Sebagai b***k korporat, terkadang lelah tak bisa ditoleransi. Mau lembur sampai pagi juga harus dilakukan. Setelah dua hari menginap di kantor, Barat pulang di pagi yang cerah ini. Dan tumben, putrinya yang rese itu tidak mengganggunya. Lemburnya Barat seperti petaka bagi Gemi. Anak itu jadi gak punya teman main. Kehadiran pengasuh tak membuatnya puas.
Barat berjalan gontai dengan tas besar di tangan kanannya.
“Apa Gemi sekolah?”tanya Barat pada salah satu pembantu yang melintas.
“Ini hari sabtu, tuan.”
“Astaga, aku sampai lupa. Dia dimana sekarang?”
“Lagi di kamarnya, tuan.”
Barat bergegas ke kamarnya. Dia perlu mandi dan beristirahat. Setelah mandi, dia menyempatkan diri untuk bertemu Gemini. Tak bersamanya selama tiga hari seperti sudah sangat lama. Saat ia membuka pintu kamar, ia kaget melihat ada Varda disana.
“Papa!!”panggil Gemi histeris. Dia berlari mendekati Barat yang cukup kaget dengan pemandangan ini.
“Aku kangen papa.”
“Papa juga, sayang.”
“Sini pa, aku diajarin mama bikin pesawat dari kertas. Aku juga punya kapal sama baju.”ungkapnya memamerkan benda yang kini ada di tangannya. Dia begitu bangga dan bahagia. Barat merespon dengan bijak. Meski begitu, ia melirik sekilas pada Varda. Wanita itu sedang kerasukan apa?
“Mama sama papa ngajak nginep di villa. Acara keluarga sama om dan tante juga. Kalau gak bisa, kabarin aja.”tegas Varda sambil meletakkan kertas undangan itu di atas meja. Dia pergi meninggalkan tempat itu.
Barat melihat kertas itu. Kertas undangan untuk seluruh keluarga besar. Dan ini adalah pertemuan yang menyesakkan bagi Barat. Sebagai orang biasa, dia merasa asing di antara yang lain. Apalagi dengan kejadian di masa lalu yang berhasil merobek-robek hatinya. Bahkan kini seperti potongan yang tidak mungkin tersambung lagi.
Gemi terus memamerkan hasil karyanya. Tapi Barat terus teringat pada Sera. Salahnya tak akan bisa terhapus begitu saja. Bahkan untuk hati yang tulus dari Sera. Sang malaikat yang pernah menyelamatkan hidupnya.
“Dia bilang gitu?”tanya Ray histeris di tengah-tengah proses deploy dengan beberapa case error.
“Hmm,,,”
“Terus apa yang salah? Ini saatnya memperbaiki semuanya. Artinya kamu dikasih kesempatan kedua. Tak semua wanita bisa berlapang dada.”
“Aku tidak percaya.”tegas Barat. Bikin Ray terbelalak. Bisa-bisanya Barat gak percaya kalau istrinya begitu mencintainya. What the hell. Krisis kepercayaan diri Barat terlalu tinggi.
“Kau sendiri bagaimana? Emang masih mencintainya?”
“Mungkin tidak.”
“Mungkin?”
“Aku tidak tahu, Ray. Kau pasti pernah dilema antara ya dan tidak tentang sesuatu.”
“Well, itu karena kau masih memikirkan Sera. Mungkin waktu yang akan memberi jawaban.”
Barat tersentak oleh dorongan tangan Gemini. Anak itu kembali memakerkan gambarnya yang sangat bagus. Jauh di atas rata-rata anak seumurannya.
“Pa, bengong mulu.”
“Maaf ya Gem. Papa kecapean habis lembur.”
“Hmm, papa tidur aja deh. Biar Gemi ngegambar sendiri. Soalnya nanti malam kan kakek sama nenek mau kesini.”
“Oh iya?”
“Papa lupa ya? Nenek ulang tahun hari ini. Jadi nanti bisa makan kue coklat sama ice cream. Aku udah gak sabar.”ucapnya excited. Dia pergi mencari gambarnya yang tak tahu dimana.
Barat kembali ke kamarnya dengan rasa hampa. Sudah berapa kali ia bilang, ia tak suka ada acara seperti itu di rumah ini. Rasanya menyesakkan d**a.
Di tempat lain, Varda sibuk melepaskan overthinkingnya. Dia mendapat banyak sekali saran dari Raina. Well, rasanya seperti Raina lebih tahu tentang Barat dibanding dirinya. Dan memang betul, Varda sudah kehilangan kepercayaan diri untuk menilai seorang Barat Daya Argara.
Lakukan apa yang kukatakan. Maka semua akan baik-baik saja.
Begitulah titah seorang Rainara. Bikin Varda gak habis pikir. Tapi tetap saja, dia percaya pada wanita itu. Sahabat yang tak akan menjatuhkannya meski cuma satu kali.
Waktu terus berjalan dan persiapan hampir selesai. Makan malam mewah dengan sajian steak wagyu. Varda membeli kue berukuran jumbo untuk perayaan. Ini bukan pesta meriah sebab cuma keluarga inti saja. Yang pasti, ini semua ide Varda. Membuat harmonisasi yang sudah lama seperti membeku. Padahal tradisi seperti ini bisa mencairkan dan menghangatkan setiap orang.
Saat hari menuju malam, tamu yang ditunggu akhirnya tiba. Dua orang itu memasuki ruang keluarga. Varda dan Gemi sibuk membuat kejutan. Dan setelahnya, mereka sampai pada sesi makan malam.
“Kamu apa kabar? Pekerjaan lancar?”
“Kabar baik, pa. Pekerjaan juga lancar.”
“Masih gak mau berubah? Sudah waktunya pindah kerja ke perusahaan papa.”
“Aku sudah memutuskan, Mas Barat akan tetap di kantornya sekarang. Selamanya!”tegas Varda membuat keputusan. Dia bikin semua orang mengernyitkan dahi bingung.
“Apa maksudmu?”
“Kami sudah memutuskan. Iya kan mas?”tanya Varda sambil melirik ke arah Barat. Barat terdiam dengan segala asumsi. Barat mendapat pandangan penuh pertanyaan dari dua orang itu.
“Ehmm, iya. Aku sudah nyaman dengan pekerjaanku sekarang. Dan aku suka bekerja disana. Bukan soal jabatan atau apapun. Tapi passion setiap orang kan beda-beda.”
“Tapi bapak butuh penerus.”
“Bapak bisa minta sama Mas Gilang atau Mbak Maya.”tegas Varda.
“Sudahlah. Mau ribuan kali juga, dia gak akan mau.”ucap ibu mertua dengan tegas. Dia sudah jengah mendapat penolakan terus menerus. Mau bagaimana lagi, mengalah saja pilihan terbaik.
Makan malam berlangsung cukup lama. Dengan pembicaraan banyak hal, termasuk pekerjaan. Varda bersikap tak seperti biasanya. Dia menampilkan sisi bahagianya. Dan itu bikin Barat agak kagok. Gimana nggak, Varda gak pernah seperti ini di tahun-tahun terakhir. Biasanya makan malam berakhir tanpa kesan yang bermakna. Sekarang malah terbalik. Pembicaraan ini sangat menyenangkan. Apalagi ketika Varda meminta Barat untuk cerita tentang pekerjaannya. Ya, pria yang gila kerja itu langsung bersemangat. Rasanya seperti mendapat support system.
***
Dipta benar-benar dilemma menjalani hari-harinya. Mau sampai kapan memendam perasaan terus menerus? Apa gak bosan? Apa yang diharap dengan memendam perasaan? Toh, tidak diungkapkan atau ditolak sama saja akhirnya. Benar kan?
Di masa lalu, dia memendam demi langgengnya persahabatan. Lalu sekarang, persahabatan itu tak tepat lagi dijadikan alasan. Pertama, persahabatan mereka sudah seperti diujung tanduk. Dan yang kedua, tak ada penghalang lagi untuk Dipta menjadi diri sendiri. Dia tak punya saingan. Ya, jika dilihat dari luar.
“Ini makanannya mama taruh di atas aja kan ya?”
“Ma, biar aku yang bawa.”ucap Dipta mengambil nampan itu.
“Bagus deh. Mama gak perlu capek ke atas.”
Dipta melangkah dengan mempersiapkan diri lebih dulu. Tiba saat dia harus bicara. Bicara dengan jujur tanpa menutupi perasaannya. Dia sampai disana dan mendapati Sera sedang jatuh di lantai. Dengan sigap, dia berusaha membuat Sera bangun.
“Ra, Sera!”teriaknya kencang.
“Argh, kenapa sih? Berisik!”omel Kilau yang baru saja bangun dari tidurnya. Dia langsung mendekat dan mengguncang-guncang badan Sera. Tapi cewek itu tak kunjung sadar.
Mereka bergegas ke rumah sakit. Dipta tak bisa mempercayai semua ini. Saat dimana keadaan tidak menentu. Selalu ada yang menghalanginya untuk sekedar bilang cinta. Apa segitu ditentangnya perasaan itu?
Namun, yang paling utama adalah Sera. Semoga tidak ada yang serius. Jarang sekali Sera pingsan. Dibanding itu, dia termasuk orang yang jarang sakit. Seringan sakit perut atau sakit kepala. Dan sakit itu langsung sembuh kalau sudah lewat satu hari. Semoga ini juga sama.