Bagi Dipta, ini adalah pesta ulang tahun terburuk sepanjang masa. Ketika ia harus ikut-ikutan kesal dengan Berlin. Persahabatan mereka rupanya benar-benar akan berakhir.
Sebesar apapun kebencianmu, akan sulit terbiasa tanpa orang itu. Eratnya kisah antara mereka bertiga berakhir begitu saja. Lalu, apa yang bisa ia lakukan sekarang?
“Happy birthday ya, Dip. Mama bangga sama kamu.”
“Ya, kamu berhasil membuktikan sama kami.”
Senang mendengarnya. Tapi mereka terlalu berlebihan. Mengira kalau Dipta begitu berhasil mencapai tujuan. Tidak. Ini semua seperti titipan yang gak sengaja keangkat. Benar kata pepatah, sesuatu yang iseng bisa jadi berhadiah. Sedangkan keseriusan bisa menghancurkan ekspektasi. Rasanya memang tidak adil.
Dipta sendiri merasa bahwa ia sedang jalan di tempat. Harapan dan impiannya satupun tidak terwujud. Cita-cita bahkan cinta seperti butiran debu yang terbawa angin.
“Bro, selamat ulang tahun!”
Sapaan itu datang dari Pras, teman sebangku Dipta waktu SMA. Sadarilah, sedekat apapun di masa lalu, masa depan bisa berubah drastis. Intensitas pertemuan yang menurun bisa menciptakan rasa canggung yang berlebihan.
“Pras, apa kabar?”
“Baik-baik.”
“Thanks ya, sudah datang.”
Bicara dengan Pras membuka kembali kenangan di masa lalu. Dan itu membuat Dipta sedikit melupakan pergolakan jiwanya dengan Berlin. Banyak hal menggelitik yang bikin Dipta terkekeh.
“Terus, sama siapa sekarang?”
“Hmm, sendiri aja.”
“Kita sama.”
“Loh, sama May gimana?”
“Putus tahun lalu.”
“Why?”
“Rumit, Dip. Pacaran sembilan tahun gak jadi jaminan kalau aku sama dia berjodoh.”
Dipta menghela nafas. Padahal dua orang itu masuk dalam kategori couple goals waktu SMA. Siapa sangka masa depan mereka malah begini. Jatuhnya kayak jagain jodoh orang. Sebagai orang yang beretika, Dipta cuma bisa iba. Dia gak mau menjadikan itu lawakan. Perpisahan itu gak ada yang bikin senang.
“Kau sendiri sudah gimana dengan Sera?”
“Hah?”
“Kau pasti lupa. Dulu kan pernah cerita kalau suka sama dia. Cuman sayang, terlibat friendzone.”tegas Pras. Dipta bahkan lupa dengan kejadian itu. Sepertinya, Pras satu-satunya yang tahu soal cinta sepihak itu.
“Masih tetap friendzone?”ledek Pras dibalik wajah sendu itu. Dia tersenyum tipis mengatakannya.
“Entahlah Pras. Pikiranku lagi kacau.”
“Ingat loh, jangan main-main sama kesempatan. Kalau dikasih kesempatan, langsung sikat aja. Ngapain sih harus mikirin yang lain?”
Dipta dibuat sadar oleh ucapan Pras. Egois itu penting jika masih dalam porsinya. Jika terjebak dengan pikiran jauh akan membuat kita sulit berkembang. Lihat saja efeknya. Selama bertahun-tahun, Dipta cuma jalan ditempat. Dia tak bergerak ke depan.
“Lebih baik ditolak daripada gak diungkapin. Setidaknya, dia tahu perasaanmu.”tegas Pras. “Atau mungkin dia sudah tahu?”
“Jangan ngadi-ngadi.”
“Cewek itu punya sifat aneh, Dip. Dia bisa berakting bak aktor papan atas.”
Semakin malam, tempat itu mulai sepi. Hanya ada beberapa orang EO yang sedang membereskan semuanya. Dipta benar-benar dimanjakan karena mendapat endorse untuk semua acara hari ini.
Sebuah pukulan keras di punggung membuat Dipta terhenyak. Kilau memasang wajah kesal dengan tatapan tajam.
“Kenapa sih?”
“Tega banget!!”
“Kenapa lagi Kil? Mama sama papa kemana?”
“Kenapa ngasih kuenya cuma sama Kak Sera? Kak Berlin gak dikasih?”
“Cuma gitu doang kok jadi perkara sih.”
“Segitu doang? Argh, cowok b******k!”
“Kok jadi ngatain sih?”tegas Dipta kesal. “Aku sama dia lagi ada masalah.”ucapnya menjelaskan. Kilau langsung duduk dengan tatapan penasaran.
“Masalah?”
“Pokoknya gitu deh.”ucap Dipta mengalihkan. Tidak enak membicarakan keburukan orang lain. Apalagi, Kilau punya penilaian sendiri tentang Berlin dan Sera. Dipta gak mau menghancurkan pandangan itu.
“Tetap aja abang yang salah.”
“Kok gitu sih? Kamu adiknya siapa sih sebenarnya?”
“Se-salah apapun, Kak Berlin ngelakuin itu demi abang. Dia kan suka sama abang.”tegas Kilau.
“Tapi abang suka orang lain. Gimana dong?”
“Siapa?”
“Sera.”
“What?”teriak Kilau dengan mata terbelalak. Ini adalah fakta tersembunyi yang gak pernah ia ketahui. Rupanya Dipta berhasil menyembunyikan perasaannya dengan baik. Kalau dia punya emas ribuan kilo, dia pasti berhasil menyimpannya. Ya, sebegitu ahlinya seorang Dipta Brigarda.
“Menurutmu abang harus gimana?”tanya Dipta serius.
“Sejak kapan abang suka sama Kak Sera? Bukannya Kak Sera sudah punya pacar?”tanya Kilau dengan pikiran kesana kemari. Jika disuruh memilih, dia tidak tahu harus kemana. Dia menyukai Sera sebesar ia menyukai Berlin. Well, dua orang itu sering ke rumah. Dulu, sekarang sudah tidak.
“Dari dulu.”
“Waktu SMA?”
Dipta mengangguk. Kilau semakin gila dengan fakta ini. Lebih hot daripada breaking news di televisi. Lambaian tangan membuat mereka bangkit berdiri. Mereka harus pulang karena ini sudah terlalu malam.
***
Jam makan siang adalah yang paling ditunggu-tunggu. Perut yang sibuk membunyikan gendang harus dihentikan. Mereka berjalan mencari makanan yang cocok di salah satu mall yang dekat dengan kantor. Barat dan Ray memutuskan untuk makan di Food Court. Biar bisa milih mau makanan yang mana.
Baru saja duduk dengan piringnya, Barat menerima sebuah tamparan keras. Tamparan yang membuat semua orang memperhatikan mereka. Ray menarik tangan cewek itu dengan sigap.
“Apa-apaan kamu?”tegas Ray dengan bola mata memutar kesana kemari.
“Terima kasih. Terima kasih sudah membohongi perempuan polos di luar sana. Kalau mau cari mangsa lagi, harusnya lihat dulu keadaannya. Kamu cuma bikin luka di hatinya.”
“Apa maksudmu?”
“Gak usah sok bodoh. Kau punya otak kan? Tega sekali melakukan itu pada Sera.”
Barat terdiam.
Ray memaksa Sinka untuk pergi dari sana. Demi apapun, ini tak bisa dibenarkan. Sinka membuat keributan yang bisa mengacaukan segalanya.
Barat berjalan cepat menyusul mereka. Menghentikan Ray dan Sinka yang berjalan semakin jauh. Dia benar-benar tegas dengan sorot matanya. Ada banyak luka dan derita dalam sorot mata itu. Dan tentu saja, penyesalan.
“Apa maksud perkataanmu tadi?”tanya Barat menahan getir. Gelisahnya kian menjadi. Sinka tak mau gentar.
“Jangan sok bodoh. Kau bikin Sera jadi selingkuhan kan? Pria dewasa tapi gak punya nurani.”
“Sin, udah. Biar aku yang ngomong sama dia.”
“Gak.”tegas Barat. “Jadi, Sera minta putus karena masalah itu?”
“Kau beneran gak tahu atau pura-pura gak tahu? Jadi cowok itu harus gentle. Pengecut!”
“Sinka!”tegas Ray dengan suara kerasnya.
“Kamu belain dia, Ray? Kalau iya, kamu sama aja kayak dia.”
Ray menghela nafas kesal. Ia berada di posisi serba salah. Barat berjalan pergi dengan langkah gontai. Ray melihatnya dengan tatapan sendu. Dan saat pria itu tidak terlihat, Sinka memukulnya keras.
“Mulai sekarang, jangan anggap aku teman lagi.”ucapnya serius. Umur yang terpaut jauh tak membuatnya sopan pada Ray.
Ray menghentikannya dengan genggaman tangan. “Kau benar-benar bersalah pada Sera.”tegasnya.
“Jangan sok puitis. Sera berhak bahagia. Dan kau lagi-lagi jadi pengkhianat.”
“Dia yang mau aku diam.”
“Hah?”
“Kau akan paham kalau cinta itu buta. Dia menahan semuanya sendirian.”
“Kau bohong.”
“Sebelum semuanya kacau, kau beritahu Sera soal hal ini. Aku takut dia berpikir semua masih dalam rencana.”
“Argh, bodoh banget sih.”
“Emang, kau bodoh.”
“Bukan aku, tapi Sera.”
Demi apapun, ini semua tidak masuk akal. Cerita seperti ini hanya ada di film-film. Persetan dengan cinta. Kalau ujungnya menderita sendirian, untuk apa semua ini? Bukankah semua orang ingin bahagia?
Ada yang rela menderita demi cinta. Sok kuat padahal begitu rapuh.