Malam ini, Barat mengenakan setelan santai dengan kaos berkerah warna hitam dan celana jeans. Pesonanya selalu luar biasa bagi Sera. Sera sendiri tidak sadar bahwa ia juga secantik Miss Universe ketika bertemu Barat. Rambut menjuntai yang sangat indah dan riasan yang tepat untuk wajahnya. Ditambah lagi, outfit yang selalu cantik untuk badannya.
“Makan yang banyak, Ra.”ucap Barat membuat Sera tersenyum. Kalimat itu selalu ia katakan ketika Sera hendak makan. Katanya sih, gak usah diet. Soalnya, Sera tetap cantik meski berat badannya naik.
“Kamu juga mas. Keliatan banget kecapean.”
“Emang iya?”
“Iya. Mukamu loh, kusut gitu.”
“Wajar sih, selama seminggu kemarin, aku lembur terus tiap hari. Baru tadilah, tidur sampai sore.”
“Berarti, besok gak usah kemana-mana. Tidur lagi yang banyak, biar mata panda-nya hilang.”
Barat mengangguk setuju. Mereka kembali makan dengan hikmat. Meskipun banyak suara dari para pengunjung yang lain, tapi tak seberisik food court. Barat selalu malas makan di food court. Dia tidak suka sesuatu yang bising. Tipikal orang yang lebih suka diam ketika ada suatu masalah. Dan orang seperti itu biasanya mengandalkan satu orang untuk membicarakan banyak hal. Sera adalah orang yang tepat untuk hal itu.
Setelah makan malam, mereka pergi mencari sesuatu. Sera bukanlah wanita yang ingin dibelikan berbagai macam benda. Dia lebih suka membayar sendiri. Barat paham sekali tentang hal itu. Makanya Barat hanya memberikannya sesuatu ketika hari-hari spesial saja. Semisal, ulang tahun dan sebagainya. Ketika langkah mereka baru sekitar lima belas menit, sebuah panggilan telepon berhasil mengalihkan Barat. Dia meminta izin untuk menjauh sebentar. Sera paham, mungkin itu tentang pekerjaan.
Sera menunggu di kursi yang kosong itu. Dia melakukan scroll handphone sembari menunggu Barat selesai. Tak lama, Barat datang dengan wajah pucat.
“Ra, aku tiba-tiba ada urusan mendadak. Jadi harus pulang. Kamu gak apa-apa kan pulang sendiri?”ucapnya dengan wajah panik. Baru kali ini Sera melihat Barat seperti ini. Barat yang meniadakan akal sehatnya. Dan ia tampak sangat panik.
“Iya mas, mas pulang aja dulu. Aku bisa pulang sendiri kok.”balas Sera paham.
“Ya sudah, kamu hati-hati ya, Ra.”ucapnya mengakhiri. Sera mengangguk pertanda mengerti. Barat bergegas pergi. Tangannya gemetar menekan tombol lift menuju ke basement. Apapun yang terjadi, dia mau pergi secepat mungkin. Dengan jantung yang detaknya tak biasa, dia melajukan mobilnya menuju ke Rumah Sakit Radiny.
Butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk dia sampai disana. Dia bergegas menuju ke lantai 5, mencari ruangan nomor 2178. Dia segera membuka pintu dan mendapati tiga orang disana. Hatinya lega saat yang sedang terbaring itu tersenyum padanya. Oh Tuhan, terima kasih karena semua baik-baik saja.
***
Seseorang membuka pintu untuk Sera. Gadis berambut keriting panjang yang hitam. Memang, keluarga ini tak ada satupun yang salah. Visualnya benar-benar memukau. Kilau Brigarda, adiknya Dipta, menyambut Sera dengan kepalan tangan tanda persahabatan. Beda dengan Dipta, Kilau sangat rajin belajar.
“Ada Dipta kan, dek?”tanya Sera sambil menaruh sepatunya di rak depan rumah.
“Ada kak, kakak ke balkon aja langsung.”
“Iya, makasih ya.”ucapnya seraya berjalan ke lantai 3. Balkon lantai 3 menjadi tempat perjanjian mereka untuk membuat konten. Konten yang diharapkan bisa meningkatkan penjualan Varda Cosmetic. Pertama kali, mereka mendiskusikan ide untuk dieksekusi. Baru setelah itu, direkam. Tak ada tim untuk melakukan hal itu, karena Dipta memang influencer kecil yang sedang berusaha untuk bisa naik kelas.
Mereka menghabiskan waktu yang banyak untuk benar-benar selesai. Minuman dan makanan yang dibawa Bu Ratna jadi penutup yang menyegarkan. Sera merebahkan badannya di sofa dengan perasaan yang campur aduk.
“Udah capek banget, ku harap hasilnya bagus.”
“Semoga ya, Ra.”balas Dipta tak kalah capek. “Tapi tenang aja, gak ada usaha yang menghianati hasil.”lanjutnya penuh keyakinan.
“Oh ya Dip, apa cowok itu benar-benar punya rahasia yang gak ditunjukkan sama pacarnya?”tanya Sera serius. Dia menatap Dipta dalam. Membuat pria itu sedikit salah tingkah.
“Ma,,maksudnya?”
“Hmm, kemarin kan aku ngedate sama Mas Barat. Tiba-tiba dia pergi karena ada urusan mendadak. Dan dia gak ngasih tahu aku soal urusan itu sampai sekarang. Aku juga gak berani nanya.”curhat Sera. Setelah kepergian Barat malam itu, Sera masih saja kepikiran. Urusan apa yang membuat cowok itu pucat pasi dan lari secepat kilat? Jika itu menyangkut pekerjaan, rasanya tidak mungkin. Alasan paling memungkinkan adalah urusan keluarga.
“Kenapa gak nanya langsung aja sih?”balas Dipta memukul kepalanya. Dia bergegas berdiri. “Kalau soal rahasia, semua orang juga punya.”lanjutnya sambil berjalan ke depan untuk melihat pemandangan. Sera ikut berdiri dan menyusulnya.
“Tiga tahun waktu yang cukup lama kan? Tapi dia masih saja belum melamarku. Aku benar-benar butuh kepastian. Disisi lain, aku gak mau kehilangan dia.”ucap Sera sambil ikut menatap langit yang biru.
Di dalam hatinya, Dipta merasa senang. Jika suatu hari Sera beneran putus dari pacarnya itu, Dipta akan jadi orang pertama yang bahagia tak terkira.
“Sabar aja, Ra. Segala sesuatu ada waktunya.”
“Aku tahu kok. Tapi aku iri banget sama Jolin. Baru tiga bulan pacaran udah dilamar. Pasti dia bahagia banget sekarang.”
Saat orang lain menjadi patokan, maka hidup sendiri tidak akan pernah baik. Manusia tak bisa lepas dari ketamakan. Selalu ingin lebih dari orang lainnya. Sera sendiri tidak paham dengan hatinya. Yang pasti, dia sudah memantapkan hati untuk Barat. Disisi lain, sahabatnya sendiri menginginkan sebaliknya.
Dipta Brigarda adalah pria yang bertahun-tahun menyukai Sera dalam diam. Dia terlibat Friendzone yang tak mungkin bisa dia hancurkan. Itulah yang ia pikirkan dulu, ketika mereka masih sekolah.
Nanti, kalau aku pacaran, takutnya putus. Kalau putus, udah gak bisa temenan lagi. Anggapan itu selalu menguasainya ketika ingin mengungkapkan perasaannya. Dan saat kuliah di kampus yang sama, Dipta berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan mengungkapkan perasaannya ketika lulus kuliah nanti. Ternyata, itu adalah rencana yang terlambat. Saat waktu semakin dekat, dia mendapat kabar kalau sahabatnya itu sudah punya pacar.
Jika ditelusuri lebih lanjut, Dipta sendiri lah penyebab itu terjadi. Dipta yang menawarkan tempat magang untuk Sera. Andai dulu dia tak melakukannya, mungkin Sera tak akan bertemu dengan Barat. Lagi dan lagi, semua itu tinggal sesal yang tak bisa diubah.
Angan Sera terbawa jauh saat menatap langit biru itu. Sebuah bayangan tentang pernikahannya kelak. Hingga sebuah telepon menghentikan lamunannya. Ia kembali ke sofa, dan mengambil tasnya. Dia lihat handphone yang kini menyala. Sebuah panggilan dari Berlin.
“Hallo Ber, kenapa?”
“Ra, kita harus ketemu sekarang. Kamu lagi dimana?”
Sera diam sejenak. Dia tak ingin memberitahu Berlin kalau ia di rumah Dipta. Sera tahu kalau sudah lama Berlin menaruh hati pada sahabatnya itu. Sera hanya tidak ingin ikut campur. Dia tidak ingin ada kesalahpahaman diantara keduanya. Apalagi, Dipta terlihat cuek pada Berlin.
“Kenapa emang?”tanya Sera memastikan.
“Pokoknya kita harus ketemu Ra. Lo dimana?”
“Di rumah Dipta. Ngerjain konten buat produk endorsenya Dipta.”balas Sera jujur. Kejujuran yang membuat tak ada suara di seberang sana. Sera yakin sekali, perempuan itu sedang menahan rasa cemburu. Seharusnya dia paham, Sera sudah punya Barat. Tak mungkin Sera mendekati Dipta demi tujuan seperti dalam pikirannya.
“Hallo Ber?” tanya Sera karena tak ada balasan.
“Bikin kontennya masih lama ya? Tadinya mau minta tolong temenin ambil stok barang di pabrik. Tapi gak jadi deh Ra, karyawanku sudah mau datang katanya.”
“Eh, beneran? Kalau memang mau ditemani, aku bisa kok Ber. Tenang aja, bikin kontennya sudah beres.”
“Gak usah Ra. Mbak Windy sudah datang soalnya. Udah dulu ya, see you!”
Itulah yang terjadi beberapa tahun ini. Sesuatu yang membuat Sera menyangsikan perasaan Dipta. Apakah cowok itu memang tidak peka? Atau dia hanya pura-pura tidak peka? Hal ini membuat Sera semakin terbebani. Ketika salah satu sahabatmu memendam rasa, maka kecemburuan itu datang seperti panas hati yang tak terbendung. Dan secara tidak langsung, selalu ada korban yang tidak bersalah.