.47. Berharga

1240 Kata
Tatapan tajam nan kejam jadi makanan sehari-hari baginya. Ia selalu menunjukkan wajah itu kepada Ervan. Ya, Tasha yang masih remaja itu menempatkan egoisme di atas segalanya. Sebab dia tahu kebenarannya, ia jadi sangat benci pada Ervan. “Mam, aku berangkat. Nanti juga mau ekskul.” “Iya, hati-hati ya.” Tasha mengangguk. Dia memberi salam dulu sebelum pergi. Raina harus mencari waktu yang tepat untuknya bicara dengan Tasha. Anak itu harus tahu kalau Ervan adalah ayahnya. Tak ada yang namanya mantan ayah. Sampai mati pun, pria b***t itu tetap ayahnya.  Dengan outfit elegan, ia berkendara ke arah utara. Tempat langganannya yang sering jadi tempat nongkrong. Tempat sepi yang jauh dari anak muda yang suka cekikikan. “Gak mungkin.” Respon paling awal dari seorang Varda Aningrat. Raina gak mau kalau sahabatnya itu tahu dari orang lain. “Please, semua sudah berakhir. Jadi jangan terus menyalahkan Sera.” “Ini gila. Ini gak masuk akal. Apa mungkin Dipta menjebak ku? Dia kerjasama dengan Sera?”ungkap Varda panik. “Var, tenanglah! Ini gak ada hubungannya sama Dipta. Dipta bahkan gak tahu apa-apa.” “Gila. Aku gak bisa percaya begitu saja. Terutama sama orang seperti mereka.” “Kalau kau gak percaya pada mereka. Percayalah padaku.” “Ra, bukan begitu.” “Ini gak ada kaitannya dengan Dipta. Dan lagi, Sera sudah berhenti bekerja sama denganmu. Mau apa lagi?” “Dia selingkuh sama suami orang.” Raina malah tertawa. Demi apapun, Varda dari dulu tetap sama. Dia selalu menyimpulkan segala sesuatu dengan pikiran yang pendek. Walau tak tahu kebenarannya, dia selalu membuat kesimpulan yang sesuai dengan jalan pikirannya sendiri. Terlalu percaya dengan diri sendiri juga salah.  “Jadi kau belum bicara dengan Barat?” “Bicara apa?” “Semuanya.” “Apa maksudmu, Ra?” “Selalu ada yang bersalah dalam kondisi perselingkuhan. Banyak orang malah menyalahkan perempuan. Bahkan perempuan diluar sana lebih memilih menyalahkan perempuan lain. Mereka tak tahu dengan benar siapa yang salah.” “Pokoknya sebelum mencampur aduk masalah ini dengan Sera, kau selesaikan dulu masalah dengan Barat.” “Rain, kau mendukung perempuan itu?” “Tidak. Aku hanya memikirkan kebaikanmu.” Varda benar-benar gak nyangka. Bagaimana bisa dunia ini terasa sempit? Kebetulan konyol itu membuat Varda harus bertemu dengan Sera. Bekerjasama bahkan menjadikannya brand ambassador. Ini gila sekali. Sepanjang perjalanan pulang, Varda melihat feed i********: Sera. Tidak terima jika perempuan itu baik-baik saja. Bahkan ia terlihat bahagia di postingan terakhirnya. Ditambah lagi, followernya melonjak naik. Sudah bisa dipastikan dia sedang diincar oleh perusahaan yang ingin memasarkan produknya. “It’s not fair!”teriak-nya kencang. Rasanya ingin menangis sejadi-jadinya. Semua orang melabeli Sera dengan manusia paling positive vibes. Bahkan ia dijuluki influencer terbaik. “Pembohong.” “Ada apa bu?” “Dia pembohong. Dia benar-benar bertingkah polos. Aku, aku juga sudah pernah masuk perangkapnya.” Pria itu cuma bisa diam mendengar ocehan itu. Varda semakin gila. Dia tak kunjung tenang selama perjalanan pulang. Sebentar tertawa, kemudian menangis. Mood swing-nya menyerang. Bikin semua orang panik. Saat tiba di lobby rumah, dia masih tetap di dalam mobil. Tertunduk dengan pikiran negatif di kepalanya. “Kita pergi sekarang.” “Baik, bu.” Mobil itu berhenti di depan sebuah restoran. Sesuai informasi yang didapat, Sera sedang berada disana. Makan siang bersama keluarga besarnya. Varda dalam melihat dengan jelas sebab gedung itu memiliki kaca yang transparan. Pemandangan yang menyayat hati sebab Sera terlihat bahagia. Baru kali ini Varda merasa tersiksa dengan kebahagiaan orang lain. Cukup lama mereka disana sampai akhirnya waktu terus berjalan. Varda membuka Ipad dan mencari jadwal Gemini hari ini. Dia menarik nafas dan menyuruh supir untuk mengantarnya ke sekolah. Tiba disana, ia melihat Barat sedang menunggu sembari makan ketoprak. Mobilnya terparkir di depan sekolah.  “Masih lima belas menit lagi.”gumamnya. Dia segera keluar dan menghampiri Barat. Memesan satu porsi untuk dimakan. Dia agak ragu karena tahu tempat itu tak mungkin higienis. Tapi kekesalannya meniadakan semua itu.  “Kau kenapa disini?”tanya Barat dengan alis mata mengernyit. Bukannya menjawab, Varda menoleh ke sisi lain. Kini, ia yang menunjukkan mode cuek. “Ini bu.” “Makasih, pak.” Varda melihat makanan itu selama beberapa saat. Ia kembali menelusuri proses pembuatannya. Dengan tangan yang bahkan belum tentu sudah dicuci. Bikin overthinking saja. Jangan-jangan makanan ini udah tercampur dengan kuman? Ia terhenyak waktu Barat mengambilkannya sendok dan garpu. Rasanya seperti diperhatikan. Tapi, sungguh dia masih kesal. “Sudah berlalu 5 menit. 10 menit lagi udah kelar.”ucap Barat memberi peringatan.  Varda langsung fokus pada makanan itu. Biarlah, sakit perut juga tak masalah. Ini bukan soal makanan murah dan mahal. Di masa lalu, Varda pernah masuk rumah sakit hanya karena makan mie ayam pinggir jalan. Oke, tak ada niat untuk sombong. Perut manusia itu terlahir sama. Tapi perut itu terbiasa dengan sesuatu yang berbeda. Perut yang biasa makan pedas tak akan mempan walau makan puluhan cabe. Begitu juga dengan yang jarang makan cabe, akan sakit perut bahkan diare. Varda masih trauma dengan kejadian itu. Dia  tak mau menghabiskan waktunya untuk bolak balik kamar mandi. Dan ya, itu sangat menyusahkan. Dengan keberanian yang tinggi, ia menikmatinya. Rasanya enak. Bahkan bisa dikatakan enak banget. Tak butuh waktu lama, ia berhasil menghabiskannya. Setelah minum, ia beranjak dan pergi. “Pak, punya saya dibayar sama dia.”ucapnya pada penjual. Barat yang mendengarnya langsung melotot.  Varda berjalan dan menunggu di depan sekolah. Tak berapa lama, Barat datang dan berdiri di sampingnya. Mereka persis kayak pasangan yang baru berantem. Namun, ada hati yang senang melihat pemandangan itu. Supir yang bertahun-tahun mengabdikan diri terlihat bahagia. Ini adalah kejadian langka yang ia kira tak mungkin terjadi lagi. Walau terlihat sedang perang dunia, ini adalah bukti bahwa keadaan sudah lebih baik.  Gemini terlihat sumringah dan berlari kencang. Dia langsung merangkul tangan dua orang itu. Dia sudah tahu kalau mereka akan berbaikan. Anak kecil juga bisa merasakan kehangatan orang tuanya.  “Pa, ma, kita pulangnya bareng aja. Ini kan hari ice cream. Aku mau kita makan ice cream bareng.”ajak Gemini dengan suara memaksa. Bikin Varda dan Barat saling melihat.  “Hmm, kami akan naik mobilnya bapak. Kamu langsung pulang saja.”ucap Varda mengambil keputusan. Supir itu mengangguk. Barat cukup syok dengan keputusan itu. Ia kira akan memilih naik mobil mewah itu dibanding mobilnya yang cukup usang sebab sudah keluaran lama. Dibanding mobil Varda, mobil ini tidak ada apa-apanya. Setelah perjalanan 30 menit, mereka tiba di kafe ice cream itu. Tempat yang mulai ramai saat mereka tiba.  Ini semua terasa aneh. Barat mulai melunturkan wajah masamnya dan Varda mulai menikmati hidup. Jangan terlalu fokus untuk jadi sempurna. Terkadang, mengikuti arus jauh lebih menyenangkan. Barat tidak mengerti perasaannya. Ketika diandalkan, ia merasa berharga. Selama ini ia kehilangan jati dirinya sebagai kepala keluarga. Dia selalu menganggap dirinya tidak berguna. Walau muncul saran bahwa itu hanya ilusinya, ia tidak bisa mengubah pandangan itu. Bagaimana tidak, orang disekitarnya selalu sepele. Pria dimanapun tidak suka diperlakukan seperti itu. Sedang Varda mulai menikmati hari liburnya. Momen bersama keluarga cukup mampu membuatnya teralih dari pekerjaan. Rehat sejenak bukan pilihan yang salah. “Mama kenapa?”tanya Gemi. “Ah, gak apa-apa.” “Tapi perut mama ada bunyinya.” “Oke, mama harus ke toilet.” Varda bergegas dengan berlari kecil. Sikap nekatnya beberapa jam lalu membawa petaka. Sudah tahu gak kuat, dia memaksakan diri untuk menghabiskan makanan itu. Padahal Barat terlihat baik-baik saja, kenapa dia malah jadi begini? Perutnya terlalu manja sampai gak bisa makan pinggir jalan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN