Sudah lama ia tak menginjakkan kaki di kamar ini. Kamar besar yang dulu sempat jadi tempatnya tidur bersama. Bahkan ingatan itu sudah mulai samar-samar seakan hendak menghilang. Barat duduk sambil menunggu dokter menyelesaikan perawatannya.
“Saya sudah kasih obat. Biarkan ibu tidur dulu ya, pak.”
“Terima kasih, dok.”
Gemini langsung masuk dengan tatapan khawatir. Ia memasang wajah suram dengan suara tarikan nafas.
“Mama ga apa-apa kan, pa?”
“Iya, Gem. Cuma sakit perut doang kok.”ucap Barat menuturkan. Sebab dia lahir dari keluarga kaya, sakit sedikit sudah pasti mengandalkan seorang dokter. Beda dengan Barat yang hanya perlu beli obat di warung terdekat.
“Emang tadi mama makan apa?”
“Hmm, ketoprak.”
“Ketoprak di depan sekolah?”
Barat mengangguk. Gemi langsung menemukan alasan. Anak kecil emang paling ahli mengomentari sesuatu. Dan komentarnya seakan membuka jalan pikiran orang dewasa. Ada saja hal yang tak terlampaui pikiran orang dewasa.
“Pasti sama kayak mie ayam. Dulu mama pernah makan mie ayam juga sakit perut. Tapi kayaknya ini lebih parah.”
“Kapan itu, Gem?”
“Udah lama. Tapi mama cuma tiduran doang. Ini kan langsung panggil dokter.”
Ada tipe manusia yang jarang sakit. Tapi sekalinya sakit rasanya dua kali lipat dari orang biasa. Begitulah yang terjadi pada Barat dan Varda. Dan Varda sengaja gak panggil dokter agar tidak ketahuan ke mama dan papa. Jika mereka tahu, dua orang itu pasti langsung bergerak datang ke rumah ini.
Malam datang dan menenggelamkan semua orang dalam mimpi. Varda terbangun setelah tidur terlalu lama. Dia melihat layar handphonenya. Masih pukul 2 dini hari. Ia berusaha untuk bangun. Dia melihat Barat sedang tidur di sofa yang ada di kamarnya.
Seketika, Varda tersenyum. Dia rindu. Rindu yang amat berat sampai membuatnya teralih dari mimpi-mimpinya. Ternyata hal sederhana ini bisa membuatnya lebih hidup. Dia menyesal telah menyia-nyiakan waktu berharga yang terlewat. Varda mengusap wajahnya yang berkeringat. Hendak mengambil minum, ia memilih untuk merapikan selimut yang dipakai Barat.
Saat tangannya hendak melakukan itu, sebuah tangan membuatnya berhenti. Barat bangun.
“Kau mau apa?”tanya Barat tegas.
“Ah, bukan apa-apa.”
“Kau mau kemana?”
“Hmm, bukan apa-apa.”lanjut Varda berjalan keluar dari kamar itu. Ia agak kecewa dengan reaksi tegas Barat. Tapi sudahlah. Terlalu berekspektasi sering menghancurkannya.
“Mau kemana?”desak Barat lagi. Kali ini pria itu sudah ada di depannya.
“Aku haus.”
“Tunggu di dalam saja. Biar aku ambil.”
Varda menunggu dengan langkah gontai. Tak berapa lama, Barat membawakannya air putih hangat. Dengan segera, Varda meminumnya. Barat masih tetap duduk dan memperhatikannya.
“Maaf kalau tadi aku kasar.”ucap Barat seakan mengerti isi hati Varda.
“Argh, gak apa-apa.”
“Jangan makan di pinggir jalan lagi. Walaupun terpaksa. Kalau sudah tahu ada pantangan, kenapa harus dipaksakan?”
“Aku hanya sedang kesal.”
“Kesal?”
“Ya, kesal sampai kepalaku serasa ngebul.”
“Kalau kesal kenapa melampiaskan pada orang lain?”
“Aku kesal sama mu.”ucap Varda dan membuat Barat terhenyak. “Tapi sekarang sudah engga.”lanjutnya.
Diam. Hening.
“Aku masih serius dengan ucapanku dulu.”ucap Varda dengan mata mengarah ke foto pernikahan yang masih terpajang. “Kalau kau lupa, lihat saja foto itu.”ucapnya menunjuk foto yang memancarkan kebahagiaan itu.
“Aku pengen marah waktu tau kamu selingkuh. Oke, anggaplah aku punya salah yang banyak. Dan memang hubungan itu belum membaik sampai sekarang. Tapi kamu harus tahu, hubungan yang tidak baik bisa saja cuma masalah waktu. Bukan hati.”
“Kau berhak melakukan hal yang sama kalau kau keberatan.”
“Tidak. Aku percaya orang yang bersalah bisa menyesal. Aku tak perlu melakukan hal yang sama untuk membuat orang itu menyesal.”
“Harusnya kau bertindak. Bukannya diam.”
“Aku tahu kau tak akan pergi demi Gemini. Ya, untuk saat ini. Tapi aku sedang berusaha keras biar alasanmu berubah.”
Barat mengernyitkan dahi bingung.
“Jadikan aku alasan kenapa kau tak harus pergi.”
Barat tertawa.
“Ini gak lucu. Kenapa tertawa sih?”
“Bukankah kau cuma terobsesi dengan rumah tangga sempurna?”
“Kenapa kau harus menganggapku serendah itu?”
“Apa yang terjadi tiga tahun belakangan sudah jadi bukti.”
“Aku bahkan tak tahu apa yang terjadi.”
“Pembohong.”
“Oke, anggaplah aku pembohong. Kalau begitu, katakan yang sebenarnya. Kau saja cuma diam. Kau tak menganggapku teman bertukar pikiran!!”
“Cih, sekarang kau menyalahkanku?”
“Enggak. Aku gak mau menyalahkan siapa-siapa. Aku cuma mau cerita yang sebenarnya. Kau boleh menganggapku egois atau apapun. Terserah!”tegas Varda dengan suara keras. “Tapi setidaknya, aku harus tahu apa yang terjadi.”
Barat menelan ludahnya. Tak menyangka akan terjebak dalam ucapannya sendiri. Disindir dengan fakta seperti berkaca dalam keadaan buruk rupa. Ya, tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah.
“Ehm,,, sebelum itu, aku punya permintaan.”
“Well, take and give.”
“Aku tahu kebiasaan umum orang-orang. Dalam kondisi berselingkuh, pihak perempuan sering lebih disalahkan. Aku harap kau tak melakukan itu padanya.”
Tatapan mata serius itu membuat Varda cemburu. Barat begitu perhatian pada Sera. Wajar saja sih, mereka sudah bersama selama tiga tahun. Pasti ada rasa yang tertinggal. Dan mungkin, Barat masih mencintainya. Walau begitu, Varda ingin sabar untuk menunggu.
Panjang sabar akan membuahkan hasil terbaik. Varda percaya itu.
“Kau masih mengharapkannya? Sampai ia begitu berarti untukmu?”
“Percaya atau tidak, aku satu-satunya orang yang harus disalahkan.”tegas Barat dengan tatapan mata dalam. Kali ini, ia benar-benar tulus mengatakannya. “Dia tak pernah tahu kalau aku sudah menikah.”
Seketika Varda goyah. Pikirannya negatifnya berubah jadi khawatir yang berkepanjangan. Dia sudah mengutuk Sera di dalam hatinya. Dan sekarang, ia harus menerima fakta yang menyayat hatinya. Fakta bahwa Barat selingkuh bukan karena perempuan genit. Barat selingkuh atas inisiatifnya sendiri. Masih pantasnya pria itu dipertahankan?
Perceraian bak aib yang sering dijadikan bahan gibah. Entah kenapa, orang-orang sangat suka membicarakan kandasnya pernikahan seseorang. Dan itu sering membuat mereka merasa suci sejagat raya. Banyak yang memilih mempertahankan rumah tangga walau dengan makan hati seumur hidupnya.
“Kau sudah gila, Bar. Kau anggap aku apa?”
Bukannya sedih, Barat malah tersenyum tipis. Teriakan itu membuatnya sedikit percaya pada ucapan Varda yang tadinya tidak masuk akal.
“Kau mau marah atau mendengar cerita yang sebenarnya?”
“Aku benci padamu.”
“Aku tahu.”
“Hah?”
“Aku juga membencimu.”
“Kau masih bisa mengatakan itu? Bahkan sambil tertawa?”teriak Varda histeris. Fiks, orang-orang di luar sana pasti terbangun oleh teriakannya yang menggelegar itu. Mereka hanya pura-pura diam sebab tak ingin ikut campur.
“Kini aku tahu kau benar-benar masih mencintaiku. Kau selalu menganggap remeh segala hal. Bahkan ketika aku hampir mati.”
Barat menatapnya sedih. Getir, sedih dan kecewa. Masa lalu sebaiknya cuma jadi panduan dan bahan pembelajaran. Tapi ada masa lalu yang terus menghantui. Bahkan merasuki setiap hari. Seperti bayang-bayang kelam yang mengikuti kemanapun pergi. Untuk bahagia pun terasa sukar.
Sampai sekarang, Barat masih ingat dengan jelas semua kejadian itu.