Malam itu, Barat mencoba mencari tahu tentang Hendra. Pria yang melarikan uang perusahaan tanpa rasa bersalah. Dengan kemampuannya, Barat berhasil mendapat informasi penting tentang pria itu. Dia menyelesaikan banyak hal hingga pagi. Sampai Gemini melambaikan tangan hendak pergi ke sekolah.
Barat masih berada disana. Duduk dengan memijat kepalanya. Dia langsung beranjak waktu tahu ada mobil terparkir. Dan prediksinya tepat, Varda baru saja tiba. Walau dengan wajah lusuh dan mata sembab. Kelihatan sekali kalau dia kurang tidur.
“Loh, kamu bukannya kerja?”tanya Varda saat melihat Barat menantinya di depan pintu.
“Ada yang lebih penting dari kerjaan-ku.”tegas Barat sambil meraih tangan Varda. Membawanya ke kamar itu. Kamar yang terlihat crowded karena belum diberesin dari kemarin. Pembantu di rumah ini agak jarang membersihkan kamar Barat. Barat harus memberi mereka perintah jika ingin kamarnya dibersihkan. Barat tidak suka ada yang menyentuh barang-barangnya sembarangan.
“Kita bisa menyelamatkan uang perusahaan karena lokasinya sudah terlacak.”ucap Barat sumringah. Bikin Varda penasaran sekaligus senang.
“Ahh, tapi aku lagi bingung. Untuk ngurusin Hendra pasti butuh waktu. Operasional benar-benar butuh dana.”keluh Varda sambil memegang kepalanya. Ini kali pertama ia menceritakan masalah pekerjaannya pada Barat. Semua ini tanpa disengaja. Terjadi dengan naluri dan anggapan kalau Barat akan peduli padanya.
Barat jadi ikut merasa diandalkan. Dan ini perasaan yang ia inginkan dari dulu. Kepala rumah tangga yang benar-benar nyata. Dan bukan cuma status yang sekedar.
“Hmm, aku punya tabungan. Apa mau digunakan saja?”
“Tapi,,,”
Ucapan itu terhenti saat Varda ingat ucapan Raina. Barat adalah tipe pria yang ingin diandalkan. Dan tentu saja dianggap ada.
“Apa boleh?”
“Tentu saja. Dan kau tak perlu mengembalikannya.”
“Sebagai gantinya, aku yang traktir kalau makan diluar.”
“Hmm, oke.”
“Dan satu lagi, jangan kasih tahu sama mama papa.”
Barat mengangguk setuju.
Varda merasa sangat tenang. Mudah saja baginya mendapatkan uang itu. Dia punya orang tua yang menyokong setiap saat. Bangkrut saja tidak masalah. Tapi Varda harus rela mendapat pandangan remeh dari mereka. Menganggap bahwa Varda tidak becus dalam bekerja. Dan diremehkan seperti itu gak enak sama sekali.
“Kayaknya aku saja yang rugi kalau begini.”
“Hah?”
“Aku ngasih uang, bahkan menjaga rahasia ini dari mama papa. Terus, kamu ngelakuin apa dong?”
Varda langsung tertawa. “Oke, kamu mau apa?”
“Sarapan yang enak.”
“Oke, aku traktir makan.”
“Jangan ditraktir tapi di masakin.”
“Hmm, baiklah. Aku udah lama gak masak. Kalau gak enak, kamu yang tanggung jawab.”
Varda bergegas pergi. Barat melihatnya begitu dalam. Sangat antusias hingga membuatnya melupakan segala hal. Terutama prioritas tentang dirinya saja. Baginya, uang itu tak ada artinya. Buat apa seorang pria bekerja siang malam? Pria manapun akan bangga jika uang itu digunakan oleh orang yang ia sayangi.
***
Ini semacam acara keluarga. Makan malam di restoran hotel dengan suasana malam yang menyenangkan. Sera benar-benar sudah tidak sabar. Sehari-hari ia sibuk dengan makanan tidak enak dan obat yang pahit. Jadi dia udah nungguin banget malam ini.
“Ma, kita cuma berdua. Kayak pacaran aja.”ucap Sera sambil duduk di kursi yang sudah dibooking dari jauh-jauh hari.
“Bagus dong. Artinya kamu bisa manja sama mama.”
“Berarti aku boleh minta apa aja?”
“Hmm, boleh. Yang penting gak ganggu kesehatan kamu ya.”
“Bawel ih, mama.”
Sajian diberikan secara bertahap. Dan semuanya sudah satu paket. Saat sajian pertama dihidangkan, mereka kedatangan tamu yang tak diundang. Raina bersama dengan putrinya, Tasha.
Seperti berkaca pada diri sendiri, mereka tampak sama.
“Eh, ini siapanya Sera? Teman kuliah?”tanya Pi sambil menerima jabatan tangan itu.
“Saya rekan bisnisnya, bu. Kebetulan beberapa kali sudah ketemu.”
“Oh begitu. Kalian mau makan juga?”
“Iya. Saya sama putri saja. Kalau begitu silahkan dilanjutkan.”
Sera menarik nafas panjang. Agak syok karena ada pertemuan lagi antara dia dengan Raina. Kebetulan yang aneh. Tapi Raina mengajaknya untuk bicara berdua jika makan malam itu sudah usai.
Mereka berdiri di balkon gedung restoran sambil melihat pemandangan malam yang cukup menarik. Tapi tak terlalu indah sebab sudah jadi makanan sehari-hari bagi orang Jakarta seperti mereka.
“Apa kabar?”tanya Raina dengan gaya khasnya yang sedikit tegas.
“Begitulah.”
“Agak aneh ngomong gini, tapi terima kasih untuk saranmu sebelumnya. Sekarang, mereka sudah baik-baik saja.”
“Benarkah?”tanya Sera tidak percaya. Sudah mau satu bulan ia gak chattingan dengan Raina. Alasannya. Wanita itu sudah tidak ada pertanyaan lagi. Dan Sera sibuk dengan hidupnya. Merasa bahwa usahanya sudah cukup. “Tapi untuk apa mbak ngasih tahu sama saya?”
“Karena mau berterima kasih. Kalau cara itu gagal, jelas saya tidak ingin bicara sama kamu.”
“Ah, I see.”
“Sekarang, kau sibuk apa? Kudengar sudah resign dari kantor.”
“Hahah, mbak sampai mencari tahu semuanya?”tanya Sera tidak percaya. Well, Raina pasti sangat sanggup menyewa detektif untuk membuntuti Sera. Yang tidak disangka, dia tahu hal sedetail itu. “Apa mbak tahu yang lain juga?”
“Yang lain apa?”
“Syukurlah. Tidak apa-apa, cuma sesuatu yang tidak penting.”ujar Sera sambil tersenyum.
Mereka menyelesaikan percakapan itu saat Pi memanggil dari jauh. Ini sudah terlalu malam.
“Aku pulang ya mbak. Punya orang tua strict emang susah.”
“Okay, Ra. Hati-hati.”
Raina melihatnya pergi dan menghilang dari pandangan mata. Coba memikirkan ulang soal perselingkuhan. Andai dulu Ervan mau berubah, hidupnya pasti akan lebih baik. Sayang sekali, suaminya itu seperti punya penyakit yang tak bisa sembuh. Hanya kematian yang bisa membuatnya berubah dan tidak main perempuan.
“Ma, sebelum pulang aku mau beli baju dulu. Di bawah ada butik Zara kan?”
“Ya udah.”
“Beneran boleh?”tanya Tasha tidak percaya.
“Iya. Tapi dalam tiga bulan, kamu gak boleh belanja apa-apa.”
“Hmm, gak apa-apa deh.”balas Tasha sambil merangkul tangan Raina. Baju yang ia incar selama berbulan-bulan itu harus jadi miliknya.
Raina mulai curiga tentang Sera. Apa yang ia sembunyikan? Ia tampak tidak baik-baik saja. Ya, keadaan yang berbeda dengan apa yang ia katakan.
“Hallo, apa kamu bisa cari sesuatu untuk saya?”ucapnya via telepon. Tasha sedang sibuk memilih baju yang ia inginkan. “Cari tahu lagi tentang dia. Kabari saya apapun yang kamu dapat.”