.45. Admirer

1294 Kata
Sudah sewajarnya, orang yang punya salah harus minta maaf. Itulah yang sepantasnya terjadi. Tapi ada saja orang egois yang memilih diam dan mengurung diri. Membenarkan diri bahwa salah itu dilakukan dengan berbagai alasan. Dan dia merasa benar.  “Rapat selesai. Saya harap kita semua saling introspeksi. Di cabang yang ini, perlu ada peningkatan. Buat promo yang masih masuk akal. Untuk produk baru dan limited edition, tolong di demo minggu depan.” “Baik, bu.” Semua orang berhamburan keluar. Sudah hampir pukul 12 siang. Pasti mereka sudah tidak kuat menahan lapar yang kian menjadi. Berlin menarik nafas untuk menenangkan pikirannya. Lelah sekali hari ini. Ditambah lagi, dia masih ada urusan dengan Windy. Well, lagi lagi demi masa depan. Setelah selesai dari tempat itu, ia langsung ke Kuningan. Tiba di butik, dia hendak memesan makan siang. Tapi seseorang muncul dengan plastik di tangan kanannya. “Ayo makan bareng!”ucap Sinka sambil tersenyum.  Ruangan itu punya bagian yang menampilkan jalanan dari dalam gedung. Semuanya di tata rapi dan kerap jadi tempat karyawan menghabiskan waktu kosong. Hari ini, para karyawan itu lebih memilih makan diluar. That’s why, ada tempat untuk Berlin dan Sinka stay disana. Cuma mereka berdua sebab Windy memilih untuk makan sambil bekerja. “Makan yang banyak sih. Kenapa jadi lemes gini? Biasanya juga bar-bar.”komentar Sinka setelah beberapa menit melihat Berlin makan seperti manusia tipes.  “Lagi gak mood.” “Makan itu gak perlu mood. Kalau lapar, udah langsung makan.” “Sin, aku harus gimana?”tanya Berlin histeris. Kali ini sampai bikin Sinka mengernyitkan dahi bingung. “Apanya?” “Dipta masih marah sama aku.” “Derita lo deh.” “Kayaknya ngelihat mukaku aja dia udah gak mau.” “Hmm, terus kamu sendiri gimana? Bukannya masih marah sama mereka? Dengan alasan mereka sering jalan berdua?” “Stop! Kenapa diingetin lagi?” “Harus dong. Biar sadar betapa egoisnya kamu.” “Apaan sih?” “Kalau cinta bilang cinta. Jangan ngorbanin orang yang gak bersalah.” “Kamu gak tahu apa-apa soal Sera. Dia itu tahu semuanya, tapi pura-pura gak tahu.” “Kok kamu bisa menyimpulkan?” “Hidup dengan orang yang sama bertahun-tahun. Aku bisa tahu gelagatnya. Bukannya gimana gimana, tapi feelingku ini gak salah.” “Yowes kalau dia tahu semuanya. Apa yang salah?” “Yang salah adalah kamu mikir dia sepolos itu.” “Gak ada yang mikir dia polos. Yang pasti, dia gak suka sama Dipta. Iya kan?” “Tapi dia gak tegas. Kalau udah tahu begini harusnya dia jauhin Dipta dong.”tegas Berlin gak mau kalah. Duh, mereka adu mulut untuk mempertahankan argumen masing-masing. “Bisa-bisanya kamu ngomong itu. Padahal kalian bertiga udah temenan bertahun-tahun. Boro-boro mau menjauh, ketemu aja bisa hampir tiap hari. Makanya kalau cemburu tuh pada tempatnya.” “Kamu di kubu dia sekarang?” “Aku tim netral kok.” “Netral tapi memihak?” “Enggak.” “Bodo.” Ketukan pintu membuat mereka diam. Sinka datang dengan sesuatu di tangan kanannya. “Paket nih buat Mbak Berlian Nacita.” “What?” “Dari siapa, Win?”tanya Sinka kepo. “Hmm, gak ada nama pengirim.”balas Windy setelah mencari sobekan kertas yang mungkin luput dari pandangan mata. “Tapi ada surat nih.” “Woohoo, jangan-jangan dari pengagum rahasia?” “Diem!”tegas Berlin. “Thanks, Win.” “Sama-sama, mbak.” Sepeninggal Windy, Sinka makin heboh. Siapa gerangan yang mengirimi Berlin parcel sebesar ini? Fiks ini mah, ada pengagum rahasia. Dear Berlin,  Berharap kamu selalu baik dan bahagia. Ini cuma cemilan mini yang mungkin bisa menemanimu sambil makan siang. Dari seseorang yang pasti kau kenal. Berlin dan Sinka saling melihat. Dan Sinka langsung tertawa hebat. Berlin gak tahu siapa yang mengiriminya ini. Tapi kejadian seperti ini pernah terjadi. Ya, kira-kira dua tahun yang lalu. “Siapa, Ber? Jangan rahasia deh.” “Nggak tahu.” “Coba dibuka.” “Takutnya ini makanan beracun.” “Lebay.” Sinka mengambil alih untuk membuka parcel itu. Makanan itu sepertinya langsung dikirim dari toko kue. “Iri deh, ada yang punya penggemar.” “Gak usah iri sama yang jomblo. Bahagialah karena masih bisa punya ayang.” “Ber, daripada mikirin Dipta, mending sama yang ini. Sekarang kan cuma dikirimi makanan, besok-besok dikirim Alphard.” “Halu banget.” Kalau semudah itu berpaling, sudah sejak lama Berlin pacaran. Bahkan bisa saja dia sudah menikah. Tapi tidak semudah itu. Susah sekali mencintai orang baru. Cinta sepihak emang bikin sakit karena susah melupakannya.  Perasaan itu gak bisa dipaksakan. Menyuruh orang menikah dengan sosok sempurna tidak lebih baik dibanding menyuruhnya menikah dengan orang yang ia cintai. Apa gunanya sempurna jika hati terasa beku? Yang tidak sempurna malah terlihat sangat luar biasa.  Saat Sinka sudah pulang, ia memenuhi rencananya dengan Naldi. Cowok itu meminta Berlin memilih kado yang cocok untuk ulang tahun mamanya. Tadinya Berlin ogah. Mengingat ia benci sekali dengan nyokapnya Naldi.  Buat siapapun diluar sana, kalau udah jadi tante-tante, berhenti berekspektasi  tinggi sama ponakan. Itu cuma bikin ponakan benci sama anda. Kepedulian yang berlebihan terkesan seperti paksaan yang menyebalkan. “Kita mau kemana?”tanya Berlin sambil mengencangkan sabuk pengaman. “Mall di SCBD. Katanya disitu ada tas yang lagi diincar mama.” “Daripada tas kenapa gak beli yang berguna aja sih?” “Contohnya?” “Investasi atau beli tanah.” “Ribet, Ber. Apalagi mama requestnya tas aja.” “Iya deh, terserah.” “Jadi setelah sebulan kita gak ketemu, udah ada peningkatan?”tanya Naldi kepo to the max. Berlin sudah tahu aroma pembicaraan ini mau kemana. Tapi dia bertingkah pura-pura bodoh saja. Orang dewasa itu sudah paham betul bagaimana menganalisa orang lain. Mereka hanya pura-pura bodoh demi kebaikan diri sendiri. Terutama untuk hal yang sensitif dan tak bisa dijawab. “Peningkatan ada. Hasil penjualan naik, ada kerjasama dengan…” “Bukan itu. Maksud aku, pacar. Udah punya?” “Besok harusnya sudah ada.” “Ber??” “Hahaha.” “Aku serius loh.” “Sorry, Nal. Aku cuma lagi malas bicarakan itu.” “Jawab dulu dong.” “Gak punya.” “Loh, kok jomblo terus?” “Cuma gak bisa berpaling ke lain hati.” “Fiks, masih terjebak masa lalu.” Naldi benar. Emang mudah menebak bagaimana kondisi Berlin sekarang. Disuruh nyari pacar udah males. Hatinya tertutup dan gak berniat terbuka untuk orang baru.  Mereka sampai di mall dan berjalan menuju brand tas yang diinginkan Naldi. Ia malah berpapasan dengan Dipta. Pertemuan ini membuat mereka saling melirik. Walau begitu, Dipta tak mengajaknya bicara. Mereka seperti orang yang tidak mengenal satu sama lain. “Kenapa, Ber?” “Ah, gak apa-apa.”balas Berlin secepat kilat. Dia berjalan mengikuti langkah kaki Naldi. Pikiran negatif datang. Apa mungkin Sera mengatakan hal-hal yang merugikan Berlin? Dan sekarang, mereka ada di kubu yang sama sedang Berlin seorang diri? Ini benar-benar gak adil. “Nal, tunggu disini ya. Aku mau ke toilet sebentar.” Naldi mengangguk. Berlin berlari mencari Dipta. Dan ia menemukan cowok itu sedang berada di stand kentang goreng. Argh, untung saja dia masih disana. “Aku mau bicara!”tegas Berlin. Dipta mulai menjauhi kerumunan. “Kenapa dengan sikapmu? Kau mau ikut-ikutan musuhin aku?” “Terserahlah.” “Sera bilang apa sama kamu? Dia jelek-jelekin aku ya? Sialan. Dia selalu cari muka di depan semua orang. Gak cuma kamu, Dip. Bahkan Sinka ada dipihaknya. Tukang caper.” “Bisa diam gak?”tegas Dipta dengan suara kerasnya. Bikin Berlin kaget banget. “Jangan kira semua orang sama jeleknya kayak kamu. Mending kita gak usah bicara lagi deh.” Dipta langsung mengambil kentang goreng miliknya dan berlalu tanpa bicara dengan Berlin. Berlin benar-benar hancur. Kini, dia benci dengan semua orang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN