.35. Dibanding Dia

1610 Kata
Sinka mendatangi Berlin setelah selesai dengan kegiatan kantor. Tepat pukul 5 sore, ia berjalan di antara kerumunan orang yang sibuk mencari outfit. Butik ini semakin ramai saja. Dengan menjaga kualitas dan menciptakan model baru secara continues, Berlin mampu bersaing dengan para kompetitor.  Dulunya, Berlin pernah menghabiskan gajinya untuk bisnis ini. Dia benar-benar berjuang dari nol. Dan lihat sekarang, dunia bisa berubah dalam genggamannya. Usahanya membuahkan hasil yang tidak main-main. “Windy!!”panggilnya dengan lambaian tangan. Perempuan itu mendekat walau dengan setumpuk kertas di tangannya. “Iya, kenapa mbak?” “Berlin ada kan?” “Ada. Dia baru sampai.” “Lah, darimana?” Windy mengedikkan bahu karena tidak tahu. Sinka bergegas naik ke lantai 2. Dia melewati orang-orang itu. Ada yang sibuk mengobrol alih-alih mencari pakaian yang cocok. “Eh, Sin.” “Hai, Ber.”sapa Sinka sambil merebahkan diri di sofa. Dia mendongakkan kepala seraya mengistirahatkan badan itu. Badan yang hampir remuk sebab kemarin harus lembur sampai pagi. Hal biasa bagi para b***k korporat.  “Tumben kesini.” “Lebay banget. Baru seminggu gak datang, udah judgemental gini.” “Bercanda, Sin.” “Jadi beneran Dipta mau bikin pesta ulang tahun?” “Well, pesta besar yang mungkin akan diliput selebgram lainnya. He is very famous.” “Kapan ya aku bisa kayak gitu? Kalau mati pasti banyak yang datang.” “Ngaco ih.” “Emang kamu gak suka kayak artis-artis zaman sekarang? Acara kematiannya bisa jadi duka bagi semua orang. Hidupnya terasa bermakna.” “Gak. Jatuhnya jadi sumber keuntungan untuk orang-orang itu. Mending gue mati dan ditangisi oleh orang-orang yang tulus.”sanggah Berlin sambil duduk di depan Sinka. Sinka tertawa mendengarnya. Tak masalah berbeda pandangan. Asal jangan merugikan orang lain. Jaman sekarang, berbeda sedikit dianggap salah.  “By the way, udah ketemu Sera?” “Kenapa lagi sih ngomongin dia?” “Lah, kenapa lagi sih?” “Dia jalan berdua sama Dipta. Dan dia gak ngajak aku. Kamu tahu kan maksudnya apa?” “Argh, aku jadi takut.” “Takut?” “Minggu lalu aku ketemu sama dia.” “What? Kok kamu gak bilang?” “Sorry, aku gak mau bikin kamu panik dengan semua kesibukanmu.” “Argh, terserahlah. Terus gimana?” “Dia bilang, dia kecewa.” Berlin memegang kepalanya sambil menghela nafas frustasi. Mikir kalau Sera emang sengaja datang ke kafenya Johan. Ya, untuk bertemu Berlin. Tapi Berlin tidak dikasih takdir untuk bertemu dengannya. Berlin sibuk dengan Nacita Fashion. Argh, dia jadi ikut kecewa dengan diri sendiri. “Tapi ya, Ber. Dia ngajak ketemuan sama Ray.” “Ray?” “Ray itu teman kantornya Mas Barat. Dan dia begitu bodoh.” “Maksudnya?” “Dia tahu tentang semua ini. Jauh sebelum kita tahu.” Berlin kian menggila. Mendengar fakta yang sungguh tidak masuk akal ini. Berbagai kebetulan muncul seperti sudah direncanakan. Kesalahan Berlin memang tak akan bisa ditebus. Dia ingin mengaku dan meminta maaf. Bagaimana caranya? “Gini aja. Di pesta ulang tahun Dipta, kamu harus bicara sama Sera.”tegas Sinka ngasih solusi. “Bicara apa lagi? Semua sudah clear.” “Kamu minta maaf dong, Ber. Jangan egois mulu. Kamu sudah tahu Mas Barat jadiin dia selingkuhan tapi kamu malah diam. Menganggap kalau gak ada apa-apa!!”tegas Sinka berusaha menyadarkan Berlin. Seseorang bisa jadi sangat egois dan menyebalkan. Tiba-tiba sebuah suara terdengar. Dari balik pintu masuk. Tampak Dipta berdiri dengan tatapan bingung. Dia berpenampilan seadanya di sore hari ini. Berlin dan Sinka saling melirik. Ada rasa takut dan khawatir. “Apa maksudnya itu?”tanya Dipta tegas. Terlihat betapa kecewanya dia. “Argh, ehmm, kita cuma..”ucap Sinka terbata-bata. “Aku mau kita bicara, Ber.”tegas Dipta dengan suara beratnya. Sinka yang peka segera pergi meninggalkan mereka. Menutup pintu rapat-rapat walau perasaannya begitu tidak tenang.  Berlin menelan ludah dengan gemetar yang berusaha ditutupi. Bagaimanapun, dia bersalah. Tapi ini terlalu mendadak. Ditambah lagi, dia sedang menghadapi Dipta, bukan Sera. Dia lebih takut mengecewakan Dipta. Ya, pria yang ia cintai.  “Kenapa diam saja? Apa maksud perkataan tadi?” “Aku tahu aku salah.” Dipta memijat dahinya untuk menenangkan diri. Tak sangka jika Berlin sudah mengetahuinya jauh sebelum dia tahu. Bagaimana bisa seorang sahabat bertingkah seperti itu? Dia tega membiarkan Sera menderita sendiri? Kok bisa sih? “Kita berteman hampir sepuluh tahun. Apa kami salah menganggapmu sahabat?”tanya Dipta dengan suara keras. Bikin Berlin mencapai titik emosionalnya. Dia menyebut mereka sebagai kami. Mereka mau menyisihkan Berlin? Argh, fak!! “Aku, aku punya alasan.” “Alasan apa? Kamu benar-benar gak punya perasaan. Aku sibuk nyalahin Sera waktu dia jaga jarak. Ternyata kamu yang bermasalah. Sialan!” Berlin terdiam dan terpojok. Merasa kalah untuk pertama kalinya. “Bahkan dia gak pernah jelek-jelekin kamu. Selama ini, kami sudah cukup sabar memahami egomu yang tinggi. Kamu gak bersyukur?” “Memahami? Bersyukur? Kalian selalu pergi tanpa aku. Bahkan beberapa hari yang lalu.” “What the hell. Cuma gara-gara hal sepele kayak gitu kamu mengkhianati temanmu?” “SEPELE???”teriak Berlin gak mau kalah. Dipta mendengus kesal.  Rasanya ingin marah sejadi-jadinya. Jika Berlin cowok, sudah dihajar dari tadi. Dia benci dengan pengkhianatan seperti ini. Mereka sudah bersahabat bak saudara. Kok jadinya malah begini? “Kamu gak tahu apa yang dihadapi Sera. Kalau cuma cowok itu yang jahat masih gak terlalu berat. Tapi kamu ikutan jahat.” “Kamu selalu belain dia! Sadar gak, itu juga jahat.” “Terserahlah!!”tegas Dipta. “Sekarang aku tahu betapa jahatnya kamu tanpa dikasih tahu sama Sera.” Dipa bergegas pergi. Kemudian dia ingat tujuan utama datang kesini. Niat baik itu malah berganti jadi petaka yang menyesakkan. Dia mengambil kertas undangan itu dari dalam tasnya. “Niatku kesini cuma mau ngasih ini. Terserah mau datang atau engga.” Dia pergi begitu saja. Berlin gemetar dan sakit hati. Dia menggigit bibirnya keras. Marah dan sakit hati campur aduk sehingga menghasilkan kemurkaan. Dia benci ada di posisi ini. Sebagai seorang pengkhianat. Mereka tidak tahu saja betapa berat yang dirasakan Berlin. Dia mengambil tasnya lalu pergi. Tak peduli jika Sinka akan kembali. Dia menyetir dan sampai di tempat yang lumayan sepi. Menangis. Ya, pelampiasan seorang wanita adalah dengan menangis. Jangan sangka jika ada wanita bermental baja, maka dia tidak akan menangis. Dia akan menangis saat tak ada yang memperhatikan. Baginya, tangisan seperti sebuah kelemahan. Sifat pengecut itulah yang dimiliki oleh Berlian Nacita. Dia tahu kok. Dipta tak pernah menyimpan rasa untuknya. Rasa itu sudah diberikan untuk Sera. Tapi, ini terlalu jahat. Dipta mengatakannya secara gamblang. Bahwa dia lebih memilih Sera dibanding Berlin. Persetan!! *** Ada beberapa tahapan yang harus dilewati orang dengan sakit parah. Tahap awal, menangisi hidupnya dan bahkan menyalahkan Tuhan. Tahap kedua, mulai terbiasa dan coba memahami takdir ini. Tahap ketiga, bertingkah biasa bak tidak ada yang terjadi. Pergolakan hati manusia yang rumit ini mampu diombang-ambingkan oleh perasaannya sendiri.  Dan kini, Sera sudah sampai di tahap tiga. Tahap yang paling menenangkan, tapi tahap yang semakin mendekati ajal. Ketika si pesakitan sudah terbiasa, orang sekitarnya yang awas dan takut. Sore itu mereka mendapat tamu. Tamu yang membuat Ibeth bersemangat. Dia suka banget ngisengin Dipta sejak dulu. Dan cowok itu cuma bisa pasrah. “Jujur ya, Kilau jauh lebih cakep daripada kamu.”ucap Ibeth sambil duduk bersila di depan televisi. Kilau yang mendengarnya tersenyum. Sedang Dipta hanya bisa makan hati. “Terus, kenapa Dipta bisa jadi selebgram famous?”Tanya Sera. “Karena dia punya kesempatan. Timing!” “Hoki juga kali ya.” “Apaan sih. Lebay banget.”komentar Dipta tidak suka. Tante Pi datang membawakan cemilan. Kedatangan Dipta kali ini sudah ada dalam rencana. Tak boleh ada yang mengungkapkan tentang penyakit Sera. Dan tadi, terjadi perdebatan keras antara Tante Pi dan Sera. Tante Pi tak tega dengan Dipta. Dipta yang sudah seperti anak laki-lakinya itu. Mau gimana lagi, Sera belum ingin membagi kesedihan itu pada orang lain. “Ayo dimakan.” “Terima kasih, tan.”jawab Dipta dan Kilau serempak.  Mereka mengobrol banyak hal. Mulai dari hal receh hingga hal serius. Ketika bersama dengan orang yang satu frekuensi, bahan percakapan tak akan pernah habis. Semua mengalir apa adanya. Tante Pi menawarkan mereka makan malam. Toh, hari sudah gelap. Dan makan malam sudah disiapkan dari tadi. Segera, Ibeth mengajak Kilau untuk ikut membantu. Sampailah pada kondisi hanya Sera dan Dipta di ruang tamu. “Apa kabar?”tanya Dipta serius. Bikin Sera overthinking. Ditanyain kabar pada orang yang sakit terasa begitu menyesakkan. Dia sedang tidak baik tapi harus mengaku sebaliknya. “Baik. Kamu gimana?” “Buruk.” “Hah?” “Aku sudah tahu semuanya.”tegas Dipta membuat Sera berpikir yang tidak-tidak. “Masalah antara kamu sama Berlin.” Jantungnya berdetak kencang. Bukan seperti yang dia pikirkan, tapi ini juga berita buruk.  “Ehmm, i-iya.” “Cewek itu benar-benar gak punya perasaan. Untung kamu udah putus sama orang itu. Sadar gak, mungkin Berlin emang udah gak waras. Kenapa dia segitu bencinya sama kamu?” Sera diam dan merenung. Dia juga tidak membenarkan. Tapi dia bisa memaklumi. Ya, untuk saat ini. Jika di masa lalu dia begitu membenci Berlin, sekarang sudah berbeda. Dia mulai memahami jalan pikiran cewek itu. “Pokoknya, jaga jarak sama dia. Takutnya dia melakukan sesuatu sama kamu. Kamu juga sudah termasuk selebgram. Nanti dihujat lagi sama netizen.” “Ish, kamu kenapa sih? Dulu maksa aku buat baikan sama Berlin. Sekarang kok jadi jahat gini?” “Beda, Ra. Aku kira kamu yang egois. Atau terbawa keadaan karena Mas Barat. Ternyata, ada alasan yang kuat.”ucap Dipta mengungkapkan isi hatinya.  “Guys, ayo makan!!”ajak Ibeth menghentikan mereka larut dalam kisah itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN