.38. Tak Bisa Dibenarkan

1211 Kata
Manusia punya hati. Begitu juga dengan Varda. Saran Raina seperti tidak berguna bagi hatinya. Dia kepikiran terus tentang Barat. Dilema yang campur aduk di dalam hatinya. Jika terus begini, bukankah bisa dikatakan dia seorang pengecut? Duka di hatinya terus menjelma. Tak mengira akan bernasib sama seperti Raina. Mereka begitu tidak beruntung dalam rumah tangga. Rumah tangga tetangga cenderung bikin iri. Walau memang yang kelihatan tak selalu benar. “Permisi ibu, ada tamu.” “Hah?” Varda bergegas ke lantai 1. Wanita itu sudah menunggunya. Wanita dengan setelan kebaya sederhana yang cocok untuk bepergian. “Ma, ada apa?”tanyanya heran. Ini tidak biasa. Kedatangan ibunya ke kantor seperti ada yang krusial. “Kamu ada masalah?” “Hah? Gak ada kok.” “Katanya performance perusahaan lagi ngedrop.” “Argh, itu bukan masalah ma. Aku akan menanganinya.” “Gak biasanya kamu kayak gini. Jangan main-main sama perusahaan yang kamu bangun sendiri. Entar kamu nyesal.” “Iya, ma. Mama tenang aja.” “Rumah baik-baik aja kan?” “Baik kok. Seperti biasa.” “Hmm, ya sudah. Mama mau ke salon sebenarnya. Tapi sekalian aja kesini.” Varda mengantarkan wanita itu sampai pergi. Dia merasa tidak enak hati. Berbohong pada orang tuanya tentang masalah keluarga yang kian pelik. Banyak yang terjadi, tapi ini jauh lebih menyesakkan. Pikirannya sering teralihkan. Akhirnya, banyak yang penting yang dilewatkan. Para karyawan pasti juga menyadari hal itu. “Tolong panggil Pak Hendra.” “Baik bu,” Varda sudah memikirkan ini sejak lama. Dia perlu vakum untuk sementara waktu. Ada yang harus dia pikirkan. Rumah tangganya jauh lebih penting daripada perusahaan ini. Bahkan jika orang tuanya bersikeras, dia harus mengambil langkah cepat. Dia ingin bertindak. Diam saja cuma merugikan diri sendiri. Ketukan pintu membuatnya berhenti melamun. Pria itu masuk dan duduk.  “Ada apa bu?” “Pak Hendra, untuk sementara, kamu yang mengurus semuanya. Saya sedang tiba bisa stay di sini terus. Bisa kan?” “Ya, saya selalu siap, bu.” “Dan yang terpenting, jangan beritahu hal ini kepada orang tua saya.” Dengan kecepatan sedang dia membawa mobil ke arah Jakarta Selatan. Maunya sih ketemu Raina untuk menentramkan pikirannya. Dia memarkirkan mobil di depan rumah. Dan dengan segera masuk walau tanpa mengabari Raina.  Dibuat kaget, ia malah bertemu Ervan. Pria itu terlihat kesal. Dia cuma tersenyum sekilas lalu pergi. Ada apa dengannya? Terlihat Raina muncul sambil mendengus. Ia melihat Varda dan tersenyum. Seperti biasa, mereka sering mengobrol di ruang itu.  “Tunggu bentar!”ucapnya dengan gerak mulut yang jelas. Varda mengangguk. Tak lama, muncul seorang wanita. Argh, ibu mertua Raina. Fiks, lagi-lagi ini masalah Ervan. Varda sudah mulai terbiasa dengan keanehan itu. Setelah beberapa menit berlalu, Raina muncul dengan muka kusut. Ia melepaskan kaos kakinya dan rebahan.  “Argh, capek banget.”keluhnya. “Kenapa lagi?” “Ervan lagi di ceramahi. Kata ibu mertua, dia bakal dipecat dari kantor kalau main cewek lagi. Gak cuma itu, dia mau dibawa ke desa biar hidup disana aja.” “Gak bakal efektif. Dia pacarin lagi itu gadis desa.” “Jangan salah. Dia tinggalnya di rumah pensiunan tentara.” “Hmm, not bad lah.” “Bener kan? Sekiranya ancaman itu bikin dia sadar diri.”ujar Raina dengan kekesalan yang besar. “Lalu, kamu ngapain kesini? Kerjaan udah beres?” “Aku sudah memutuskan.” “Hah?” “Aku mau menghadapi ini semua. Aku harus tahu siapa selingkuhannya Barat.” Raina menelan ludahnya. Tidak bisa dibiarkan. Ini tidak boleh terjadi. Jika terjadi, Sera bisa kena imbasnya. Dan yang lebih parah, Barat bisa berbuat yang tidak diinginkan. Yang paling utama adalah mempertahankan rumah tangga Varda. Dia tak seperti Raina yang bisa dengan mudah menerima semua ini. Ya, Raina punya support system dalam wujud ibu mertua.  Varda? Hmm, tidak ada. Bahkan orang tuanya akan dengan tegas menginginkan perceraian. Raina tahu hal itu. Orang tua Varda punya keegoisan tingkat tinggi. Mereka bahkan sudah lupa pernah membuat seseorang hampir mati. Lidah memang tak bertulang, tapi lidah bisa jadi jalan menuju kehancuran. Bisa membunuh tanpa sentuhan. Cukup dengan perkataan yang menyakitkan hati. “Enggak! Jangan Var!” “Ra, kamu lagi gak waras ya?” “Dengar ya, kamu cuma menambah beban kalau lihat foto cewek itu. Mending sekarang fokus sama Barat. Apapun masalah di masa lalu, ayo bisa diperbaiki pelan-pelan.” “Gimana caranya?” “Kau yang tahu.”tegas Raina. “Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi secara detail.” Varda langsung ingat dengan empat tahun lalu. Saat Barat kembali dalam keadaan basah. Dia membentak Varda dengan teriakan. Bikin Varda menyerah untuk merangkulnya.  “Aku juga tidak mengerti.” “Kamu sadar gak sih? Barat seperti itu karena ucapan om sama tante. Dia merasa rendah diri saat berdampingan dengan orang seperti kamu.” “Kenapa kamu berpikir kayak gitu?”tanya Varda tidak terima. Itu semua ia dapat dari Sera. Pria manapun tak akan suka dianggap sepele. Harga diri pria terletak pada pekerjaannya. Jika disepelekan, ia bisa berbuat hal gila. Bahkan cinta tidak dianggap lagi.  Itu fakta dan bisa dibuktikan. Entah apa yang terjadi hingga Varda tidak melakukan apa-apa. Mungkin dia tidak tahu? Atau ada hal lain yang terjadi di antara mereka? “Mungkin saja. Cuma menebak berdasarkan ceritamu selama ini.”jawab Raina mengalihkan. Gak mungkin dia bilang yang sebenarnya. “Jangan mengada-ada!”tegas Varda.  Dia terbawa pada kejadian di masa lalu. Hari dimana Barat marah besar. Ketika terjadi perdebatan serius mengenai sekolah Gemini. Malam itu, Barat pergi begitu saja karena tidak setuju dengan keputusan Varda. Dan saat dia kembali, semua berubah. Pria yang tadinya seperti separuh jiwa berubah jadi orang lain. Tak ada cerita dari Barat. Sampai saat ini, Varda mengira kalau Barat membenci keputusannya. Membuat Gemini sekolah di sekolah internasional.  Dan benar kata Raina. Tak mungkin oleh cerita sederhana itu dia marah. Apa ini ada kaitannya dengan mama dan papa? “Aku pulang saja. Bicara denganmu tak mencerahkan.”tegas Varda sembari mengambil tasnya.  “Jangan cari tahu soal perempuan itu. Perbaiki dulu yang ada. Aku yakin, Barat tak sama dengan Ervan.”ucap Raina sebagai kata terakhir.  Dan memang, Varda percaya akan hal itu. Barat bukan pria yang bisa pacaran dengan sembarang orang. Bahkan di dalam hidupnya, dia cuma punya satu mantan pacar. Itu jadi salah satu bukti bahwa Barat adalah pria yang setia. Dan tetap saja, perbuatannya sekarang tak bisa dibenarkan. *** Tempe jadi makanan kesukaan Gemini. Mau dikasih sebanyak apapun, pasti akan dihabiskannya. Oleh karena itulah, Varda sering mengingatkan baby sitternya. Jangan sering-sering ngasih tempe. Cukup sekali seminggu. Porsi makan anak itu harus dijaga. Biar nutrisi di dalam tubuhnya terjaga.  Dan tibalah hari ini. Hari dimana ia boleh makan tempe. Dengan bersemangat ia pergi ke meja makan.  “Makasih, Mbak Lina.” “Sama-sama, sayang.” Gemi menikmatinya dengan lahap. Makan malam ter the best sepanjang masa.  “Gimana sekolah?” “Seperti biasa. Ada anak cowok yang sering ngisengin aku. Aku balas karena mereka sembunyikan tas ku.” “Bagus. Tapi gak boleh apa?” “Mukul teman sekelas.” “Pintar.” “Oh ya, mbak. Aku  pernah loh ketemu sama temannya papa.” “Oh ya?” “Dia bilang, papa sama mama akan baikan sebentar lagi. Aku harus sabar nunggu biar semua kayak dulu lagi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN