.4. Selamat Tidur

1535 Kata
**** Gak mudah jadi orang yang paling mencintai. **** Nacita Fashion adalah merk dagang untuk outfit wanita yang akhir-akhir ini laris manis di beberapa e-commerce. Berlian Nacita yang kerap disapa Berlin adalah owner dari bisnis itu. Semasa kuliah dulu, dia sudah mulai jualan baju secara online. Lama kelamaan, bisnisnya semakin besar. Bahkan dia bisa menyewa apartemen mewah di daerah Jakarta Selatan. Sungguh, pencapaian yang luar biasa. Berlin membawa beberapa set baju untuk dibawa ke customer yang melakukan komplain via w******p. Semua ini terjadi karena human error. Salah satu pegawainya salah mengirim pakaian. Dikarenakan ini hari minggu, mereka libur. Terpaksa, Berlin yang susah payah ke daerah Kuningan untuk menukar barangnya. Demi reputasi yang baik di platform e-commerce itu, Berlin sampai bela-belain. Padahal dia lagi sibuk menghitung total penjualan bulan ini.  “Hallo mbak, maaf, jadinya ketemu dimana?”tanya Berlin dengan suaranya yang paling lembut. Dikarenakan pelanggan adalah raja, maka Berlin bersikap sebagai pelayan.  “Mbak, saya lagi makan bareng keluarga di Restoran Stakissa. Apa boleh mbak kesini aja?” “Oh, boleh banget mbak. Resto  itu juga lebih dekat daripada harus ke kuningan. Baik, saya sedang on the way ya mbak.”balas Berlin mengiyakan. Mobilnya melaju cepat ke restoran itu. Restoran yang bahkan belum pernah dikunjungi Berlin. Setahu Berlin, makanan disana harganya mahal. Make sense sih, orang yang mau Berlin temui menghabiskan dua juta lebih hanya untuk dua stel baju. Ia tiba di sana setelah perjalanan yang lumayan panjang. Bukan karena jarak yang jauh, tapi macet yang menjadi. Ia berjalan cepat setelah customernya itu mengirim pesan agar Berlin naik ke lantai 2. Dan saat ia sampai disana, ia takjub dengan design interior yang sangat memanjakan mata. Berlin sangat terpukau dengan suasana disana. Dia hendak mencari keberadaan wanita itu, hingga lambaian tangan membuatnya tersenyum. Dia tak marah seperti kebanyakan customer yang merasa dikecewakan. Malah dia memberikan pujian karena Berlin bergegas mengantarkan barang itu. Setelah puas melihat barang yang dibawa Berlin, dia memberikan tips hingga ratusan ribu. Mungkin dia tidak tahu bahwa Berlin adalah owner dari brand itu. Tapi Berlin gak mau sombong, ia menerima dengan hati yang lapang. Setelahnya, dia pamit dengan sangat sopan. Hatinya yang hangat seketika memudar saat melihat seseorang disana. Pacar sahabatnya tampak sedang pertemuan keluarga. Saat Barat memeluk gadis kecil itu, Berlin semakin curiga. Mereka tampak seperti. Ahh, tidak. Lebih baik bertanya langsung pada Sera.  “Permisi mbak, mau kemana ya?”tanya seorang waiters. Berlin berdiri seperti orang kebingungan. Bahkan, dia tidak tahu dimana pintu menuju ke lantai 1.  “Toilet dimana ya?”tanya Berlin mencari alasan. Apalagi dia gak biasa nangkring di resto mewah seperti ini. Bagi Berlin, makan di pinggir jalan lebih enak.  “Di sebelah sana mbak.” “Oh iya, terima kasih.”ucap Berlin bergegas pergi. Demi apapun, dia harus bertanya langsung pada Sera. Pikiran negatifnya datang saat melihat pemandangan tadi. Tidakkah itu terlalu aneh? Sera tak pernah cerita kalau Barat sekaya ini. Dan bahkan, Sera belum pernah bertemu keluarga Barat. Ya, mereka pacaran seakan tanpa komitmen. “Aku lagi di rumah Dipta.” Satu kata yang membuat Berlin berhenti. Bahkan mulutnya tak bisa bicara. Mau sampai kapan kecemburuan ini memenuhinya? Dan muncullah rasa ketakutan di dalam dirinya. Jika prediksi Berlin benar, maka semuanya akan berakhir.  “Gak usah Ra. Mbak Windy sudah datang soalnya. Udah dulu ya, see you!” Kalimat terakhir yang diucapkan Berlin. Ia langsung mematikan panggilan. Ia dipenuhi rasa bersalah. Tapi seketika, kepercayaan dirinya datang. Alangkah baik jika ia memastikan apa yang terjadi. Jika sudah yakin, barulah ia jujur pada Sera. Ya, jangan hancurkan persahabatan sepuluh tahun ini.  Berlin bergegas keluar dengan hati-hati. Ia mengambil foto diam-diam. Dia lakukan itu setelah memastikan tidak ada waiters atau pelanggan yang melihat. Dan dengan sigap, ia berjalan keluar dari restoran itu. Dia juga tidak mau terlihat oleh Barat.  Dia berdiam sejenak di mobilnya. Ia cek kembali foto itu. Sebuah foto yang seakan menampilkan sebuah keluarga bahagia. Barat, perempuan cantik di sampingnya dan anak perempuan cantik yang rambutnya dikepang. Ada juga sepasang suami istri yang sudah berumur bersama mereka. Ini bukan pikiran Berlin yang berlebihan. Tapi semua ini menunjukkan kalau Barat seperti bersama keluarganya. Tidak! Tidak mungkin! Tidak mungkin Sera pacaran dengan orang yang sudah berkeluarga. *** As expected, Dipta mengalami peningkatan followers dalam satu minggu ini. Tak ada yang tahu alasannya. Mungkin wajah tampan Dipta jadi salah satu faktornya. Berita baik lainnya, penjualan Varda Cosmetic meningkat drastis. Sesuai janjinya, Dipta dan Sera mendapat undangan pertemuan kedua.  “Jangan lihatin handphone mulu, Ra. Makan dulu.”protes Barat saat mereka lagi makan siang. Barat sampai datang ke Trinita Production hanya untuk menemani Sera makan siang. Dia menghabiskan waktu 15 menit dari kantornya untuk sampai disana. “Iya, mas. By the way, aku baru dapat job baru.” “Apaan?” “Dipta ngajakin aku bikin konten gitu. Dan dapat bayaran. Kamu tahu kan, kayak endorse gitu lah.” “Oh, baguslah. Kamu tabung ya. Jangan langsung dipakai jajan.”ucap Barat penuh perhatian. Sera mengangguk paham. Mereka menikmati makan siang dengan lahap. Selera makan akan meningkat ketika bersama dengan orang yang dicintai. Sera paham betul bagaimana rasa cinta itu bekerja. Tanpa disadari, Barat bisa membuatnya lebih menghargai hidup. Dan setiap prestasi Sera di Trinita Production, didukung penuh sama Barat. Dia adalah pacar yang kalau kata anak sekolah bisa memacu semangat belajar. Pacar yang menjadi support system bagi Serani Floella.  “Ini buat cemilan kamu di kantor.”ucap Barat sambil memberikannya paper bag berisi donat kesukaan Sera. Sera menerimanya dengan senyuman khas di wajahnya. Barat bergegas pergi karena jam makan siang hampir berakhir.  How sweet he is. Tingkah Barat yang seperti ini selalu membuat hati Sera merona. Tingkah yang limited edition. Tiada satu orang pun di dunia ini yang semanis Barat. Seketika Sera berhenti berjalan. Ah, dia belum sempat bilang secara detail soal job barunya. Mungkin lain kali saja.  Dia segera bekerja agar bisa pulang on time. Lama-lama badannya bisa remuk karena bekerja terlalu keras. Berangkat pagi, pulang malam. Sungguh rutinitas yang membosankan. Tapi mau bagaimana lagi. Lebih baik banyak bersyukur karena posisi Sera sekarang banyak yang menginginkan juga. Saat dirinya terhanyut dalam perhitungan debit kredit, dering notifikasi terdengar sangat mengganggu. Grup yang beranggotakan wanita itu ramai oleh sesuatu hal. Sebab rasa penasaran, Sera membukanya. Ajakan dari lima orang teman kuliahnya untuk bertemu di Senayan City. Sebenarnya, Sera dan Berlin tidak terlalu suka dengan pertemanan toxic itu. Mereka sering sekali memamerkan hidupnya. Seakan mereka berada satu langkah didepan yang lain.  Sera langsung menelpon Berlin. “Jadi ikut gak?” “Duh, mereka tuh gak tahu waktu deh.”komentar Berlin dengan suara kerasnya. “Terus gimana?” “Entar kita diomongin lagi. Tahu sendiri kan.” “Ya udah, kita ikut aja yuk?” “Oke deh, gue jemput lo ke Trinita ya. Kita bareng ke sana.” “Siap. Bye, Ber!” Setelah bicara dengan Berlin, Sera langsung mengiyakan untuk bertemu di tempat itu. Tentu saja reaksi mereka sangat positif. Tapi Sera sendiri merasa sangat terpaksa untuk pergi kesana. Apalagi, dia harus buru-buru membereskan pekerjaannya agar bisa tiba disana tepat pukul 6.  “Jadi gimana Ra, kapan nikah sama mas yang itu?”komentar pertama yang keluar saat mereka bertemu. Desakan seperti ini membuat Sera tidak nyaman. Sera juga mau jika menikah besok, tapi Mas Barat belum tentu mau. “Doakan aja ya. Aku juga mau kok nikah cepat.” “Emang belum ada tanda-tanda ke arah sana?” “Santai aja sih, umur juga masih muda.”ucap Berlin mencoba menjadi penengah. Dan lagi, Berlin tidak suka wajah Sera berubah masam. Berlin paling benci jika ada pembahasan seperti ini. Makanya, dia lebih memilih orang yang bersangkutan bicara langsung daripada di tanya dulu. Lagian ya, urusan orang mau nikah sekarang atau besok. Gak usahlah dipaksain. “Bukan soal itu Ber, Sera kan pacaran udah tiga tahun. I think, sudah saatnya maju gitu. Harus ada gebrakan. Jangan jalan di tempat.” “Setuju gue. Takutnya entar malah kayak orang-orang. Pacaran bertahun-tahun, eh nikahnya sama yang lain. Duh, amit-amit deh.” Sera terlihat mengambil hati ucapan itu. Muncul kekhawatiran di dalam hatinya. Apakah pacaran tiga tahun ini akan berakhir seperti orang di luar sana? Kisah yang sudah umum dan menjadi wajar bagi semua orang. Sepulang dari pertemuan itu, pikiran Sera tak bisa lepas dari ucapan teman-temannya. Dia bergumul dengan pikiran sendiri. Hingga akhirnya, dia memberanikan diri untuk menelepon Barat.  “Apa mas gak berniat menikahiku?”tanya Sera setelah basa basi sebentar. Tak ada suara dari seberang. Tentu saja Barat kaget mendengarnya. Tiada angin, tiada hujan, tapi pertanyaan itu terucap begitu saja. Di malam yang kini sedang menuju subuh.  “Kenapa tiba-tiba nanya gitu?” “Ini bukan sesuatu yang tiba-tiba. Sudah berkali-kali aku ngasih kode. Mas gak pernah peka.” “Argh, aku rasa kita harus bertemu. Bicara via telepon rasanya kurang tepat.” “Baik. Kapan mas bisa?” “Lusa. Kamu bisa kan?” “Iya mas,” “Selamat tidur Sera.” “Selamat tidur mas.” Bukannya tenang, Sera semakin menggila. Dia tidak bisa tidur. Apa yang selama ini ada dipikiran Barat? Ketulusan yang Sera terima tak terlihat palsu. Sayangnya, mendengar suara Barat barusan, seakan ada yang mengganjal. Mungkinkah pria itu menyembunyikan sesuatu. Tidak! Tidak mungkin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN