.49. Rindu

1172 Kata
Waktu terus berjalan. Banyak hal yang dianggap tak seberapa. Dan lebih baik melupakan hal-hal itu. Sikap acuh bisa membuat pikiran lebih tenang. Dan hidup bisa berjalan dengan baik. Moving forward. Kalau sekedar jalan di tempat tidak bisa memberikan dampak yang besar.  Pertemanan hampir mirip dengan pacaran. Ada waktunya pertemanan bisa kandas. Bahkan orang yang dianggap sebagai sahabat bisa seperti musuh atau bahkan orang asing.  Itulah yang terjadi dengan tiga sahabat itu. Tiga orang yang tadinya lengket seperti lem. Sekarang semuanya renggang. Berlin mengasingkan diri dengan dalih membenarkan diri sendiri. Dipta menahan rasa sakit dengan terus bersama orang yang ia cintai. Meski cinta itu tak berbalas sedikitpun. Sedang Sera mulai terbiasa hidup dengan penyakitnya.  Seperti harta seorang pejabat yang disembunyikan demi menghindari pajak, Sera menyembunyikan penyakitnya. Dia tak mau dikasihani. Dan yang lebih penting, ia ingin menikmati hidup seperti orang lain. Ya, di akhir waktunya yang semakin menipis ini. “Eh, ngaco banget.” “Emang kenapa?” “Entar muncul gosip. Kamu mau?” “Gak apa-apa. Itu mah udah jadi makanan sehari-hari.” “Tetap aja, kamu kan lagi digosipin dekat sama anaknya artis. Nanti aku dibully, Dip.” Dipta terkekeh. Sera terlalu lebay memikirkan hal itu. Dipta sering sekali digosipkan dengan orang terkenal lainnya. Padahal, dia tak berniat menjalin hubungan serius dengan mereka. Akan jadi sebuah kesalahan jika ia berpacaran hanya untuk pelampiasan. Hati itu bukan untuk main-main.  “Mereka bakal mikir kalau kita itu cuma teman.”tegas Dipta memberikan penjelasan. “Terserah deh.” Dipta langsung mengupload foto selfienya bersama Sera. Dia tak terlalu memikirkan anggapan orang tentang dirinya. Sebagai influencer, dia menginformasikan hal menarik yang bukan pribadi.  “Permisi, saya perlu memeriksa sebentar.”ucap seorang perawat yang muncul dengan beberapa perlengkapan. Dipta menjauh agak ke pinggir. Dia sudah dua jam ada di tempat itu. Rumah sakit yang merawat Sera selama dua minggu belakangan.  Dipta kembali duduk setelah perawat itu pergi. Sera masih tetap berbaring dengan helaan nafas.  “No problem, kan?” Sera mengangguk.  “Semua akan baik-baik saja.”hibur Dipta dengan seulas senyum di wajahnya. Hiburan yang diapresiasi Sera dengan baik. “Aku belum bisa melupakannya, Dip. Rindu banget sampai kadang aku ingat waktu kami lagi bahagia bareng-bareng. Terus aku mikir, dia lagi bahagia gak ya sekarang? Atau sebaliknya? Kalau dia gak bahagia, aku sedih. Tapi kalau dia bahagia, aku nyesek.”ungkap Sera dengan mata berkaca-kaca. “Kukira menjauh bisa bikin move on. Tapi gak bisa.” “Bodoh. Kenapa kamu gak mikirin diri sendiri aja sih?” “Bego ya?” “Banget.” “Setiap hari, jam, menit bahkan detik. Aku kayak masih mikir gimana kalau Tuhan ngasih aku hidup yang panjang. Apa mungkin aku akan bersikeras mempertahankan Mas Barat?”tanya Sera dengan penuh keputus-asaan. “Aku sok baik dengan berharap Tuhan mengampuni dosaku. Padahal, bisa saja aku seperti pelakor di luar sana.” “Don’t underestimate yourself!”tegas Dipta. “Aku kenal kamu Ra. Aku tahu kamu pasti akan dilema dengan keadaan.” “Kalau gitu, menurut kamu aku akan gimana kalau masih dikasih umur panjang?” Dipta berpikir keras. Dia berdiri dan menatap ke luar jendela. Sungguh pemandangan yang indah setelah hujan deras kini berganti pelangi dengan ragam warnanya. Dipta tersenyum dan duduk kembali. Sedang Sera benar-benar menunggu jawaban Dipta. “Kamu bakal move on dari Barat. Kamu menemukan pria yang mencintaimu. Kalian menikah dan hidup bahagia. Oke, terdengar klise. Tapi itu impianmu kan?” “Apa aku mungkin bisa jatuh cinta lagi?” “Tentu saja. Jangan terjebak dengan keadaan sekarang. Mungkin belum waktunya kamu move on.” “Hmm, ya, bisa jadi.” Ibeth dan Reza baru saja datang. Mereka terlihat lelah menghadapi kemacetan dipicu oleh hujan deras ini. Begitulah Kota Jakarta. Semua sudah bisa diprediksi dengan adanya kebiasaan.  “Guys, is everything alright?” “Iya, kak.” “Dip, mending pulang deh. Ini sudah jam berapa. Kamu sibuk kan?”ucap Ibeth sambil menaruh beberapa barang bawaan di atas meja. “Okey, aku pulang deh sekarang.” “Thanks Dip.”ucap Sera dengan suaranya yang semakin lemah. Ia selalu berusaha melakukan sesuatu. Sampai badannya lelah dengan kelemahan itu. “Makasih, Dipta.”ucap Reza sambil merebahkan diri di atas sofa. “Ini kakak bawain buah sama makanan enak.”ucap Ibeth sambil merapikan makanan itu. “Makan yang cepat baru tidur.” Sera mengangguk. Orang sakit itu benci diatur-atur. Seakan semua orang menganggap mereka lemah dan perlu dikasihani. Itu sangat menyebalkan. Tapi itu sebuah kebenaran. Untuk melakukan segala hal saja, Sera butuh bantuan mama, Ibeth, Reza bahkan Dipta.  Dipta selalu pulang dengan kepala tegak. Itulah yang terlihat dari luar. Jauh di lubuk hatinya, ia selalu terluka. Sakit rasanya saat Sera lebih membicarakan Barat dibanding dirinya. Tapi yang lebih sakit adalah dia akan pergi jika waktunya tiba. Pergi yang tidak sementara. Pergi yang selamanya. Setelah tahu Sera mengidap penyakit parah, hidup Dipta berubah suram. Bahkan ia seperti tak bersemangat menjalankan hidupnya. Tentang dirinya yang sekarang berubah jadi orang famous, semua itu atas bantuan Sera. Jika ada yang berpikir Sera panjat sosial, dia salah. Kebalikannya, semua ini berkat Sera.  Dia tiba di rumah dengan langkah gontai. Banyak sekali list pekerjaan yang terbengkalai. Dia tak begitu antusias menyelesaikannya. Ada puluhan permintaan yang ia tolak mentah-mentah. Ia harus membereskan list yang ada. Dan selanjutnya, ia ingin rehat. Masalah uang, dia punya tabungan yang cukup. Dan kalau emang udah habis, dia punya orang tua yang siap jadi pertolongan terakhir. “Dari mana lagi?”tanya Kilau yang sudah ada di balik pintu. Dipta masuk dan menaruh jaketnya di gantungannya. “Rahasiakan apa sih dari aku? Gak mungkin abang ketemu Kak Sera selama ini.” “Kamu tahu darimana sih?” “IG story.” “Ye, gitu doang. Kenapa langsung menyimpulkan sih?” “Abang tuh sampe masuk Lambe Turah. Katanya pacaran sama Kak Sera.” “Biarin aja. Namanya juga akun gosip.” “Bukan itu masalahnya. Tapi Kak Sera jadi dibully. Nih, lihat.” Biasanya kedekatan mereka dianggap positif oleh netizen. Entah kenapa, sekarang berubah drastis. Bahkan ada kata-kata jahat yang terlalu kejam. Ngatain Sera sebagai perebut pacar orang dan sebagainya. Bikin Dipta bergidik ngeri. Sepanjang ia menjadi seorang influencer, ia tak pernah mendapat haters yang segila ini. “Mending di hapus deh. Daripada gimana-gimana.” “Biarin lah. Kalau di hapus makin kelihatan aneh.” “Iya juga sih,” “Tapi menurut aku ya, ada akun yang sengaja provokasi gitu. Bahkan dia nge up di t****k sama Twitter.”ucap Kilau serasa profesor media sosial. Walau Dipta seorang influencer, dia tak terlalu update drama yang sedang hits. Kilau malah lebih khatam masalah itu. “Perasaanmu aja kali. Jangan negatif mulu.” “Ye, daripada terlalu pasrah. Kasihan Kak Sera kalau dia baca semua bullyan itu. Dan itu gara-gara Bang Dipta.” “Semoga dia gak baca.”balas Dipta singkat. Ia melanjutkan pekerjaannya. Membereskan list tugas yang sempat stuck. Walau kepikiran Sera, ia harap semua bukan masalah. Netizen itu cuma doyan menggembar-gemborkan masalah. Mereka cuma orang asing yang tidak tahu apa-apa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN