.50. Didengarkan

1187 Kata
Ketukan pintu yang keras membuatnya bergeser dari posisi nyaman itu. Tak ada yang boleh mengganggunya di hari libur ini. Orang-orang sih ngebet pergi liburan. Bagi Berlin tidur di kamar seharian adalah liburan paling menyenangkan. Matanya yang setiap hari bekerja keras bisa beristirahat sejenak. Weekend selalu terasa singkat. Rasanya hari senin sudah siap menunggu di depan mata. “Kata mama makan.”ucap Johan sambil berkaca di cermin besar itu. Berlin masih mencoba untuk membuka matanya lebar-lebar. “Belum lapar. Ganggu aja sih, sana pergi!” “Di rumah mulu. Gimana mau dapat pacar?” “Bacot!” “Apa gak mau ikut bareng aku?” “Najis. Emangnya enak jadi nyamuk?” “Entar dikenalin deh sama temen. Siapa tau cocok.” “Sana ih. Aku mau tidur!” Berlin melempari Johan bantal. Johan langsung pergi tanpa menutup pintu. Berlin menarik nafas kesal sambil beranjak. Menutup pintu dengan langkah gontai. Dia kembali merebahkan diri tapi udah gak bisa tidur. “Johan kampret!!”teriaknya kesal.  Ia duduk dan melihat jam menunjukkan pukul satu siang. Ternyata sudah selama itu ia terlelap.   Ia membuka handphone dan mengecek notifikasi yang menyangkut pekerjaan. Lalu ia membuka hiburan terakhir. i********:. Kekesalannya memuncak saat ia melihat Dipta mengupload foto bersama Sera. Seseorang yang terbakar cemburu akan susah memadamkan api di hatinya. Semakin di renungi, dia jadi satu-satunya korban disini. Mereka tetap bersama tanpa memperdulikan perasaan Berlin. Ini gak adil! Dia mulai membaca komentar orang. Dia makin kesal dong. Semua orang memuji dan berpikir kalau mereka itu couple goals. Ini semua sangat menyebalkan. Begitu dalam ia mencintai, tapi sedalam itu juga ia disakiti. Orang egois cenderung merasa paling tersakiti. Ia tidak sadar sudah pernah menanam luka di hati orang lain. Dengan upaya yang gelap mata, ia menyebar fakta bohong untuk akun Lambe Turah. Ia ingin orang-orang tidak merestui hubungan itu. Sera perlu sadar bahwa dirinya tidak seberuntung itu.  “Biarin deh, biar tau rasa.”gumamnya kesal.  Setelah itu ia berniat makan. Tapi makanan yang terhidang tak membuatnya selera. Ia langsung pergi ke supermarket terdekat. Selalu ada makanan instan yang  menarik untuk dinikmati.  Tempat itu tak terlalu jauh dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Berlin sudah sangat lapar dan ia mempercepat langkahnya. Ia sampai disana dan memesan oden dengan topping yang beraneka ragam. Duduk di kursi yang menghadap jendela dengan segelas minuman segar rasa buah.  “Argh, wanginya enak banget.”gumamnya sambil menyeruput kuah.  “Kak, Berlin!”sapa seseorang membuatnya melirik ke arah kanan.  “Kilau?” “Hai, kak.”ucapnya sambil tersenyum.  “Lagi belanja ya?” “Iya nih, nemenin Bang Dipta.”ucap Kilau sambil menunjuk ke luar. Dipta menoleh dengan muka acuh. Dia sungguh membenci Berlin. Dia gak punya hati. Dia sudah tahu kalau Berlin menyukainya. Bukankah ini terlalu kejam? Kalaupun dia gak suka, harusnya sikapnya sedikit lebih berperasaan.  “Udah ya kak, Bang Dipta udah nungguin. Selamat makan.” “Iya, Kil. Hati-hati ya.” Kilau mengangguk sambil tersenyum. Kepergian itu bikin mood makan Berlin hilang. Ia jadi gak berselera. Bahkan untuk saling menyapa, Dipta sudah ogah. Sangat menyakitkan hingga membuat Berlin tak berniat menghabiskan makanan itu. Ia pulang ke rumah dengan pikiran kalut. *** Mereka baru saja mendapat perawatan dari salon langganannya. Dengan teh aroma melati mereka menunggu perawatan selanjutnya. “Beneran?”respon Raina seakan tak percaya. Semua cerita Varda seperti impian seorang putri yang mengharapkan pangeran datang. “Makasih banyak. Ternyata hidup itu butuh saran dari orang lain.” “Pantesan kelihatan lebih bercahaya.” “Emang iya?” “Kali ini fokus mu gak cuma Varda Cosmetic lagi. Tapi Barat juga.” “Ngaco. Tahu darimana sih?” “Beneran, Var. I can see it.”ucap Raina yakin. “But happy for you. Really.” “Thanks, Rain. Semua ini gara-gara kamu juga.” Raina terpesona dengan pujian itu. Walau manusia diberi kemampuan untuk iri, setiap manusia kayak punya pengecualian. Kepada sahabat yang begitu berarti, rasa iri itu berubah jadi bahagia. Itulah yang dirasakan Raina. Jika melihat orang lain, dia kadang merasa miris dengan dirinya sendiri. Tapi untuk Varda, ia merasa bangga. Senang melihat sahabatnya itu bahagia lagi. “Hari ini aku yang traktir ya. Abis ini kita makan dulu.” “Okey, tawaran diterima.” Mereka diarahkan untuk perawatan selanjutnya. Kali ini rambut dan pijatan kepala. Melihat Varda kembali mendapatkan apa yang ia inginkan, Raina jadi mengingat Sera. Dia patut dianggap berjasa. Walau belum baik sepenuhnya, setidaknya ada perubahan di keluarga Varda dan Barat. Sekecil apapun, itu sangat membantu. Dengan wajah cerahnya, mereka berpisah di parkiran. Varda melaju untuk segera pulang. Tapi sebuah panggilan membuatnya berhenti.  “Hallo,” “Bu, bagaimana ini?”ucap orang di seberang panik. “Ada apa?” “Ada yang tidak beres bu. Pak Hendra sudah tidak masuk selama tiga hari. Dan pembayaran gaji karyawan ditolak sama bank. Saya tidak yakin, tapi Pak Hendra gak bisa dihubungi.” “Oke. Kamu tunggu disana. Panggil Tim IT, saya akan segera kesana.” “Baik, bu.” Varda menarik nafas panjang. Dia mencari kontak Hendra dan menelfonnya. Tapi panggilan tidak dapat dilakukan. Sial!  Dalam waktu tiga puluh menit, Varda tiba disana dengan panik dan khawatir. Dibantu tim IT, ia mendapat informasi bahwa Hendra sengaja kabur dengan uang perusahaan. Bahkan ia mengambil alokasi gaji karyawan untuk bulan ini.  “Argh, gila. Ini tidak masuk akal.” “Bu, ini informasi yang saya dapat. Pak Hendra terlibat kasus penipuan investasi ilegal. Itulah kenapa dia pergi dari perusahaan ini.” Varda memijat kepalanya. Pusing sekali dengan kejadian yang tidak disangka ini. Dia begitu percaya pada Hendra. Banyak sekali sisi positif yang ia terima saat bekerja sama dengan pria itu. Namun kini, kepercayaan itu sudah hancur. Dia jadi ingat ucapan mama. Percaya pada keluarga saja sulit apalagi pada orang lain. Harusnya Varda sadar dari dulu. Ucapan orang itu seperti jimat yang kebenarannya hampir dapat dipastikan. “Ibu, kita harus cepat bertindak.” “Oke. Kamu telusuri tentang Hendra. Lalu, tolong laporkan ke bank soal masalah ini.”ucap Varda dengan ragu-ragu. “Dan untuk penggajian, kita atur berdua.”ucapnya pada sekretarisnya. Malam ini ia harus lembur dengan banyaknya perubahan. Terpaksa ia menggunakan uang pribadinya untuk menggaji karyawan. Okelah untuk satu bulan, tapi bulan depan tak dapat dipastikan. Varda butuh suntikan dana yang lumayan.   Semalam suntuk ia disana. Bau keringat bukan masalah lagi. Sampai di pukul 3 dini hari, ia mendapat panggilan. Dari Barat. Dengan berdehem dahulu, ia menerima panggilan itu. “Hallo,” “Ehm, gak niat mengganggu. Tapi kau janji akan bermain sama Gemi.” Oke, penjelasan yang tidak masuk akal. Tapi Varda ingat akan janjinya itu. Terpaksa ia membatalkan secara sepihak.  “Aku baru ingat. Tapi ada kerjaan di kantor.” “Bukannya kamu lagi ngambil cuti?” “Well, ceritanya panjang. Tapi ada masalah besar.” Setelah curhat sama Barat, Varda merasakan kelegaan. Entahlah, ketika kita didengar dengan baik, ada rasa tenang di hati. Seakan setengah beban baru saja pergi. Varda kembali berkutat dengan pekerjaannya. Ia harus memastikan penggajian dulu. Telat membayar gaji karyawan adalah hal yang paling krusial. Dia gak mau muncul asumsi baru soal Varda Cosmetic. Dan ini menyangkut hak banyak orang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN