.33. Betrayed

1211 Kata
Setelah sekian lama, kesadaran itu datang kembali. Ya, semua harus kembali ke awal. Kegiatan hari ini adalah putus dari Barat. Ini akan jadi momen terbaik dalam hidup Sera. Aneh bukan? Dia melakukan keputusan terbesar yang bertolak belakang dengan hatinya. Kali ini, nurani lebih diutamakan. Siapapun yang jadi selingkuhan, sadarlah. Mencintai dengan menyakiti orang lain tentu jahat. Tapi bolehkah mencintai dengan menyakiti diri sendiri? Mungkin, itulah yang akan dilakukan Sera. “Jangan pernah luluh. Kau harus bilang dengan serius.” “Iya, kak.” “Astaga, Ra. Beberapa hari ini pikiranku tentang kamu terus. Kok bisa jadi selingkuhan sih?” “Siapa yang jadi selingkuhan?”tanya Tante Pi yang muncul dengan segelas air putih dan obat. Ibeth langsung berdehem dengan memutar otak. Melihat tingkah Ibeth, Sera tertawa.  “Teman sekolahku, tan.”ucap Ibeth terbata-bata.  “Kok gitu sih? Bilangin sama dia, jangan mau jadi selingkuhan.” “I-iya, tan.” Tante Pi memberikan obat untuk Sera. Sera meminumnya dengan cepat. Kebiasaan bikin dia khatam minum obat. Bahkan dia bisa melakukannya tanpa minum. Semua bisa karena terbiasa.  “Kalian beneran mau pergi?”tanya Tante Pi khawatir. Kian bertambah usia, seorang ibu semakin lebay mengkhawatirkan anaknya. Terutama anak perempuan. Bagi Ibeth, itu hal yang biasa. Apalagi Sera menginap penyakit yang cukup parah. “Tan,,,”rayu Ibeth sambil merangkul Tante Pi. “Kami cuma sebentar. Lagian, ada aku yang jagain Sera. Tante percaya sama aku kan?” “Percaya, Beth. Tapi tante gak percaya kalau keadaan akan baik-baik saja.” “Kalau ada masalah, aku tinggal nelpon Reza. Jadi tante gak usah khawatir.” Sera berdiri dan mencoba melakukan bagiannya. “Aku janji, after this aku gak bakal bikin mama khawatir.”ucapnya menenangkan. “Dan maafin aku kalau sering marah-marah.” “Enggak, Ra. Mama gak apa-apa kalau kamu marah.”peluk Tante Pi. Marah itu hal yang wajar. Apalagi untuk yang hidup bersama dalam sebuah keluarga. Tinggal bagaimana mengalah untuk saling pengertian.  “Kalian mau pergi jam berapa?” “Bentar lagi, tan.” “Okey, jangan lupa semua dibawa ya. Terutama peralatan kemping.” Ibeth dan Sera berbohong. Mereka bilang mau kemping. Padahal cuma mau ketemu sama Barat. Ini semua ide random yang tiba-tiba muncul dipikiran Ibeth. Ya, saat Tante Pi menanyakan alasan kepergian itu. Weekend ini Sera harus menyusahkan Ibeth. Lagi dan lagi, dia semakin berhutang budi sama sepupunya itu. Dering telepon terdengar. Ibeth melihat nama Dipta di layar. Sera memilih untuk mendiamkan-nya. “Kamu kapan ngasih tahu teman-temanmu?” “Hah?” “Kamu sakit, Ra. Mereka berhak tahu.” “Banyak yang terjadi di antara kami. Aku gak mau mereka kasihan atau terbebani.” “Kamu dan Dipta?” “Aku, Dipta dan Berlin.” “Wah, gila.” “Aku bakal ngasih tahu, kak. Tapi gak sekarang.”tegas Sera.  Mobil melaju hingga sampai ke Bandung. Well, ini memang agak ngaco. Permintaan Sera untuk diantarkan sampai ke Bandung. Katanya sih karena Barat ada pekerjaan di kota itu. Mau bagaimana lagi, sudah tak ada waktu lain. Sera dan Barat bertemu di sebuah tempat yang sudah dijanjikan sebelumnya. Sedang Ibeth memantau dari jauh. Dia gak mau berkenalan dengan pria itu. Dan yang pasti, dia benci dengan pria itu.  Jika seseorang selingkuh, dia yang harus disalahkan. Bukan selingkuhannya. Apalagi Sera termasuk pihak yang tidak tahu apa-apa. Terlalu dalam jatuh hati membuat Sera dibutakan oleh cinta.  “Ra!! Sera!”panggil Barat dari jauh. Dia melambaikan tangan. Sera berhenti tanpa merespon dengan serius. “Kamu udah nunggu lama?” “Enggak.” “Baguslah.”ujar Barat hendak menggenggam tangannya.  Tapi Sera menghalaunya. Dia berjalan terus. Tanpa peduli bagaimana reaksi Barat, dia terus berjalan. Di dalam kerumunan, dia mengajak Barat untuk menjauh. Berharap kalau Ibeth tak menemukan mereka. Sera ingin bicara dengan Barat tanpa campur tangan Ibeth.  Setelah yakin dan menjauh dari kerumunan itu, ia melepaskan genggaman tangan Barat. Mereka berdiri di bagian atas mall yang beratapkan kaca. Jadi dari sana terlihat jelas indahnya malam ini.  “Kamu kenapa sih, Ra?”tanya Barat serius. Tapi Sera sibuk memperhatikan sekitar. Memastikan kalau Ibeth gak ngikutin mereka berdua. “Ra? Kamu dengar gak sih?”desak Barat seraya memegang pundak Sera. Membuat Sera menghadapkan wajah padanya. Sera menelan ludah coba menenangkan diri. “Ayo kita putus.”ucapnya dengan suara datar. Barat melepaskan tangannya. Tak menyangka akan mendengarkan ini dari Sera. Tanpa hujan dan awan gelap, halilintar itu datang menyengsarakan. “Kamu bercanda?” “Serius.” “Oke, kenapa?” “Aku bosan.” “Hey, jangan mengada-ada. Kita sudah lama sekali, Ra. Kamu baru bosan sekarang? Gak mungkin. Itu cuma alasan kan?” “Ya, itu cuma alasan. Aku merasa udah gak cinta lagi sama kamu.” Barat diam, tak bisa berkata-kata. Matahari yang selama ini menyinari hati dan jiwanya seperti akan redup. Putus asa seorang lelaki bukan dengan air mata. Mimik wajah Barat menunjukkan hal itu. Kecewa, sedih dan gundah. Dicekoki fakta seperti ini bikin dia merana. Jantungnya seperti tertusuk panah yang tajam. Dia masih menginginkan Sera. Sera mengambil kacamata hitam dari dalam tasnya. Tak ingin Barat melihat matanya yang berkaca-kaca. Sakit ini biarlah jadi miliknya sendiri. Bahkan dia mengkhianati Ibeth. Cuma demi pria ini. Betapa bodohnya dia. “Mari jangan bertemu lagi.” “Ra, tunggu dulu.”ujar Barat menghentikan langkah Sera. Barat mendekat dan berdiri di depannya. “Sebelum pergi, apa kau tak bisa memelukku? Sekali lagi saja.” “Apa itu penting?”tegas Sera dengan suara seraknya. Barat langsung memeluknya tanpa permisi. Cukup lama mereka berpelukan sampai Sera melepaskan diri. Dia langsung pergi tanpa pamit. Sebab hatinya terasa tercabik-cabik. Dia sudah tidak sanggup. Melawan kejujuran demi berpisah dengan Barat.  Dengan eskalator itu, ia menjauh. Barat melihatnya sampai menghilang. Sera terus turun hingga ia bertabrakan dengan Ibeth.  “Kamu apa-apaan sih, Ra? Aku udah ngorbanin banyak hal buat kamu. Kamu malah pergi sendiri? Aku cari kamu kesana kemari. Aku udah mau mati gara-gara kamu, Ra!!”omel Ibeth dengan suara keras. Orang-orang melihat mereka dengan kebingungan. Sera tersungkur dengan air mata memenuhi wajahnya. Kali ini, air mata itu sudah keluar dari zona kacamata. Dia menangis dengan suara.  “Argh, sial!”gumam Ibeth sambil memeluknya erat. Cukup lama mereka disana. Menunggu hingga tangis Sera reda. Bagaimanapun juga, cewek itu merupakan tanggung jawab Ibeth. Dia sudah berjanji pada Tante Pi.  “Jangan tangisi pria b******k seperti dia. Kau memukulnya kan tadi?”tanya Ibeth sambil membereskan beberapa hal di dalam mobilnya. Sera hanya diam. “Oke, aku tahu. Kau bahkan tak memukulnya. Padahal dia sudah jadiin kamu selingkuhan. Kamu bodoh banget!” “Aku masih,,,” “Masih cinta? Ya, cinta bego!” Sera menarik nafas sebab sesak mulai menyerangnya. Ibeth langsung memberikan nya botol minum. “Sekarang, kamu harus blokir semua yang berhubungan dengan cowok itu.” “Eh, tapi kak.” “Kamu udah menghianati aku, Ra.” Mendengarnya Sera mengalah. Ibeth mengambil handphone Sera. Dia mencari nama My West. Nomor itu diblokir detik itu juga. Bikin Ibeth bernafas lega. Cowok itu pantas menerimanya. Dia harus sadar diri. Dia itu punya anak perempuan. Bagaimana jika anak perempuannya mengalami hal yang sama? Argh, betapa kejamnya pria zaman sekarang. Untung saja Ibeth dapat suami seperti Reza. Suami cupu yang bahkan tak punya teman dekat. Itu lebih baik daripada mereka yang memamerkan jiwa sosialnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN