Seiring berkembangnya zaman, sudah tak asing jika stasiun televisi atau platform lain mengadakan semacam award untuk content creator. Mereka rela menghabiskan banyak uang untuk acara itu. Dan tentu ini tidak merugikan mereka. Sebab mereka bisa mendapat profit yang jauh lebih besar ketimbang sibuk dengan acara televisi yang begitu-begitu saja.
Dengan adanya acara ini, orang biasa bisa terlihat lebih hidup. Ada kesempatan bagi mereka untuk show off. Dan tentu saja meningkatkan level famous untuk jadi lebih tinggi lagi.
“Bang, ayolah. Yang semangat!!”ucap Kilau dengan wajah yang ikut memelas. Dipta bahkan sudah hiatus hampir sebulan dari dunia maya. Dia gak mau cerita sama Kilau. Kalau saja dia mau cerita, mungkin Kilau bisa menu solusi untuk masalahnya.
Apa ini soal cinta? Cinta segitiga antara ia dan dua sahabatnya? Know knows, tapi itu alasan paling logis.
“Sudah cukup hiatus nya. Dan kabarnya, abang kan masuk nominasi juga.”
“Apa pentingnya masuk nominasi?”
“Penting dong. Makin banyak yang kenal. Terus, makin tinggi engagement. Entar endorse makin gede.”
Dipta hanya diam sambil mengancing bajunya. Kilau pergi sambil menghela nafas. Biarin aja Dipta merenung dulu, yang penting dia harus ikut.
Sejak tahu Sera sakit, Dipta tak bisa lagi hidup normal. Waktu bisa mengambil nyawa perempuan itu dalam sekejap. Siapa yang bisa memastikannya? Bahkan dokter sekalipun tidak bisa menjamin keakuratan prediksinya.
Saat ia sedang sibuk mikirin yang lain, mama muncul dari balik pintu. Duduk di sampingnya dengan wajah penuh pengertian.
“Dip, kalau kamu sudah jenuh bilang sama mama.”
“Maksud mama apa?”
“Bekerja memang menyusahkan. Mungkin awalnya kita ngebet banget bisa jadi seperti ini dan itu. Tapi ada saatnya kita jenuh dan merasa gak cocok. Dan,,, itu bukan masalah. Kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau.”
“Ma, gak usah khawatirkan aku.”
“Mau berhenti, yowes. Mama gak masalah. Mama sama papa masih punya tabungan buat biayain kamu. Dan gak masalah juga kalau kamu nanti berkeluarga. Mama siap menanggung.”
“Ma!!”tegas Dipta sambil menoleh ke arahnya. “Mama jangan kayak gitu. Pertama, aku gak jenuh sama pekerjaan ini. Malah, ini pekerjaan paling baik karena aku gak harus patuh sama seorang bos. Dan yang kedua, gak ada anak yang pengen nyusahin orang tuanya.”
“Iya, Dip. Mama tahu. Tapi mama pengen kamu bahagia. Jangan kayak gini.”
Seyogianya, orang tua dan anak ingin saling membahagiakan. Bahkan seorang anak yang lahir dari keluarga konglomerat ingin hidup mandiri. Orang tuanya bukan tidak bisa menjamin hidup anaknya sampai nanti tua. Tapi anak pasti punya rasa ingin berjuang sendiri.
“Aku gak apa-apa kok, ma.”
“Baguslah. Pokoknya mama selalu siap sama keputusanmu.”
“Iya, ma. Udah sana, aku masih mau persiapan dulu.”
“Iya.”ujar wanita itu seraya berjalan hendak keluar. Kemudian dia berhenti dan menoleh. “Oh ya Dip, Sera kok gak pernah lagi datang kesini? Kalian gak berantem kan?”
“Enggak ma. Dia ada urusan lain aja.”
“Tapi dia kabar baik kan?”
Dipta mengangguk ragu. “Oke deh, mama ngurusin Kilau dulu.”ucap mama sambil bergegas pergi.
Mau berapa kali Dipta harus berdusta? Dia bahkan ingin mendustai dirinya sendiri. Berpikir kalau Sera akan berumur panjang. Dan mereka akan bersama sampai tua. Oke, tidak masalah jika cintanya sepihak sampai akhir hayat. Tapi bolehkah Dipta meminta agar waktu hidupnya diperpanjang? Setidaknya sampai rambut mereka sama-sama putih. Keinginan ini tak bisa diwujudkan begitu saja. Dia bukan dewa atau semacamnya. Meminta pada dukun pun rasanya tidak etis. Zaman sudah canggih, bukan waktunya mengandalkan hal gaib di dunia ini.
“Demi apa? Nanti Duta Sheila On 7 bakal datang?”ucap Kilau dengan wajah syok tak menyangka. Dia emang anak kelahiran 2000an, tapi jangan salah. Lagu favoritnya berasal dari zaman dulu. Dia begitu terkesima dengan band-band terdahulu. Band yang sampai sekarang belum bisa diikuti oleh orang zaman sekarang. Bisa dilihat tak ada satupun band yang dikenal di era generasi Z saat ini.
“Iya. Jangan malu-maluin ya.”
“Bang, aku ngefans banget sama Om Duta.”
“Abang juga kok. Tapi ngefansnya masih normal.”
“Emang siapa yang gak normal?”tanya Kilau marah.
“Kamu. Anak zaman sekarang kalau ngefans sama orang kayak orang itu dijadikan dewa. Gak banget.”
“Heh, jangan menghina ya.”
“Bukan menghina. Itu namanya kenyataan.”
“Bodo ah. Abang kaku banget kayak generasi boomers. Pokoknya, aku nanti mau duduk paling depan. Biar bisa rekam Om Duta dari dekat. Duh, excited banget.”
Sampai di tempat itu, mereka dihadang oleh wartawan dan media. Bahkan ada influencer yang hobi menyapa influencer lain. Tentu saja dengan bantuan kamera yang tak lepas dari tangannya.
“Halo, sapa dong Kak Dipta.”
“Hai semua!”
“Kasih pendapat dong soal hubungan Kak Dipta sama Kak Sera. Beneran ada hubungan spesial kah?”
“Engga, itu cuma hoaks. Kami berteman cukup lama. Mungkin sekitar 9 tahunan. Jadi, jangan bikin kesimpulan sendiri ya. Terima kasih.”
Dipta hendak pergi, tapi cowok itu menahannya. Kali ini tanpa rekaman kamera.
“Beneran yang lo bilang?”
“Iya. Emang kenapa?”
“Berarti gosip-gosip itu salah dong?”
“Ya iya. Makanya jangan terlalu percaya.”
“Terus kenapa lo hiatus? Udah mau satu bulan loh.”
“Hmm, ada urusan pribadi. Dan gue bakal balik kok. Lo lihat sekarang kan?”
Cowok itu berhenti bertanya. Dia kembali fokus dengan influencer lain yang baru saja tiba. Dipta mencari tempat duduk yang ditujukan untuknya. Ternyata Kilau sudah lebih dulu sampai disana. Dia melambaikan tangan kepada Dipta.
“Gila Bang. Ada artis yang baru naik daun itu. Terus pemain film juga ada.”
“Mau minta foto?”
“Engga, ah. Aku cuma mau foto sama Om Duta.”
“Dasar!”
Acara dimulai dengan hingar bingar suara dari para penyanyi. Dunia ini unik dengan beragam kebetulannya. Kilau tertuju pada Berlin yang entah kenapa bisa ada disini. Cewek itu menghampiri mereka.
“Kak, ngapain disini?”tanya Kilau.
“Hmmmm, kebetulan aku diundang sama satu brand. Jadi datang aja.”
“Sendirian?”
“Hooh.”
“Duduk disini aja kak.”
“Eh, gak usah. Aku bisa tunggu diluar.”
“Engga. Kakak disini aja kenapa sih?”tegas Kilau. Ia tahu ada yang tidak beres antara Dipta dan Berlin. Walau begitu, Kilau tetap ingin mereka bisa baikan. Bagi Kilau, Berlin dan Sera sudah seperti kayak sendiri. Mau gimanapun mereka, sulit untuk membenci mereka.
“Aku takut ada yang tidak suka.”
“Bang, gak apa-apa kan?”tanya Kilau menyakinkan. Bikin Dipta serba salah.
“Terserah.”balas Dipta singkat.
Akhirnya, Berlin duduk disana. Menikmati malam ini dengan pertunjukan yang memanjakan mata. Tak hanya itu, Dipta memenangkan award untuk kategori content creator paling disukai. Pencapaian yang cukup bikin kaget karena Dipta gak terlalu peduli dengan award ini.
“Keren banget abang gue!”ucap Kilau sambil terus mengambil foto dengan kameranya. Dipta tampak sempurna dengan outfit yang ia kenakan. Wajar banget kalau Dipta punya banyak fans perempuan. Apalagi mereka yang didominasi generasi Z.
“Iya kan kak?”
“Hmm, of course.”
“Kakak masih ada masalah sama Bang Dipta?”
“Begitulah.”
“Apapun itu bukan urusanku sih. Tapi aku lagi kesal banget sama fans-fans norak itu.”
“Fans norak?”
“Iya. Netizen yang jadiin Kak Sera korban. Padahal Kak Sera gak ngelakuin apa-apa. Kalau aja aku ketemu orangnya, akan ku benci seumur hidup.”
Berlin terhenyak. Rasanya seperti diomongin secara langsung. Dia salah satu orang yang dibicarakan Kilau. Ada rasa takut di dalam dirinya. Jika ketahuan, habislah ia. Tak ada lagi orang yang mendukungnya.
“Kil, aku kesana bentar ya. Mau bicara sama orang brand dulu.”
“Iya kak.”
Berlin sungguh tidak nyaman. Dia bergegas pergi walau dengan alasan yang tidak nyata. Lebih baik menghindar untuk saat ini.