.41. Bohong dan Jujur

1251 Kata
“Udah ma. Katanya papa mau datang bentar lagi.”ucap Gemini dengan wajah sumringah.  “Makasih sayang.” “Aku mau gambar lagi.” “Ya udah, sana pergi.” Gemini langsung berlari disusul oleh pengasuhnya. Varda malu mengakui ini. Tapi dia sedang memanfaatkan Gemini untuk melakukan tujuannya. Dia yang seorang istri seharusnya bisa berkomunikasi dengan suaminya. Tapi sungguh, rumah  tangga ini tidak sama dengan yang biasanya. Dengan rambut menjuntai dan tampilan cantik, ia menunggu di ruang tamu. Dia harus menghadapi hal ini. Seperti kata Raina, kesalahan Barat cuma satu kali. Ayolah, kasih dia kesempatan. “Setelah saya selidiki, sudah tidak ada pertemuan lagi. Sepertinya, hubungan itu sudah berakhir.” Begitulah penjelasan dari pria suruhannya. Bukankah ini kabar baik? Walau orang lain bisa bercerai dengan satu kesalahan besar. Mungkin Sera bisa jadi orang yang berbeda. Suara mobil hendak parkir membuat jantung Varda berdetak gak karuan. Cemasnya datang kembali. Sulit menghadapi hari ini,  tapi bukan berarti tidak bisa. Dia sudah menetapkan hatinya. Mau kapan lagi? Tak lama, pria itu muncul dengan  tatapan datar. Dia hendak naik ke lantai atas. “Apa kita bisa bicara?”tanya Varda tegas. “Sekarang saja sebab ini penting.”lanjutnya.  Tanpa membalas, Barat langsung  duduk. Menaruh tasnya di sofa lalu menatap Varda datar. Auranya tak seperti biasa. Mungkin ada masalah pekerjaan. “Aku rasa, waktu yang kita lewati tidak benar. Tentu aku punya salah, tapi ini sudah tidak bisa dibiarkan.” “Apa maksudmu?” “Demi apapun, aku masih mencintaimu.”tegas Varda. Ucapan itu membuat Barat melihatnya dalam. Sangat dalam hingga ada kemungkinan untuk tenggelam. Dia masih tetap diam hingga membuat Varda tak tahan. “Kau sendiri bagaimana?” Pertanyaan yang membingungkan. “Aku tidak tahu.”balas Barat. Dengan bibir gemetar, Varda berusaha menyakinkan dirinya. Dia harus bicara dengan jelas. “Aku, aku tahu kau selingkuh.”ucap Varda memecahkan pikiran Barat. Ia menatap dengan alis mengernyit.  “Lalu, bagaimana?” “Aku tahu kalian sudah putus. Jadi kurasa, itu bukan lagi masalah.” Barat malah tertawa. Tawa yang penuh rasa frustasi. Tawa itu memecah keheningan di ruangan ini. “Tindakanmu tak sama dengan ucapan awal. Tak ada orang yang mencintai pria tapi gak mempermasalahkan  pria itu selingkuh. Kau sedang berakting? Iya kah?”ucap Barat marah.  “Aku gak ngerti.” “Jangan merasa paling tersakiti. Dan berhenti bilang cinta di depanku.”ucap Barat sambil berdiri. Dia berjalan tapi berhenti karena raihan tangan Varda. “Kau sudah gila?” “Maafkan aku karena sudah selingkuh.”ucapnya tiba-tiba. Perubahan sikap itu berlangsung drastis. “Tapi please, jangan mengaku mencintai untuk mempertahankan rumah tangga ini. Tak perlu pura-pura. Aku akan jadi orang pertama yang mengusahakan Gemini tidak mengalami broken home. Jadi kau tenang saja.” Barat berjalan gontai. Dia meninggalkan Varda yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Sungguh, hatinya benar-benar sakit. Kejujuran itu dianggap sebagai kepalsuan. Tak kuasa, Varda menangis sambil terisak-isak. Tak ada yang berani mengajaknya bicara. Sedang pengasuh memastikan Gemini tak mendengar percakapan itu. Dengan suara musik keras, anak itu sibuk menari di kamarnya. *** Taman bermain itu sepi sebab sudah malam. Ini hampir jam 1 malam. Dengan terpaksa, Sera menemui Barat. Bukan untuk mengukir kisah manis dan sejenisnya. Sera cuma gak mau kalau pria itu datang ke rumah. Mama akan benar-benar gila kalau tahu putri semata wayangnya jadi selingkuhan. Mengecewakan seorang ibu adalah sebuah pantangan.  Terkadang muncul pilihan dalam pikiran Sera. Mending diselingkuhin daripada jadi selingkuhan. Walau tetap saja, jadi korban sangat menyakitkan. “Bicaralah karena aku gak mau orang rumah bangun.”tegas Sera sambil menatap lurus ke depan. Melihat kegelapan yang membosankan itu. “Maafkan aku, Ra.” “Sudah.” “Mungkin kau tak akan percaya, tapi aku benar-benar tulus dengan apa yang sudah terjadi.” “Aku juga.” “Ra, aku serius!!”desak Barat sebab Sera terlihat santai seperti tiada beban.  “Mas, berhenti membicarakan hal itu. Kita anggap saja impas.” “Apa yang impas?” “Aku mendapat perhatian dari seorang kekasih dan kita pernah bahagia. Tapi sekarang, semua harus berakhir. Anggap saja sudah  waktunya putus. Seperti pasangan yang berpisah karena bosan.” “Kau tidak marah?” “Marah. Sangat marah!”tegas Sera. “Aku akan lebih marah kalau kau seperti ini terus. Kau harus terus bersama keluargamu.” Barat diam seribu bahasa. Apapun yang dipikirkan Barat, Sera tidak tahu.  “Ayo, jangan bertemu lagi. Mulai sekarang, sampai selamanya.”ucap Sera mengakhiri. Dia berjalan hendak meninggalkan Barat yang masih duduk di kursi taman. “Ra!!”panggil Barat. Membuat Sera berbalik menatapnya. Dengan mata sayu dan sedih. “Terima kasih sudah membuatku hidup kembali. Jika kau bilang kita impas, menurutku tidak. Kau terlalu berjasa dalam hidupku. Walau tak bisa bersama, aku tak akan pernah melupakanmu.” Sera tersenyum mendengarnya. Dia merasa miris dengan dirinya sendiri. Tak ada kata cinta yang keluar dari mulutnya. Sera ingin mendengarnya, sebab cinta itu masih ada di dalam dirinya. Perkataan cinta yang sederhana mampu menghidupkan seseorang.  Ketulusan Barat mungkin saja bukan demi cinta. Hati Sera benar-benar sakit. Sakit yang tak bisa ditoleransi oleh manusia biasa. Mau curhat pada siapapun, ia akan tetap jadi orang yang bersalah.  Saat membuka pintu, ia kaget melihat Ibeth ada disana. Berdiri seperti pengawas ujian yang memergoki muridnya sedang menyontek.  “Dari mana?” “Mencari angin segar.” “Pembohong. Aku melihatmu di taman dengan cowok itu.” “Argh, ternyata aku ketahuan.” “Mau sampai kapan, Ra?” “Sudah selesai kok. Aku cuma terpaksa kesana. Daripada dia yang datang ke rumah ini?” “Ya sudah. Aku juga perlu jujur padamu.” Perkataan itu bikin Sera mengernyitkan dahi. Ibeth membuka handphone dan memberikannya pada Sera. Memperlihatkan pesan dari Dipta. Cowok itu bukan orang bodoh. Dia bisa merasakan ada yang tidak beres. Sejak resign dari Trinita, cowok itu curiga. Kecurigaan yang semakin hari semakin besar. Sera gak bisa dihubungi, rumah tampak sepi dan terakhir, dia berpenampilan pucat. Dengan tegas Ibeth melakukan kebohongan. Tentu untuk menyembunyikan sakit yang diderita Sera. “Aku udah gak tahan, Ra. Berbohong terus menerus sama Dipta.” Sera duduk di sofa dengan berbagai pikiran.  “Kau bisa baca balasanku sama Dipta. Aku mikirin itu seharian. Capek banget rasanya.” “Makasih kak.” “Aku gak butuh jawaban kayak gitu.” “Sekarang aku jadi paham kenapa sahabat yang kupercaya membohongiku. Kejujuran itu sering kali menyakitkan.” “Nah, baguslah kau faham. Kau gak takut dia marah waktu tahu semuanya?” “Takut kok. Tapi marahnya pasti akan berhenti.” “Sok tahu.” “Karena aku juga kayak gitu, kak.” Marah itu wajar. Yang tidak wajar adalah marah terus-terusan. Secara teknis, Sera sudah tidak membenci Berlin dan Sinka. Walau hubungan tak bisa membaik, Sera sudah tidak masalah dengan kejadian di masa lalu.  “Kak, jangan bilang mama ya.” “Iya. Jadi gimana sama Dipta?” “Hmm, nanti aku yang bicara sama dia.” “Ra, jangan ditunda lagi. Kamu minggu depan operasi lagi kan? Terus, keadaanmu sudah makin parah. Kakak takut banget.” “Takut aku gak sempat pamit?”balas Sera sambil terkekeh. “Ngaco. Kamu gak boleh pergi. Mau pamit atau engga, kamu harus kuat.” “Aku juga pengennya gitu kak.” Malam itu, mereka tidur di ruang tengah. Menyalakan televisi dengan siaran film jadul yang sering diputar. Relationship yang rumit masih saja menghantui Sera. Bahkan ketika masa-masa sulitnya, dia tak ingin jadi orang yang menyusahkan. Padahal kepada sahabat tak boleh begitu. Meski menyusahkan, sahabat lebih memilih itu daripada diam saja tanpa usaha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN