Sudah berjam-jam Berlin mengecek stok barang. Ada saja problem dengan penyetok. Mereka suka mencari keuntungan dengan cara curang. Kerugian yang didapat Nacita Fashion tidak main-main. Sejak ada kejadian seperti itu, bekerja harus lebih ekstra.
“Win, udah beres semua nih.”
“Makasih, bu.”
“Kamu gak pulang?”
“Ada yang mau saya kerjakan, bu.”
“Ya udah. Aku balik duluan ya.”
Windy mengangguk. Berlin langsung mengambil tasnya dari ruangan. Dia harus menghadiri pertemuan keluarga yang membosankan. Well, kalau cuma keluarga inti gak masalah. Kenapa om, tante harus ikut? Bikin mager dan malas.
Berlin menyetir dengan tenang. Tak perlu waktu lama untuk sampai ke tempat itu. Kafe milik kakaknya sendiri. Tempat pertemuan sederhana yang akan jadi momen membosankan. Dia parkir dengan bebas sebab cuma dua mobil yang parkir di tempat itu.
“Kok tumben?”gumamnya sambil membuka pintu. Dia disambut oleh wanita itu. Perempuan paling tidak beruntung di muka bumi ini. Dia adalah pacar Johan, kakaknya Berlin. Perempuan itu terlalu bodoh sampai mau memacari Johan yang jeleknya minta ampun.
“Ber, ayo masuk!”ajaknya ramah.
“Emang udah di dalam semua kak?”
“Well, tinggal nunggu Naldi.”
“Naldi mau datang? Ngapain?”
“Kata Johan mau ngasih kejutan.”
“Sial!”keluh Berlin sambil masuk. Naldi itu sepupu yang sering jadi perbandingan. Tahu kan gimana orang tua jaman sekarang? Kalau ada yang berhasil dikit, langsung dijadikan role model. Well, semua orang harus bisa minimal seperti orang tersebut. Bikin kesal. Naldi gak salah apa-apa, tapi para orang tua itu terlalu lebay.
“Jadi kafe ditutup buat acara ini?”tanya Berlin syok.
“Iya.”
“Bego! Kalau gue sih ogah ya.”
“Diem. Entar Tante Rosa dengar.”tegas Johan. Tante Rosa itu tipikal tante yang menuntut setiap orang untuk sempurna. Pokoknya lo harus begini, harus begitu. Ia kira gampang?
“Bakal rugi berapa kalau nutup sehari?”
“Gak bakal rugi, Ber. Entar juga ketutup sama hari lain.”
Mereka sibuk mempersiapkan semuanya. Sedangkan tante-tante itu sibuk menggosip sambil merequest menu yang mereka inginkan.
“Oh ya, beberapa hari yang lalu Sera kesini loh. Ada tiga kali kayaknya dia datang.”
“Ohh,,,,”
“Kok gitu?”
“Kami udah gak berteman.”
“Hey, suka banget bercanda. Ya, kali.”
“Serius kak.”
“Terus, Dipta?”
“Dia jadi pihak netral.”
“Kenapa? Rebutan cowok?”tebak Johan sembarang.
“Kata siapa? Ngaco deh.”
“Biasanya kan gitu. Orang yang temenan berantem karena cowok. Yah, kisah klise lah itu.”
“Bukan. Dia emang udah gak mau lagi berteman sama aku. Dia yang mulai jadi aku ladenin.”
“Kamu pasti buat salah.”tebak Johan. He has a strong feeling about this. Dari tadi, tebakannya seperti mendekati kebenaran. Jangan-jangan dia jelmaan cenayang yang gak sengaja lahir ke dunia?
“Tapi aku udah minta maaf.”
“Minta maaf sekali gak cukup.”
“Terserahlah. Bodo amat.”ucap Berlin lalu pergi menemui perkumpulan tante-tante rempong itu. Tak lama Naldi datang dan acara langsung dimulai. Sesekali Berlin memikirkan Sera. Kenapa dia kesini sampai tiga kali? Apalagi, rumahnya cukup jauh dari kafe ini.
“Naldi baru naik jabatan loh. Bentar lagi golongannya nambah.”
“Keren banget kamu, Nal.”puji semua orang.
As usual, jabatan PNS selalu diagungkan dalam acara keluarga. Apalagi Naldi sudah beresin kuliahnya. Dengan mudah dia naik jabatan. Semua itu jadi ajang pamer antar keluarga.
“Kamu harusnya kayak gitu, Ber. Tapi disuruh ikut CPNS, kamu nolak mulu.”
“Jangan gitu, ma.”seru Johan. “Penghasilan Berlin bulan lalu naik dua kali lipat loh. Dia juga pantas diapresiasi.”
“Ya tetap aja. Mama pengen punya anak PNS. Kamu gak mau, Berlin juga gak mau.”
So disgusting!
Setelah ajang pamer jabatan, dimulailah pembicaraan serius tentang pernikahan. Naldi cerita banyak soal pacarnya. Mudah baginya bertemu wanita cantik nan anggun. Mamanya berdalih akan melangsungkan pesta pernikahan as soon as possible. Johan sih tidak masalah. Pacarnya ada disini. Berlin yang kena batunya.
“Tante ada kenalan loh, Ber. Dia kerja di BUMN.”
“Tante juga. Kalau yang ini udah jadi bos di pertambangan. Pasti cocok deh.”
“Hehe, iya tan.”balas Berlin memasang wajah polos. Dihatinya, sudah terucap beragam makhluk hutan. Rasanya ingin berteriak tapi norma dan tata krama mengekangnya.
Sajian itu habis ludes. Disusul tawa dan keceriaan. Sera langsung ke dapur untuk membereskan beberapa hal. Naldi membantunya dengan niat untuk ngobrol.
“Gak usah. Duduk aja.”
“Ye, mau bantuin dikit doang.”
“Ya udah.”
Cuci piring sebanyak ini butuh kerjasama. Kalau dikerjakan sendiri, rasanya seperti meremukkan seluruh badan. Capek cuy.
“Maafin mama sama tante itu semua.”ucap Naldi sambil menaruh piring bersih itu di raknya.
“Gak perlu lah kamu yang bilang gitu.”
“Tetap aja. Semua gak seperti yang kamu bayangin.”
“Maksudnya?”
“Aku baru putus dari pacarku. Soal naik jabatan, aku harus bayar 200 juta.”aku Naldi dengan ekspresi datar. Bikin Berlin sempat terdiam, lalu kembali mencuci lagi. “Menarik bukan?”
“Turut berduka karena kamu putus. Tapi kenapa bodoh banget sampai ngeluarin 200 juta?”
“Semua ide mama.”
“Argh, Tante Trisya gak pernah bener.”
Terdengar suara dari pintu. “Ber, aku mau nganterin doi bentar.”ucap Johan dengan teriakan.
“Wokey.”balas Berlin tanpa mengalihkan pandangannya dari piring yang tumpukannya mulai berkurang.
“Pokoknya tak seperti yang diceritakan sama mama. Mereka sibuk memuji tanpa tahu apa yang kualami.”
“Ceritanya kau terjebak?”
“Ya. Tapi aku dari dulu emang begitu. Selalu ngikut ucapan orang tua. Kamu selalu bikin iri karena bisa jadi diri sendiri.”
“Kok gitu sih?”
“Ya, benar kan?”
“Siapa suruh jadi orang patuh?”
“Kampret lah.”
Berlin tertawa. Dia tak pernah kesal dengan Naldi. Bahkan ketika semua orang memujinya. Naldi selalu merasa tidak enak hati. Dia itu punya hati selembut sutera. Dan tak sekalipun membuat Berlin sakit hati.
“Kapan dong kita ke nginep di rumah nenek lagi?”
“Emang masih asyik?”
“Iya dong. Tidur di ruang tamu sambil ngerjain nenek. Haha.”
Cerita tentang masa lalu selalu menarik. Terlebih masa itu dijalani bersama dengan bahagia. Sebagai keluarga yang hobby ngumpul-ngumpul, Berlin banyak menghabiskan masa kecilnya dengan sepupu. Dia punya banyak sepupu. Tapi cuma Naldi yang sedekat ini. Tahu kenapa? Sisanya udah keburu tuwir. Dan lagi, mereka tinggal cukup jauh. Ada yang di Semarang, Jogja hingga Medan. Sekalinya ketemu, udah kayak gak pernah kenal. Canggung banget.
***
Waktu itu hujan turun mulai deras. Suasana ini agak mengkhawatirkan. Sera dan Ray sudah dihidangkan makanan dan minuman. Ray sudah mengumbar fakta tentang Barat. Dia tidak berkuasa untuk jujur. Ancaman Sinka tak bisa dianggap main-main.
“Berarti benar, dia merasa aku berjasa dalam hidupnya. Iya kan?”tanya Sera dengan senyum getir.
“Awalnya. Tapi semakin hari, dia mengaku mencintaimu.”
“Pembohong.”
“Aku serius. Kau kira dengan menyelamatkan hidupnya, dia mau bertingkah seperti itu padamu. Gak masuk akal kan?”
“Aku cuma dijadiin pelampiasan.”
“Tidak, Ra.”
“Kau juga jahat. Berbohong pada Mbak Varda.”
“Kau kenal dia?”
“Aku kerjasama sebagai bagian promosi di Varda Cosmetic.”
Ray speechless. Kebetulan macam apa ini? Barat terlalu mengasingkan diri sampai gak tahu soal Varda Cosmetic. Dia juga buta sosmed. Tipikal pria kaku yang kalau ngomong sama generasi Z akan terlihat kaku.
“Pokoknya, gak ada belas kasihan. Barat benar-benar butuh kamu.”
“Karena keluarganya hancur.”
“Bu-bukan, Ra.”
“Aku pasti akan mengambil keputusan. Tapi butuh waktu karena aku gak pernah tahu apa-apa. Kau bersedia menunggu kan? Jangan bicara apapun pada Mas Barat.”
Kerjasama dengan Sera seperti mengkhianati Barat. Ray merasa bersalah. Tapi dia tetap menyanggupi permintaan itu.
“Thanks, Ray.”
“Sera!!”panggil Ray saat Sera hendak membuka pintu. Cewek itu menoleh dengan wajahnya yang mungil. “Kau tidak apa-apa kan?”
“Tentu saja. Aku sudah tahu itu dua bulan yang lalu. Sekarang sudah tidak masalah.”
“Dulu?”
“Hmm, dulu aku hampir mati. Tapi bukan seperti yang dilakukan Barat dulu. Jadi, semua baik-baik aja kok. Aku pergi ya.”tegas Sera.
Ray menghela nafas penuh derita. Sungguh tidak nyaman ada di antara dua orang itu. Perannya seperti orang jahat yang terlihat baik. Padahal, Ray ikut andil menipu Sera. Perempuan itu tidak tampak membencinya.
Hujan semakin deras. Hati kian gulana. Dunia ini kacau oleh ulah manusia.