.42. Now I Know

1118 Kata
Berlin baru saja mengulas laporan mingguan yang dibuat Windy. Rupanya Windy sudah banyak belajar. Semuanya sempurna dan tentu saja itu memudahkan Berlin. Pengalaman sangat penting untuk mengasah skill seseorang. Makanya lebih banyak perusahaan yang mempertahankan karyawan lama dibandingkan merekrut orang baru. “Thanks, Yuni.”ucapnya saat perempuan muda itu membawa segelas teh panas. Lega sekali bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat. Berlin memutar posisi kursinya mengarah ke jendela. Sungguh pemandangan yang indah. Gedung-gedung menjulang tinggi dan tampak rapi. Walau punya sisi tercemar, Jakarta juga punya sisi menarik. Tak melulu soal macet, kemiskinan dan polusi udara. Lagu Viva La Vida memenuhi ruangan. Menandakan ada panggilan masuk. Selain suka bulutangkis, Berlin juga pecinta Coldplay garis keras. Dia langsung mencari handphonenya dan melihat nama Johan di layar. “Kenapa?”ucapnya cuek dengan suara keras. “Mending kesini deh, ada Sera.” “Buat apa? Aku ketemu dia kok weekday kemarin.” “Mikir dong, Ber. Dia kesini buat apa kalau bukan buat ketemu kamu?” “Please, itu namanya kegeeran. Mungkin saja dia lagi gabut. Dia kan udah pengangguran sekarang.” “Mulutnya ya. Dia influencer. Jahat banget sama teman sendiri.” “I know, tapi secara teknis tetap aja pengangguran.” “Terserahlah. Pokoknya aku udah ngasih tahu ya. Bye!” Jiwa cuek itu berakhir setelah berpikir beberapa saat. Benar kata Johan. Sera bukan orang yang suka ngecafe sendirian. Daripada itu, dia lebih milih tidur seharian. Beda dengan Berlin yang suka olahraga, Sera lebih suka di rumah. Meski begitu, dia selalu ready kalau diajak nongki. “Oke,”gumam Berlin yakin. Dia mengambil outer yang digantung pada tempatnya. Bergegas keluar dan menyapa Windy. Menyerahkan semuanya pada cewek itu, lalu ia segera pergi. Dia tiba setelah perjalanan 40 menit. Menarik nafas sebelum membuka pintu. Tempat itu tidak terlalu ramai. Biasanya ramai kalau sudah sore menuju malam. Ya, saat dimana orang-orang ingin menghilangkan penat dan beban yang berat. Matanya menelusuri tiap sudut. Hingga akhirnya ia menemukan sosok itu. Sera sedang membaca buku.  Berlin berjalan cepat dan duduk di depannya. Dia menatap Sera yang terlihat kaget dengan tatapannya. Tapi dia langsung tersenyum sesudahnya. “Jadi, kenapa kesini hampir setiap hari?”tanya Berlin tegas. “Hmm, gak ada kerjaan.” “Tuh kan, benar.” “Apanya?” “Terserahlah. Kata Kak Johan, kau mungkin mau ngomong sama aku. Apa iya?” “Hmm, iya.” Kali ini Berlin yang kaget. Prasangka itu berubah jadi kenyataan. Sepiring chicken wings membuatnya berhenti menatap Sera. Johan meletakkan makanan itu dengan suara keras. Suara dari piring yang bersinggungan dengan meja.  “Silahkan dinikmati.” “Siapa yang memesan ini?”tanya Berlin kesal. “Hmm, bonus dari owner kafe ini.”ucap Johan sambil tertawa. Tingkah itu bikin Sera ikut tertawa juga. Akhirnya, dia pergi setelah membuat Berlin makin kesal. Bahkan untuk hal sepele sekalipun, Berlin bisa mengumpat dengan mudahnya. Sera mengambil potongan ayam dengan antusias. Saat ingin melahap makanan itu, Berlin nyeletuk. “Jadi mau ngomong apa?” “Kita makan dulu ya.” “Aku gak lapar.”balas Berlin tegas. Sera tak peduli, dia menikmati makanan itu dengan ekspresi lebay. Seakan dia sedang mukbang di Youtube.  Tiba-tiba hujan turun. Hujan yang amat deras hingga air itu cepat memenuhi jalanan. Rasanya seperti banjir versi mini. Berlin tetap menunggu tanpa mencicipi makanan itu. Sera menaruh kotak persegi panjang itu di atas meja. Kotak yang dikenal Berlin dengan baik. Kotak surat yang pernah ditulis waktu SMP. Kotak itu berisi surat-surat lama. Baik surat cinta maupun surat impian. Mereka saling berjanji akan membukanya ketika nanti sudah menikah. Well, menikah. Impian lama Sera yang kini tinggal kenangan. Jangankan menikah, hidup saja sudah begitu susah. Bagaimana bisa nafas yang selama ini ia sia-siakan tampak berharga? Sungguh, manusia sering sukar mensyukuri hal kecil dan sederhana. “Biar kamu yang simpan.” “Tunggu dulu, kenapa aku yang nyimpan?” “Aku takut. Takut kotak itu hilang.” “Apa maksudnya? Kau mau kemana?”tanya Berlin serius. Pertanyaan yang sulit dijawab.  “Gak kemana-mana. Pokoknya, kau yang simpan. Kurasa, ini sudah giliran-mu.” “Apaan sih?” “Atau kalau mau dibuang, buang saja.” “Kau  gila?” “Pokoknya gitu deh. Kamarku udah gak muat.”tegas  Sera bikin mata Berlin terbelalak. “Aku mau pindah kamar. Kamarnya bakal sempit tapi bagus. Kamar yang bikin pikiranku terbuka soal hidup.” Berlin terlihat kesal tapi tak bisa mengungkapkannya. Gak nyangka dengan sikap Sera akhir-akhir ini. Sangat aneh. Getaran handphone membuat mereka berdua teralihkan. Terlihat jelas nama Dipta di layar handphone Sera. Sera langsung mengangkatnya. “Hallo,” “Lagi di cafe nya Kak Johan. Oh, ya udah. Jemput kesini? Boleh deh. Lagian hujannya deras. Okay, Dip.” Begitulah percakapan singkat yang didengar langsung oleh Berlin.  “Aku pergi ya.”ujarnya sambil beranjak. Dia mengangkat box itu dari atas meja. “Gak mau ikut? Ini aku sama Dipta cuman,,,” “Gak usah. Aku banyak kerjaan di kantor.”balasnya lalu pergi. Sera melihatnya berlari menuju mobilnya di parkiran. Bahkan dia gak minta tolong dianterin sama Johan. Sifat egois Berlin susah sekali diubah. Kalau lagi kesal, resiko tak menggetarkan tujuannya. Sera menunggu dengan tenang. Beruntung sekali ada Dipta. Kalau nggak, dia harus menyusahkan Ibeth untuk kesekian kalinya. Tak lama mobil cowok itu sudah terparkir. Dia bahkan membawakan Sera payung. Tanpa basah yang berarti, Sera sudah duduk di samping kursi kemudi dengan tenang. Rasanya kayak lagi dijadikan ratu saja. Jalanan cukup ramai karena hujan semakin deras. Mobil-mobil itu berderet menciptakan kemacetan. Jakarta sudah melumrahkan kemacetan. Dan itu tak boleh dijadikan alasan untuk keterlambatan pertemuan. “Kamu beneran mau ikut kan?”tanya Dipta serius. “Kenapa ngga? Anggap aja sedang beramal.” “Lebay.” “Kata seseorang, aku pansos sama kamu. Makanya followers aku naik drastis.” “Ngapain dengar kata netizen. Mereka gak tahu apa-apa, Ra.” “Bukan netizen yang bilang, tapi Berlin. Sahabat kita.” “Kamu masih bisa anggap dia sahabat?” “Kok ngomong gitu?” “Aku sudah tahu semuanya. Alasan kamu marah sama dia.”tegas Dipta. Sera menelan ludahnya. “Dia benar-benar gak punya perasaan.” “Mungkin dia punya alasan.” “Pokoknya, jaga jarak sama dia.” “Dip, kita udah temenan lama loh. Jangan gitu ah.” “Biarin aja. Terkadang perlu keras buat orang yang punya perasaan. Aku paling gak bisa dibohongi. Apalagi dikhianati.”tegas Dipta. Sera jadi merasa tersindir. Dia juga sedang berbohong. Walau ia harap itu untuk kebaikan bersama.  Akhirnya mereka sampai di tempat itu. Tempat pertemuan bisnis Dipta dengan beberapa brand. Cowok itu kian melejit. Karirnya semakin cemerlang dengan banyaknya orang yang membicarakannya. Bahkan ada desas desus ia akan masuk Majalah Forbes sebagai kategori orang paling berpengaruh di kategori Asia Tenggara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN