.36. Bolehkah kembali?

1282 Kata
Raina duduk dengan kaki bersilang. Cantiknya sepatu wanita itu terekspos. Dia meneguk teh sakura itu untuk kesekian kalinya. Dia sedang berada di lapangan Golf seorang diri. Bukan kebiasaannya sebab ia lebih suka berkuda. Dia sedang menunggu seseorang. Sesekali melirik jam tangannya sebab orang itu sudah sangat terlambat. “Selamat siang, Bu Raina.”sapa pria itu. Pria itu mengenakan jaket bomber bermerk. Dia langsung duduk setelah Raina mempersilahkan. “Kamu kenal saya kan?” “Ya, tentu saja.” “Berhenti melakukan apa yang disuruh Varda. Sebaliknya, tutupi semua hal tentang perempuan itu.” Perkataan itu membuatnya syok. Dia tahu betul bagaimana hubungan Varda dan Raina. Mereka teman yang begitu dekat. Bahkan bisa dikatakan sebagai sahabat. “Kalau ditanya tentang foto perempuan itu, katakan seseorang mengacak-acak kantormu lalu fotonya hilang.” “Tapi,,” “Ini semua demi kebaikan Varda. Saya jamin itu.” “Baik.”ucap pria itu dengan keraguan yang perlahan luntur. Dia lalu pergi setelah memberi hormat.  Raina menghela nafas. Tak sangka bahwa ia akan melakukan hal ini. Semua yang terjadi adalah ide dari perempuan itu. Perempuan yang mengaku tak sengaja jadi orang ketiga. Siapa yang percaya? Tapi sorot matanya membuat Raina percaya. “Buat mereka baikan.” “Hah? Jangan sok ikut campur. Kau tahu apa emangnya?” “Aku tahu apa yang dialami Mas Barat selama ini.”jawab Sera begitu yakin. “Sebaliknya, mbak tahu soal Mbak Varda. Kurasa ini akan jadi  kerjasama yang bagus.” “Tidak. Aku tidak bisa percaya pada orang seperti kamu.” Sera mengambil handphonenya. Membuka aplikasi i********: dan memberikannya pada Raina. Akun i********: dengan 500k follower. “Kau mau pamer?” “Jika tak sesuai harapanmu, kau bisa membuat seluruh Indonesia membenciku.”tegas Sera. “Manusia bisa hancur hanya karena omongan netizen yang menusuk. Kau bisa melakukannya padaku. Dan jujur saja, aku orang yang rapuh.” Sera berhasil membuat Raina percaya.  Hal pertama yang mereka lakukan adalah mempengaruhi Varda untuk mempertahankan rumah tangga itu. Tentang makan malam itu juga ide brilian dari Sera. Usaha itu cukup berhasil. Walau belum menjamin apa-apa. “Ma!!”panggil seseorang. Raina langsung melambaikan  tangannya pada Tasha. Anak gadisnya itu sedang belajar main Golf. Raina sengaja menyewa professional untuk mendukung hobby Tasha. “Ada berita bagus.” “Apa lagi?” “Dipta bakal bikin pesta ulang tahun.”ujarnya sumringah. “Aku mau kesana, ma.” “Emang bisa datang sembarangan? Dia kan orang terkenal.” “Bisa. Aku dikasih undangan khusus. Nih,”ucapnya sambil menunjukkan undangan online itu. Fakta yang tak membuat Raina senang. Dia jadi benci dengan Dipta sebab pria itu teman baik Sera. Ya, ini kebencian yang tidak berdasar. Namanya juga manusia. “Hmm, okeh.” “Aku mau kesana.” “Mama ikut.” “Buat apa?” “Jagain kamu dong.” “Yah, terserahlah.” Waktu bisa memulihkan luka. Meski Tasha pernah patah oleh cinta pertamanya, dia bertahan demi Raina. Apa saja yang dilakukan Ervan di luar sana anggap saja seperti sajian movie yang cukup ditonton saja. *** “Bagus dong.”komentar Ray saat Barat ngasih kabar itu. Kabar kalau Sera memutus hubungan dengannya. Bahkan cewek itu memblokirnya. Ini gila sih. Gak ada angin, gak ada hujan. Dia melakukan itu tanpa beban. “Tak ada gunanya cerita samamu.” “Ya, bagus. Kau bisa kembali dengan keluarga sempurnamu.”tegas Ray. “Kau marah?” “Tentu saja.” “Atas dasar apa?” “Pokoknya, jangan ganggu dia lagi. Buat berkomitmen aja udah mustahil.” “Tetap saja. Aku butuh dia.” “Persetan!” “Kau kenapa lagi?” “Jangan ajak aku ngobrol hari ini.”tegas Ray. Dia pergi dan meninggalkan Barat seorang diri.  Terdengar helaan nafas frustasi. Sungguh, tak bisa tenang memikirkan semua yang terjadi. Dia pernah ingin pisah. Ya, ketika Sera menuntut sebuah komitmen. Ketika perempuan itu ingin menikah. Dan Barat tak bisa mewujudkannya.  Dunia terasa runtuh ketika ia mencari cara untuk putus. Niat putus itu sirnah ketika Sera menunjukkan sisi terbalik. Segalanya kembali seperti semula. Mereka masih bisa bersama.  Dan sekarang, tak ada kabar dari perempuan itu. Tak ada kata selamat pagi yang mewarnai harinya. Seperti separuh jiwa hilang. Tapi benar kata Ray. Dia terlalu egois jika mengharapkan Sera kembali.  Sakit ini biarlah jadi lukanya sendiri. Sakit yang mungkin akan sembuh meski bukan sekarang.  Barat bersiap pergi untuk menjemput Gemini. Seperti biasa, ini hari untuk mereka pulang lebih cepat. Anak itu pasti sudah menunggunya. Kemacetan menghiasi jalanan itu. Saat hampir tiba di sekolah, ia malah melihat Sera. Cewek itu berjalan menjauhi area sekolah. Bikin Barat bergegas menghentikan mobil. Dia menyalakan klakson untuk membuat Sera berhenti berjalan. “Ra, kamu ngapain disini?”tanya Barat. “Hai, mas. Apa kabar?”tanya Sera dengan tatapan datar. “Buruk. Karena kamu ngeblokir nomor saya. Kita kan masih bisa berteman.” “Tidak bisa.”tegas Sera. “Aku pergi dulu. Sudah ada janji.” Barat melihat kepergiannya dengan rasa campur aduk. Tak mudah menghilangkannya dari pikiran. Waktu sudah begitu lama. Dan terlalu banyak kisah di antara mereka. Kisah yang masih saja menggenang di kepala. Jika Ray berpikir kalau Barat cuma sekedar kasihan, tidak. Barat sudah lupa dengan kejadian empat tahun lalu. Dia sudah lupa betapa berat keadaan yang harus dihadapi. Semua karena Sera. Dia membawa Barat pada rasa percaya bahwa hidupnya lebih berharga daripada kematian. Dengan perasaan yang tidak tenang, ia melambaikan tangan pada Gemini yang menunggu di depan gerbang. Anak itu berlari mendekatinya.  “Ayo, pa.”ajaknya sumringah. Barat masuk dengan segera. Duduk dalam posisi seorang driver. Dia masih kepikiran dengan Sera. Kejadian ini memaksanya untuk bersyukur seperti kata Ray. Tapi dibalik itu, dia juga cemas dan kehilangan. “Pa, minggu depan papa ikut ya ke acara Sejuta Malam di sekolah.” “Sejuta Malam?” “Itu loh, acara makan malam bersama orang tua.” Sejuta Malam adalah acara yang dibuat oleh sekolah untuk menjalin silaturahmi. Inti dari acara ini bukan sekedar menikmati makanan tapi bagaimana orang tua memberi tanggapan tentang anak-anak mereka. Guru akhirnya bisa memahami apa yang diinginkan orang tua untuknya. Dan pengertian itu bisa membuat kedekatan yang lebih erat antara mereka. “Hmm, iya, papa usahakan ya.” “Mama juga ikut ya, pa.” “Kamu bilang aja sendiri ya.” “Enggak.”jelas Gemini dengan muka kusut. Baru kali ini Gemi bersikap seperti ini. Biasanya dia bersikap dewasa. Bahkan ketika ada perang dingin antara Barat dan Varda.  “Aku mau papa yang bilang. Aku lagi malas ngomong.” “Tapi kan,,,” “Papa sama mama udah baikan kan?” Barat hanya bisa diam. Ternyata Gemi tahu soal mereka. Mereka yang tak lagi bersikap seperti orang tua harmonis. Argh!! “Kata Tante Raina kalian sudah baikan. Pokoknya, papa bilang sama mama ya. Acaranya minggu depan.”tegas Gemini lagi. Jadi ini semua karena hasutan perempuan itu. Dia benar-benar ikut campur. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Dan yang pasti, dia juga sudah tahu soal hubungan Barat dengan Varda. Makan malam yang berlangsung waktu itu seperti disengaja dengan tujuan tertentu. “Ini gak seperti yang kamu bayangkan, Gem.” “Aku percaya sama Tante Rain.” Mobil berhenti di lobby.  “Kamu gak mau main sama papa dulu?”teriak Barat saat anak itu berlari cepat. Tak seperti biasanya, dia buru-buru ke kamar. “Engga pa. Aku mau selesaikan tugas menggambar dulu.”jawab Gemi tanpa memperdulikan Barat. Barat menghela nafas. Dia gak paham dengan perubahan Gemini. Padahal semua masih sama saja. Tak ada kata yang bisa terucap saat bersama wanita itu. Untuk jadi seperti semula sangat sulit baginya. Apalagi, ada canggung dan tembok besar yang menghalanginya. Lagi dan lagi, dia memikirkan Sera. Ukuran besar otaknya seperti untuk Sera seorang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN