.40. Waktu Itu

1167 Kata
Bagaimana perasaanmu? Biasa saja. Sekarang semua tampak baik-baik saja. Rasa sakit ini seperti sentilan dari semut-semut kecil. Tak begitu mengusik sebab sudah terbiasa.  Sera mengambil foto untuk di-upload ke i********:. Dia wajib melakukan itu biar para followers berhenti mengirim direct message. Sejak hari ulang tahun Dipta, follower Instagramnya naik drastis. Benar kata Berlin, dia pansos pada orang yang tepat. “Benarkah Dipta sudah punya pacar? Seperti apa sosok wanita yang hadir di pesta ulang tahunnya?” Begitulah headline berita yang akhir-akhir ini memusingkan kepala Sera. Hanya orang-orang terdekatnya yang tahu kalau itu semua tidak benar. Makin lama, keabsahan suatu berita makin tidak terpercaya. Dia langsung menaruh handphone itu setelah upload foto pertama. Menatap ke atas dengan rasa lelah yang semakin besar.  “Wah, gila! Notifnya banyak banget.”komentar Ibeth yang kini duduk dengan sepiring pisang goreng panas. Reza duduk disampingnya dan ikut melihat layar handphone itu. “Eh, ada DM loh minta di endorse.” “Endorse itu apa?”Tanya Reza. “Itu loh, yang kita masarin produknya di IG. Baru nanti kita dikasih duit.” “Ohhh, gitu ya.” Setelah selesai mengagumi progress akun Instagramnya Sera, mereka menikmati pisang goreng itu. “Oh ya, Ra. Jangan lupa minggu depan ke rumah sakit.” “Eh, udah minggu depan aja.” “Iya. Gak kerasa ya?” Waktu memang cepat berlalu. Apalagi untuk orang seperti Sera. Orang yang berpikir kalau waktu sangat berharga. Tak ada kesempatan untuk berfoya-foya. Dan dia sadar diri. Tubuhnya yang terasa kuat ini sebenarnya sudah sangat lemah. Dia saja yang makin terbiasa dengan rasa sakit.  Handphonenya tiba-tiba berdering. Dan Sera gak berniat mengangkat panggilan itu.  “Ra, telepon tuh dari Sinka.”ucap Ibeth. Sera menghela nafas dan langsung pergi agak jauh. Dia menerima panggilan itu. “Ra, dimana?” “Rumah. Kenapa, Sin?” “Hmm, gi,,,gini.”ucapnya terbata-bata. Ada keraguan dalam suaranya itu. “Sebelumnya, aku benar-benar minta maaf.” Sera terkulai lemas. Menggigit bibirnya dengan frustasi. Menyalahkan Sinka tidak bisa dibenarkan. Dia tahu kok, hari seperti ini akan datang. Ia kira akan datang setelah ia mati. Ternyata datangnya jauh lebih awal. Bukankah jadi menarik? Ia jadi bisa menahan rasa sakit lebih dalam lagi. Tangannya sibuk mencari kontak yang sudah diblokir. Dan tanpa pikir panjang melakukan unblock pada nomor Barat. Dia cuma mau memberikan penjelasan. Dengan air mata tanpa suara, ia mengetik deretan kalimat yang datang dari hatinya. Dia membenci sikap Barat, tapi dia juga tak masalah. Ya, duka yang dia terima sudah sebanding dengan kebahagiaan yang pernah diberikan pria itu. Anggap saja ini hukum karma. Mata ganti mata, gigi ganti gigi. Apa yang kita tabur, itu juga yang kita tuai. “Ra? Sera?”tanya Ibeth mendekatinya. “Kak, aku, aku,,,” Ibeth memeluknya erat. Dalam pelukan itu, tangis Sera semakin besar. Kini tangis itu dibubuhi suara yang memenuhi seluruh ruangan. Reza menutup pintu berharap Tante Pi tak perlu mendengarnya. Jangan jadikan rumah ini sebagai ladang kesedihan. Sudah cukup sedih yang dialami selama ini. Dengan mata bengkak, tangis itu berakhir.  “Tuh kan, badanmu jadi lemes gini. Gimana sih?”omel Ibeth sambil membantunya melebarkan selimut. “Maaf kak.” “Aku gak butuh kata maaf. Cukup kasih bukti.” Sera mengangguk paham. Kekesalan Ibeth bisa dipahami. Menghadapi orang sakit jauh lebih melelahkan daripada lembur di kantor.  “Hati yang gembira adalah obat. Kalau sedih mulu, nanti sakitnya makin parah loh.” Sera dibiarkan tertidur dengan mata bengkak itu. Semoga Tante Pi tidak menyadari kejadian ini.  *** Tangan Barat gemetar. Rasa bersalah nya kian besar. Kepalanya berkunang-kunang. Dia kira semua berakhir tanpa alasan semacam ini. Argh, dia benar-benar pantas untuk mati. Beberapa kali memukul kepalanya ke dinding meja. Ingatannya melakukan flashback ke masa lalu. Hanya orang gila yang berniat mati ketika semesta memberinya nafas. Manusia gila tak akan peduli dengan anggapan orang lain. Persetan dengan persepsi yang bilang bunuh diri akan masuk neraka. Orang gila tidak akan peduli masuk surga atau neraka.  Kaki itu hampir menjatuhkan diri ke lantai dasar. Iblis yang sebenarnya merasuki. Untuk apa hidup jika rasanya cuma hampa? Sayur tanpa garam akan berakhir di tempat sampah. Begitulah anggapan Barat pada hidupnya. Direndahkan oleh mertuanya, dianggap beban oleh keluarga besar dan tidak dianggap oleh istrinya. Hari itu juga, Barat menyesal telah menikah. Meski itu dengan orang yang ia cintai. “Suami macam apa yang kerjaannya lebih payah daripada kerjaan istri?” “Sudahlah. Kau bisa kerja di perusahaan keluarga. Untuk apa kerja di startup sebagai karyawan biasa. Gajimu tak akan cukup menyekolahkan Gemini di sekolah internasional.” “Mau sampai kapan begini terus?  Benar-benar tak berguna.” “Itulah makanya, dari awal aku udah menentang pernikahan ini. Menyusahkan saja. Gimana mau bikin bangga keluarga besar kita?” “Aku mau dia sekolah di sekolah internasional. Biar dia bisa bersaing sama teman-teman seumurannya.” Waktu itu, Barat hidup sebagai suami yang tak dianggap. Menantu yang tidak berguna.  Barat benar-benar gila hingga sampai di atap gedung kantor. Dia hampir menjatuhkan diri hingga sebuah suara menghentikannya.  “Mas, minta tolong banget. Aplikasi E-spt pph 21 error!!”teriak anak magang itu kencang. Tak sampai disana, perempuan itu menarik tangannya menjauh dari sisi paling pinggir.  “Aku benar-benar butuh Mas Barat!”tegasnya sambil terus menggenggam tangan itu. Sepanjang jalan, Sera memegang tangannya. Hingga akhirnya mereka sampai di lantai ruang kerja Sera.  “Please, bantuin aku mas. Kalau nggak, aku bisa kena marah besok pagi.”pintanya  dengan wajah penuh permohonan. Kegiatan itu membuat Barat sejenak lupa dengan tujuannya naik ke atap. Dia sibuk mencari error yang membuat aplikasi itu tak bisa berjalan. Butuh waktu kurang lebih satu jam untuk menyelesaikannya. “Udah, udah bisa.” “Mas, tunggu disini ya.”tegas Sera sambil melakukan input beberapa data. Cukup tiga puluh menit, semua selesai. Sera meregangkan badannya dengan mengangkat kedua tangannya. Lalu dia berjalan mendekati Barat. “Sebagai ucapan terima kasih, aku traktir makan pecel ayam.” “Tidak usah.”tolak Barat. “Eh, gak bisa ditolak. Aku udah lapar banget dan gak ada  teman buat makan.”tegas Sera. Dia memaksa Barat untuk ikut makan malam. Barat masih dalam posisi kepala tertunduk saat mengingat semua kejadian itu. Jika tidak ada Sera, mungkin dia sudah menciptakan petaka bagi hidup Gemini. Gemini akan hidup tanpa seorang ayah. Dan yang lebih parah, dia bisa gila kalau tahu papanya bunuh diri. Kesehatan mental seorang anak bersumber dari keluarganya. Dia melihat lagi pesan yang dikirimkan Sera. Dalam pesan singkat itu, ada rasa sakit yang bisa ia rasakan. Sera pantas mendapatkan pria lain. Tapi Barat tak pantas dibiarkan tanpa balasan. Dia juga berhak menderita.  Kesadarannya kembali melihat panggilan dari seseorang. “Maaf pak, tapi Gemini mendesak mau ngomong.” “Ah, iya.” “Pa, papa beneran lupa? Hari ini papa mau ngajarin aku menggambar dress pesta.” “Ahh, astaga. Ini papa udah di jalan pulang. Tungguin ya,” “Tapi jangan lama-lama ya, pa.” “Iya.” Barat menarik nafas panjang. Dia bergegas pergi sebab tempat itu sudah sepi. Hanya ada cleaning service yang mondar mandir beberapa kali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN