.37. Ulang Tahun Dipta

1517 Kata
Beberapa orang lebih memilih mati tiba-tiba daripada mati karena sakit. Mereka gak sadar aja kalau orang sakit punya banyak privilege. Dikasih kesempatan untuk terbiasa dengan rasa sakit. Dikasih lapang d**a untuk merelakan sesuatu. Toh, besok mati, apa yang harus diperdebatkan? Dan yang lebih menarik, dikasih waktu untuk bertobat. Kata-katanya sih orang yang meninggal dalam keadaan sakit kemungkinan akan masuk surga.  Reza mengantar Sera untuk menghadiri acara ulang tahun Dipta. Ibeth tak bisa melakukannya sebab dia harus pergi ke luar kota. Ada urusan mendesak yang tak bisa dihindari. Meski begitu, Reza dengan tulus hati mengantarnya. Walau sesungguhnya Sera tak terlalu dekat dengan pria itu. Di masa lalu, Sera tak setuju jika Ibeth menikah dengan Reza. Entahlah, dia tegas ngasih tahu kalau dirinya tak pernah menyukai Reza. That’s why, cukup canggung jika mereka hanya berdua. Sera menatap layar handphonenya. Impressive dengan jumlah follower di i********:. Kok bisa sih di akhir hidupnya malah dikasih popularitas kayak gini? Ada-ada saja. Kenaikan followernya sangat pesat. Mungkin karena dia sering muncul di Instagramnya Dipta.  “Kamu beneran bisa pulang sendiri?”tanya Reza saat hampir tiba. “Bisa kok, mas. Aku nanti minta dianterin sama teman. Dan kalau gak, aku tinggal pesan taksi.” “Kamu bawa obat kan?” Sera mengangguk setelah memastikan obat-obatan itu sudah ada di dalam tas. Reza tidak punya waktu untuk menjemput cewek itu. Dia harus lembur dengan segunung pekerjaan.  Tempat itu sudah mulai ramai. Dan terlihat jelas bahwa mayoritas tamu yang datang adalah public figure. Pemandangan yang bikin Reza terkesima sesaat. Dunia memang banyak berubah sejak teknologi menjelma jadi kebutuhan primer.  “Pokoknya telpon mas kalau ada apa-apa!”teriak Reza untuk terakhir kalinya. Sera mengangguk dengan seulas senyuman. Dia bergegas hendak masuk tapi seseorang memanggilnya.  Sinka. “Ra, ayo bareng!”ajaknya sambil merangkul tangan Sinka. Dia datang sendiri, sama seperti Sera. “Yang lain dimana?”tanya Sera berbasa-basi. “Berlin lagi on the way, kalau Joel datangnya agak malam. Katanya ada makan malam bareng manager.” “AH, I see.” “By the way, yang nganterin tadi cowok baru?”tanya Sinka berusaha akrab. “Ah, aku tahu kalau kamu udah putus sama Barat. Ray yang bilang.”ujar Sinka dengan ekspresi tidak enak. Wajah Sera terlihat tidak nyaman membicarakan hal itu. Dan ya, perasaan itu sangat terlihat dari wajahnya.  “Bukan pacar, Sin. Suaminya sepupuku.” “Oh, sorry kalau langsung menyimpulkan.” “No problem. Tapi terima kasih loh, kamu udah ngatur aku buat ketemu sama Ray.” “Syukurlah semua sudah berakhir. Aku harap kamu ketemu yang lebih baik, Ra. Dan,,,”ujar Sinka dengan gelisah yang terasa. “Dan aku benar-benar menyesal untuk yang waktu itu. Berlin juga sama.” “Apa kau punya alasan kenapa melakukannya?”tanya Sera dengan wajah datar. Sinka coba berpikir keras. Well, kesalahan itu memang butuh alasan. Apalagi ia mengorbankan kepercayaan seseorang. Lalu dia teringat akan Berlin. “Jujur, aku gak berniat bikin kamu sama Berlin makin renggang. Tapi,,” “Kasih tahu aja, Sin. Aku udah gak apa-apa.” “Berlin yang nyuruh aku buat diam dulu. Dan dia punya alasan juga.” “Aku tahu.”balas Sera dengan senyuman tipis. “Kau tahu alasannya?”Tanya Sinka dengan tatapan heran. Jelas dong, dia kira Sera gak tahu soal perasaan Berlin. Cinta sepihak yang menyakitkan. Tapi bodohnya, dia mengorbankan Sera untuk merasakan sakit itu. Padahal ini tak ada hubungannya dengan Sera. Meski dia cemburu, tapi tak seharusnya Sera ikut kena imbas. Dia adalah pihak yang tidak bersalah. Sera mengangguk.  Perbincangan serius itu berakhir ketika mereka harus menyapa orang tua Dipta. Mereka akhirnya berbaur dengan puluhan manusia yang sibuk mengabadikan momen. Ketika mereka butuh memori untuk merekam semuanya, Sera hanya butuh waktu untuk merasakan segalanya. Ini akan jadi ulang tahun Dipta yang terakhir dia lihat.  “Selamat ulang tahun, my bro!” “Ish, kuenya kecil banget.” “Ini dibawain yang gede.” Tersaji kue sederhana yang dibuat dengan taburan mie instan. Sera dan Berlin membuatnya semalaman. Dan waktu itu, belum ada ketersinggungan satu sama lain. Semua masih polos dan saling membutuhkan. Sekarang, setiap orang jadi berbeda. Sera menunggu di meja yang dikhususkan untuknya bersama Sinka, Berlin dan Joel. Meja yang berada paling depan berdampingan dengan meja keluarga besar. Kilau menyapa dengan lambaian tangan. Saat ini, bukan cuma Dipta yang tampak luar biasa, Kilau  terlihat cantik dengan dress panjang yang hampir menutup mata kakinya.  Ketika bersama dengan orang lain, Berlin dan Sera membaur seakan tak ada yang terjadi. Sinka menempatkan diri sebagai pihak netral. Sesungguhnya, Sinka bukan siapa-siapa di antara mereka. Namun, bagi Sera tidak masalah jika cewek itu yang bersalah. Dia lebih gila jika yang bersalah dan mengkhianatinya adalah sahabatnya sendiri. Disakiti oleh orang paling dekat seperti dibunuh secara perlahan. Bencinya bisa jadi dua kali lipat dibanding biasanya. “Kenapa?”tanya Sinka sambil menikmati cake merah itu. Dia penasaran dengan tatapan tajam Berlin ke arah Dipta. “Cemburu sama Sera?”tanya Sinka lagi. Setelah anggota keluarga, Sera jadi orang pertama yang menikmati potongan kue itu. Bahkan orang-orang yang ada disana menyukai pemandangan itu. Secara otomatis ngeship dua orang itu. Berlin merasa tersingkirkan. Tak ada yang tahu kalau Berlin juga bagian dari Dipta.  “Gak.” “Cemburu mulu.” “Kau gak tahu apa-apa, Sin! Gak usah sok tahu.” “Sera gak pernah suka sama Dipta. Mau apa lagi?” “Dia caper.” “What?” “I can see it.” “Gila ya. Kalau mau dikasih juga, sana minta sendiri.”tegas Sinka marah. Dia kesal banget. Kenapa Berlin gak pernah berniat minta maaf dengan tulus? Okelah. Dia sudah mengirim pesan via w******p. Tapi Sera butuh ketulusan, bukan sekedar kata. “Dia lagi marah sama aku.” “Wajar sih.” “Hah?” “Udah ya. Aku mau sama Joel aja.”tegas Sinka dan pergi dari tempat itu. Berlin menarik nafas dalam-dalam. Kenapa semua orang jadi menyalahkannya sih? Wajar dong dia marah? Iya kan? Ini namanya tidak adil. Dia harus menahan diri di acara ulang tahun ini. Dipta masih marah padanya. Berlin bingung harus bagaimana. Dia gak punya kesempatan untuk berbaur. Dan yang bikin dia tambah kesal, Sera diajak berfoto sama orang-orang. Tak disangka, dia jadi famous sekarang. Walau dengan panjat sosial melalui Dipta. “Argh, menyebalkan!”dengusnya kesal. Sera ingin kembali ke tempat itu, tapi dia sadar ada Berlin. Dia hendak menjauh tapi cewek itu memanggilnya. “Aku mau bicara!”ucapnya tegas. Sera akhirnya duduk walau dengan rasa canggung dan tidak nyaman. Semua yang terjadi bikin mereka jadi sejauh ini. Ketika dekat itu pernah ada, kini semua tinggal memori. Kesalahan bikin keduanya saling merenggangkan diri masing-masing. Berlin meneguk minuman berwarna merah itu. Dia melipat tangannya di d**a. Rupanya dia sedang menahan emosi dari tadi.  “Mulai sekarang, terserah deh mau gimana. Kamu mau musuhin aku gak apa-apa. Aku gak peduli lagi. Tapi please, kamu jangan kasih harapan sama Dipta. Padahal kamu gak suka sama dia.” “Aku sama Dipta masih berteman baik.” “Aku tahu. Aku tahu banget.”tegas Berlin gak mau kalah. “Tapi kamu harus sadar, banyak orang di tempat ini. Kamu mau mereka bikin berita baru? Kamu suka nambah follower karena hal kayak gini?” “Maksudnya pansos?”tanya Sera sambil terkekeh. Jujur, dia seperti melihat masa lalu. Bicara dengan Berlin yang cenderung semaunya. Bahkan ketika dia bicara hal kayak gini, Sera tak sakit hati. Dia tahu kalau Berlin sedang emosional. Dia sering bicara tanpa berpikir. “Itu kamu tahu.” “Lumayan dong, aku jadi bisa dapat follower.” “Kau serius?”tanya Berlin tidak percaya. Sorot matanya betul-betul kaget.  Joel dan Sinka kembali dengan piring penuh yang berisi makanan. Sera gak habis pikir. Joel baru aja makan malam dengan managernya. Kenapa dia tetap terlihat lapar di tempat ini? “Jo, kau sudah gila?” “Tuh kan, apa kubilang.”celetuk Sinka dengan wajah manyun. “Ini bukan buat aku aja. Ini buat kita. Ayo duduk, kita makan bareng.”ajak-nya.  Terdengar suara penyanyi dengan lagu yang lagi hits. Menghidupkan suasana di tempat ini. Sera begitu menikmatinya. Senang rasanya bisa bersama dengan teman-temannya. Bahkan ketika ada sesuatu yang merenggangkan mereka, Sera masih bisa merasakannya. Perasaan ketika dulu semua masih baik-baik saja. Dia jadi lupa untuk segera pulang. Terlarut dalam cerita dan celotehan tiga orang itu. Kangen pake banget.  “Ra, kamu kenapa?”tanya Joel dengan dahi mengkerut. Bikin Sera mengerutkan alis matanya. “Kamu mimisan.” Sera langsung mengambil tisu untuk melenyapkan darah itu. Dengan cepat mencari obat di dalam tasnya. Dalam hitungan cepat, obat itu berhasil masuk ke dalam mulutnya. Berlin, Sinka dan Joel melihatnya heran. “Are you ok?”tanya Sinka khawatir. Sera memasang senyum manis. “I’m ok.” “Itu obat apa, Ra?”tanya Joel lagi. “Obat lambung.”jawab Sera singkat. Ada khawatir di dalam hatinya. Tapi beruntung, mereka percaya. Mereka kembali mendengar penampilan yang memanjakan mata dan telinga itu. Bahkan ada beberapa doorprize untuk memeriahkan malam ini. Sudah bisa dipastikan, acara ulang tahun ini akan viral di sosial media. Dipta akan jadi pemberitaan yang menarik untuk diikuti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN