“Dia cuma kecapean.”jawaban paling gak masuk akal. Seumur hidup Dipta, baru kali ini ada jawaban yang bikin jengkel. Jelas sekali semua orang panik dan datang ke tempat ini. Kalau cuma hal biasa, ngapain mereka kesini? Keluarga besar yang bahkan jarang dilihat oleh Dipta.
“Kak, gak usah bohong. Aku tahu ada yang gak beres.”
Ibeth menggigit bibirnya. Ini benar-benar sulit dihadapi. Dia keburu janji sama Sera. Gimana dong? Ya kali gak nepatin janji. Dan lagi, katanya Sera mau bicara langsung sama Dipta.
“Begini saja, kau bicara dan tanyakan langsung sama Sera.”
“Kak, please. Kali ini aja. Kasih tahu aku semuanya. Aku sudah curiga dari lama. Aku, aku gak mau berasumsi terlalu jauh. Aku bisa mati perlahan kalau gini terus.”ucap Dipta frustasi. Dia terlihat putus asa menghadapi Ibeth yang gak mau bicara.
“Aku akan jujur tapi aku mohon, kau harus bertanya langsung sama Sera.”
Dipta mengangguk paham.
Ketika mendengar kenyataan itu, dia menyangkal di dalam hati. Gak terima kalau ujungnya jadi begini. Kenapa harus Sera? Kenapa harus orang yang berharga bagi Dipta? Tak bolehkah Tuhan menggantinya dengan orang lain saja? It’s not fair.
Demi apapun, Dipta akan dengan rela hati mengubur perasaannya. Ya, jika itu demi hidup Sera. Sayang sekali, hal seperti ini gak bisa ditawar. Sang pencipta di atas sana punya skenario sendiri untuk hidup setiap manusia.
Takut. Dipta sangat takut. Dia sedih dengan semua perjuangan yang dialami Sera. Mulai dari bertahan untuk pura-pura kuat hingga selalu ada untuk Dipta. Dia ingin melakukan sesuatu sebagai imbalan untuk uang yang dia dapatkan.
Ibeth meninggalkannya saat Reza memanggil. Gemetar menguasainya. Dunia ini semakin jahat saja. Matanya berkaca-kaca. Dia menundukkan kepala. Coba berpikir jernih. Menyangkal kenyataan hanya untuk orang yang lemah.
“Anggap saja kau tidak mendengar apa-apa.”tegas Ibeth sebelum pergi.
Ucapan itu membuatnya tersenyum di depan Sera. Sera terlihat pucat dengan bibir putihnya. Dan lagi, dia terlihat menahan sakit. Di tempat itu, Dipta tidak terlihat jelas. Banyak sekali yang datang untuk melihatnya. Keluarga besar yang terlihat kuatir dan frustasi.
Tatapan mata mereka bertemu. Dan Sera coba untuk tersenyum merespon wajah datar Dipta.
“Dip, I'm fine!”tegas Sera saat tinggal mereka berdua disana. Semua orang sibuk mengurus administrasi. Dan katanya, harus beli obat dulu sebelum pulang.
“Ya, untuk saat ini.”
Sera memukulnya keras. “Apaan sih, lebay banget.”
“Ra, aku boleh bicara serius?”
“Hmm, of course.”
“Tadi gak sempat, kamu keburu pingsan.”ucap Dipta dengan senyum getirnya. “Aku bicara kayak gini bukannya mau mengharapkan sesuatu. Gak usah jadi beban ya?”lanjut Dipta berbasa-basi. Demi apapun, berat sekali mengatakan hal ini.
“Selama ini, aku suka sama kamu.”
Akhirnya kata itu terucap juga. Kata yang selama ini cuma jadi pelengkap yang enggan untuk diungkapkan. Bertahan dengan perasaan sendiri adalah beban yang amat berat.
“Oke, itu saja.”
“Maaf, Dip.”
“Gak usah minta maaf.”tegas Dipta. “Hiduplah lebih lama, itu sudah cukup buat aku.”
“Maaf karena aku selalu pura-pura gak tahu. Sorry banget.”
“Hey, ga apa-apa.”jawab Dipta tegar. Dia sendiri baru tahu kalau selama ini Sera sudah tahu. Dia selalu bertingkah biasa karena perasaannya juga biasa. Cukup menyakitkan. Meski begitu, Dipta masih bisa memasang tawa dan senyum. Tawa itu menular. Ia harap dengan tawa itu, Sera bisa lebih kuat. Satu-satunya hal penting yang dimiliki orang sakit adalah keinginan untuk hidup.
***
Puncak Bogor selalu jadi destinasi menarik untuk warga Jakarta menghabiskan weekend. Itu juga yang dilakukan keluarga Aningrat. Mereka bahkan berangkat di malam jumat biar besok bisa puas menikmati indahnya alam sekitar.
Mereka berjalan menuju villa besar itu. Villa milik keluarga besar yang kerap disewa kalau gak ada yang pakai. Ya, daripada nganggur dan gak berpenghuni.
Gemini mengikuti pengasuh dan bermain di sekitaran tempat itu. Tempat yang luas dan bagus. Dia sudah gak sabar menunggu sepupu-sepupunya datang. Yah, mereka akan datang besok.
Varda sibuk mengirim pesan pada Raina. Wanita itu memberikan semacam petuah untuk dilakukan. Tapi petuah itu sangat tidak masuk akal. Varda bukan cewek ABG yang lagi ngedate sama pacarnya. Dia gak mungkin bisa seagresif itu. Apalagi, hubungannya dengan Barat semakin kacau balau.
“Ehmm, minta tolong bawakan ini.”ucapnya sambil mengulurkan tangan. Tas kecil itu hendak diberikan pada Barat. Barat diam saja.
“Ini, bawain ke dalam. Tanganku pegal.”
Ini sangat tidak masuk akal. Apa yang berat dengan membawa tas sekecil ini? Barat tentu heran tapi terpaksa menerimanya. Varda berjalan duluan sambil terus melihat layar handphonenya.
Maaf, tolong dan terima kasih.
Bahkan orang dewasa sepertinya diajarin untuk mengucapkan tiga hal itu. Dewasa tak berarti memahami segalanya. Ada hal sederhana yang begitu berharga bagi orang lain. Dan menurut Raina, Barat adalah pria yang suka hal seperti itu. Dia lebih suka diandalkan. Ya, tipikal pria yang suka dibuat susah. Dan Varda tidak menyadari hal itu selama ini. Bodohnya dia.
Sesuatu yang keras bisa dibuat lunak. Begitu juga dengan hati. Sayang, banyak orang yang lebih egois daripada mengalah dengan rasa pengertian.
“Tolong dong anterin ke Indie Market. Aku perlu membeli peralatan mandi.”
“Hah?”
“Peralatan mandi di sini kebetulan habis.”ucap Varda mencari alasan. Alasan yang tidak logis. Villa mewah ini selalu menyediakan berbagai hal. Apalagi barang receh seperti peralatan mandi.
“Bukannya ada supir?”
“Nggak. Dia udah pulang.”tegas Varda. “Ini kuncinya. Kita naik motor aja. Kata Mbak Gina, dekat kok.”lanjut Varda sambil menaruh kuncinya di atas meja. Barat berhenti membaca buku dan mengikuti perempuan itu.
Sesuai rencana, mereka naik motor bareng. Ide konyol Raina terbukti berhasil. Ciptakan momen untuk menyatukan dua orang. Ketika momen itu meresap ke dalam sanubari, akan ada saat dimana isi hati terucap.
Indie Market berlokasi tidak jauh dari villa. Varda membeli banyak sekali. Dia cukup jarang membeli kebutuhan rumah. Ada pembantu yang mengurus itu semua. Ya, Varda lebih relate ke wanita karir daripada ibu rumah tangga.
“Kamu lapar gak?”tanya Varda tiba-tiba. Bikin Barat mengernyitkan dahi. “Lapar pasti. Kita makan mie instan dulu ya. Aku gak mau Gemi tergoda sampai harus dimasakin.”
Akhirnya, mereka menikmati mie instan sebelum kembali ke villa. Varda yang lahir dari keluarga kaya agak kagok menggunakan setiap peralatan yang ada disana. Makanan yang ia mau selalu tersaji rapi di atas meja.
Percaya dirinya langsung luntur saat dihadapkan pada problem semacam ini. Apa yang harus dibuat lebih dulu?
Barat yang menyadari hal itu langsung mengambil dua cup mie instan dari tangannya. “Tunggu disana aja.”tegasnya. Varda melipir ke meja panjang yang menghadap jendela itu. Tampak pengendara berlalu lalang di tengah kegelapan malam. Tak lama, Barat datang dan menaruh mie instan itu di atas meja.
“Makasih.”ucap Varda sumringah. Dia hendak menyuap makanan itu ke dalam mulut. Tangan Barat memegang tangannya. Bikin Varda merasakan getaran yang tidak biasa.
“Masih panas, tunggu sebentar lagi.”
“Ah, i-iya. Aku ngebet banget ya. Hahaha.”respon Varda salah tingkah.
Setelahnya, mereka menikmati makanan itu dengan lahap. Ini bukan makanan yang tergolong enak. Tapi bagi Varda, rasanya jadi lebih enak daripada makanan kesukaannya. Sesekali ia melirik Barat yang mengunyah dengan lahap. Fiks maksimal, dia juga udah lapar banget.
Rasa bahagia membuat malam ini sangat indah.