Perlahan tapi pasti. Sejak menginap di villa, keadaan rumah dan hati semakin hangat. Walau tanpa kata yang menjelaskan, sikap dari tiap orang mulai melunak. Varda lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Baginya, rumah tangga ini jauh lebih penting daripada Varda Cosmetic. Membebankan tanggung jawab kepada Hendra sudah cukup baginya. Hendra adalah orang yang dapat dipercaya.
Usahanya ternyata membuahkan hasil. Barat yang biasanya pergi saat weekend, kini hanya berdiam di rumah. Harapan bahwa pria itu sudah berubah masih sangat tinggi. Untuk siapapun yang takut kehilangan pasti akan berusaha keras untuk mempertahankan. Dan itu gak mudah.
Ia berkaca di depan cermin sambil mengolesi wajahnya dengan beberapa cream wajah. Rutinitas yang gak pernah berubah di pagi harinya. Bedanya, sekarang ia bisa melakukan itu dengan santai. Biasanya harus buru-buru biar bisa cepat-cepat ke kantor.
“Siapa sih yang seberuntung kamu? Kalau lagi gak mood ke kantor, kamu bisa melakukannya sesuka hati.”
Itulah sindirian dari Raina. Dia selalu menganggap Varda hidup dengan berbeda dan beruntung. Dan tentu, ia menganggap dirinya penuh kesialan. Kenyataannya gak kayak gitu. Manusia kan dikasih porsi yang sama soal keberuntungan dan kesialan. Waktu datangnya saja yang berbeda.
Ketukan pintu membuatnya berhenti terhanyut dalam angan.
“Permisi bu, ada tamu.”
“Hmm, siapa?”
“Nyonya besar.”
Varda langsung berhenti mengolesi wajahnya dengan cream itu. Kedatangan wanita itu seperti pertanda hal buruk. Dia langsung berkemas dan turun ke lantai 1. Wanita paruh baya itu sudah menunggu dengan tatapan mengarah pada jendela yang dapat melihat taman di luar.
“Tumben mama kesini?”tanya Varda sambil duduk disampingnya. “Pagi-pagi lagi.”
“Apa-apaan kamu?”
“Hah?”
“Mama tahu kalau kamu cuti dari kantor selama seminggu. Kamu udah gila? Mempercayakan perusahaan pada orang asing tidak bisa dibenarkan.”
“Pertama, aku lagi malas kerja. Pengennya tiduran aja di rumah. Kedua, Hendra itu orang kepercayaanku.”
Wanita itu menatap dengan tidak percaya. Sungguh, ia tidak percaya dengan alasan tidak masuk akal itu. Alasan konyol yang ternyata bisa keluar dari mulut Varda.
“Mama baru tahu kalau kamu bisa malas.”
“Bisa ma. Robot doang yang gak bisa malas.”
“Terus, orang itu bagaimana? Jangan mudah percaya dengan orang lain. Bahkan keluarga sendiri bisa berkhianat.”
Perkataan itu seperti menusuk ke relung hati yang paling dalam.
“Tenang aja, ma. Aku kenal baik sama Hendra.”
“Hmm, mama kira kamu kenapa-napa.”ucap wanita itu dengan tatapan kosong. “Biasanya sakit yang bikin kamu berhenti melakukan sesuatu. Sekarang mama jadi tahu kalau ada alasan lain.”
“Pokoknya mama tenang aja. Aku udah pertimbangkan semuanya kok.”
Setelah mengobrol cukup lama, wanita itu pergi. Varda lega sudah bisa membuatnya lebih tenang. Orang tua selalu saja khawatir dengan anak-anaknya. Sedangkan anak, lebih memprioritaskan diri sendiri dibanding orang tuanya. Mungkin ini sudah seperti takdir. Sebagaimana anak akan meninggalkan orang tuanya jika sudah menikah. Yups, hal yang sudah ditetapkan oleh semesta yang luar biasa ini.
Varda hendak kembali ke kamar, tapi matanya tertuju pada Barat yang baru saja selesai berenang. Dia duduk di pinggir kolam dengan setelan baju renang yang memanjakan mata.
Seorang pelayan menyapanya dengan anggukan kepala. Perempuan itu membawa set sarapan yang terkesan seperti cemilan. Hanya ada roti dan buah.
“Biar saya yang bawa.”
“Baik, bu.”
Varda menyiapkan diri dengan menarik nafas panjang. Dia berjalan dengan tenang dan tentu saja, Barat kaget melihatnya.
“Selamat makan!”ucapnya sambil menaruh makanan itu di atas meja. Barat hanya diam. Canggung? Tentu saja. Bagi mereka, ini seperti keanehan. Walau dulu pernah saling berbagi suka dan duka, waktu membuat mereka tak saling mengindahkan.
Merasa dicuekin, Varda memilih untuk tidak pergi. Oke, jika dikasih cobaan, berusahalah melewatinya. Kalau dicuekin, isengin aja. Cowok cuek bisa kok luluh. Dia juga manusia. Walau tembok pertahanan sudah tinggi, tetap saja bisa runtuh oleh besarnya gemuruh ombak dan angin.
“Kau tak ada kegiatan?”tanyanya sok dekat. Bahkan dia duduk di samping Barat.
“Engga.”
“Tumben.”
Lagi dan lagi, Barat cuma diam. Rupanya dia lagi mager buat ngomong. Atau emang gak berniat ngomong sama Varda? Dia masih benci?
“Biasanya sibuk banget kan sampai hari sabtu. Bahkan minggu juga.”
“Aku biasanya ketemu dia. Setelah semua berakhir, apa gunanya pergi keluar?”ucap Barat gamblang. Dia udah gak mau menutupi soal perempuan itu. Bikin perasaan Varda getir sesaat. Tapi sungguh, ini masih lebih baik.
Varda menggigit bibirnya. Walau sudah siap dengan fakta ini, ia tak bisa menyembunyikan kecewanya.
“Aku juga masih..”
“Cukup! Aku harus pergi.”sanggah Varda hendak pergi. Tapi langkahnya terhenti oleh sesuatu yang membuatnya jatuh. Tak sengaja menyenggol sesuatu. Lututnya bahkan sampai berdarah. Ia meringis kesakitan. Barat dengan sigap memapahnya untuk duduk di kursi.
“Dia pergi setelah memastikan Varda tetap berada disana. Saat kembali, ia membawa alat P3K. Dan ini pertama kalinya pria itu mengobati Varda. Dunia memang tidak adil. Ketika hubungan suami istri di luar sana begitu romantis, ia hanya mendapat bagian perihnya saja. Jika diingat, masa pacaran jauh lebih indah daripada masa jadi suami istri.
“Jika tak mau mendengar kau bisa pergi. Tapi jangan gegabah.”tegas Barat sambil membersihkan luka itu. Walau perih dan sakit, Varda merasakan kehangatan disana.
“Aku gak mau dengar kalau kau masih mencintainya.”
“Dari mana kau tahu aku bakal bilang gitu?”
“Hanya, tebakan.”
“Aku hanya masih merasa bersalah.”
“Cuma itu?”
Barat mengangguk.
“Kau tidak merasa bersalah padaku?”tanya Varda serius. Bikin Barat menarik nafas sebelum bicara.
“Tentu saja. Tapi kita sama-sama saling bersalah. Dan untuk kesalahanku padamu, aku masih bisa menebusnya. Sedangkan padanya, aku tak akan pernah bisa.”
Varda terdiam dan menimbang-nimbang ucapan itu. Memang benar jika ada yang tak beres di antara mereka. Bahkan sampai sekarang, hal itu tak kunjung menemukan jalan keluar.
Barat pergi meninggalkannya. Bikin Varda tambah overthinking. Dengan langkah agak pincang, ia kembali ke kamar. Mengambil handphonenya dan menelpon seseorang.
“Saya ingin tahu siapa selingkuhannya Barat.”
“Ah, hmm, kenapa tiba-tiba bu?”
“Kamu masih menyimpan fotonya kan?”
Tak terdengar suara dari seberang. Atau dia sedang mencari foto itu? Setelah beberapa lama, suara kembali terdengar.
“Maafkan saya bu, setelah penghentian kasus, dokumennya hilang dan tercampur dengan dokumen lain.”
“Terserahlah. Saya kasih waktu sampai hari rabu. Saya butuh informasinya.”
Varda sudah sangat yakin. Dia akan coba menerima semuanya. Tapi dia harus tahu siapa wanita itu. Saat hendak pergi, teleponnya berdering. Dari Raina.
“Hallo,”
“Var, kamu cari tahu lagi soal wanita itu?”
“Kok kamu tahu?”
“Astaga!!”keluh Raina di seberang sana. “Begini saja, kita ketemu di tempat biasa.”
“Buat apa?”
Panggilan dimatikan. Varda bingung banget. Tapi dia segera pergi sebab sudah waktunya nge gym. Selama tidak beraktivitas berat, dia perlu menjaga bentuk badan. Tubuh yang ideal mempermudah manusia menikmati hidup. Badan yang terlalu berat bisa jadi pemicu penyakit dan rasa tidak nyaman. Walau banyak pikiran, setidaknya dia bisa menjaga badan. Anggap saja ini sedang libur panjang. Walau dia memang menghabiskan banyak waktu di rumah. Dan yang terutama, ia bisa memberi perhatian pada Gemini.