.31. Makan Malam

1295 Kata
Tonight, ada senyum yang merekah di wajah Gemini. Menyaksikan langsung kedekatan kedua orang tuanya bikin dia lebih bersemangat. Jangankan anak kecil, orang dewasa sekalipun cenderung syok saat mendengar ada rumah tangga yang retak. Bak perkara rumit yang menyakitkan, hal itu lebih miris dibandingkan apapun. “Cantik banget, putri papa.” “Iya dong. Ini baju baru yang kemarin dibeliin mama.”ucapnya memamerkan baju berenda itu. Dengan gamblang Varda menyuruh Barat untuk pakai baju dengan d******i monokrom. Warna yang terlihat elegan dan berkelas. Barat tertawa dan memuji tampilan putrinya yang luar biasa itu. Senang melihat tak ada raut sedih di wajah Gemini.  Tak lama, wanita dengan dress panjang itu muncul. Untaian rambutnya mempercantik wajah itu. Wajah yang sering seliweran di media dengan judul “seorang owner brand kosmetik ternama”. Dengan mobil alphard keluaran terbaru, mereka bergegas ke kediaman Rainara yang ada di kawasan Jakarta Barat. Cukup lama mereka di jalan sebab ada kemacetan di beberapa titik.  Sambutan hangat diberikan Raina dan Ervan. Dua orang yang selalu tampil mesra di berbagai pertemuan. Tapi dalam kenyataan, mereka berbanding terbalik dengan semua itu.  “Welcome!!” Pelukan hangat dibubuhi cipika cipiki jadi kebiasaan. Mereka langsung bergegas ke meja makan sebagai tujuan utama. Terhidang beraneka ragam makanan. Ukuran meja makan yang besar itu seperti tak seberapa sebab seluruhnya hampir penuh dengan makanan.  “Makasih loh, kalian sudah datang.”ucap Raina seraya menunggu pelayan menaruh beberapa hal. “Oh ya, Ervan apa kabar?” “Baik, Var. Kamu sepertinya semakin sibuk ya?” “Yah, begitulah. Semua masih bisa dihandle.” “Tapi kamu keren sih. Kamu udah lebih hebat dibanding om sama tante. Bahkan dibanding Barat juga.” Perkataan itu mengacaukan suasana. Terutama Raina dan Varda. Mereka saling lirik dengan pikiran yang sama.  “Ehmm, bibi!”panggil Raina dengan suara agak keras. “Tolong suruh Tasha ke sini.” “Baik, nyonya.” Tak lama, gadis itu datang dengan wajah kesal. Dia seperti tidak suka berada disini. Dia duduk tanpa peduli siapa yang ada disana. Raina mendengus kesal tapi coba meredakan emosinya. Makan malam pun dimulai. Semuanya enak dan menggiurkan. Suasana juga jadi ramai karena celotehan Gemini yang kadang diluar akal sehat. Bahkan Tasha jadi ikut tertawa melihat anak itu. Mood Tasha yang buruk berubah drastis.  Terakhir, diberikan makanan penutup. Anggur yang baru saja diambil pembantu dari tempatnya. Anggur itu sangat berkualitas. Tasha membawa Gemini ke kamarnya. Mereka suka menghabiskan waktu berdua. Entah untuk main merias wajah atau cerita tentang banyak hal. “Jadi gimana, Bar? Harusnya kamu gabung aja ke perusahaannya Varda. Itu lebih menggiurkan daripada hidup sebagai kacung di perusahaan orang.”ujar Ervan dalam keadaan setengah mabuk. Anggur itu sudah menguasai pikirannya dengan perkataan-perkataan buruk. “Kau tidak tahu apa-apa, Van. Aku suka pekerjaanku.” “Tapi gak menghasilkan, Bar.” “Itu kan cuma pendapatmu.” “Jangan marah dong. Kau harus sadar, Varda jauh lebih hebat daripada kau? Kau gak malu?” “Cukup!”tegas Varda yang sudah kesal mendengar perkataan Ervan. Raina tak mau ikut campur. Bahkan jika Varda menghina Ervan ribuan kali lebih jahat, Raina tidak masalah. Raina selalu ada di sisi Varda.  “Kau bahkan tidak lebih baik dari aku. Kenapa malah menyinggung orang lain, hah?”ucap Varda emosional. “Barat jauh lebih berhasil daripada kau, Van. Dua bulan lalu dia direkrut jadi manager. Sedang kau? Terus menempel pada perusahaan warisan keluarga. Apa gak malu? Kau cuma segitu doang belagu. Gajimu tiap bulan bukan karena performa kerja, tapi karena kau anak dari pemilik perusahaan.”tegas Varda. Raina tersenyum kecil mendengarnya. Entahlah, dia merasa bangga dengan Varda. Ucapan Varda benar-benar mewakili perasaannya.  “Kamu mau menghina?” “Kamu yang duluan. Ngaca dulu baru ngomong.” Ervan melihat ke arah Raina. Raina tampak tak terusik. “Kamu senang lihat aku dihina? Aku ini suamimu Rain!!” “Buat apa marah sama fakta?” “Sialan!” “Aku lebih marah kalau kau bikin Tasha nangis semalaman.”tegasnya. “Acara makan malam bodoh!”teriaknya keras. Dia langsung pergi tanpa basa-basi. Barat cukup kaget melihat peristiwa ini. Sepengetahuannya, rumah tangga Raina tampak baik-baik saja. Raina berpindah posisi dan duduk di kursi depan Varda dan Barat. Semua orang menghela nafas kesal. Mabuk emang bikin orang gak bisa mengontrol diri. Tapi Ervan sungguh keterlaluan. “Sorry ya, dia emang udah gila. Makan malam ini jadi kacau gara-gara dia.” “It’s okay, Rain.” Dering telepon membuatnya mengalihkan pandangan. Panggilan dari seseorang yang diberi nama Bunga. Dia langsung mengangkat. “Hallo? Oh, iya. Semua baik-baik saja. Hmm, baik akan kucoba.” “Siapa?”tanya Varda sambil menggigit potongan cheese cake miliknya. “Teman.”jawab Raina singkat. Dia langsung mengalihkan pandangan pada Barat. “Bar, maafin Ervan ya?” “Tentu. Aku tidak apa-apa.” “Aku benci semua tentang dia.”curhat Raina. Dia meneguk anggur gelas ketiga. Menarik nafas lalu menghembuskannya. Katanya sih wanita racun dunia. Padahal pria jauh lebih beracun. Pria bukan cuma racun tapi benalu. Bikin seluruh nafas jadi nafas yang tersengal-sengal. Pria bisa bikin wanita mau mati saking gak kuatnya. “Kau tahu, Bar. Ervan sudah lama selingkuh.”ucap Raina dengan mata tertuju pada Barat. Bikin semua orang ikut merasa getir. Baik Barat maupun Varda, keduanya menyembunyikan rahasia di hati masing-masing. Barat yang memang selingkuh dan Varda yang tahu kalau Barat selingkuh.  “Apapun masalah kalian, itu masih lebih baik dibanding aku.”gumamnya. Tingkah Raina kali ini bikin Varda ikut gemetar. Takut jika mulutnya itu keceplosan.  “Ervan selalu ke hotel dengan wanita yang berbeda. Untuk menciduk pelakor pun aku butuh effort. Aku bisa menghabisi puluhan wanita. Tapi itu gak wajar kan? Aku depresi selama bertahun-tahun. Tapi waktu bikin aku sadar. Aku harus berjuang demi Tasha. Meski begitu, perjuanganku malah terasa sia-sia. Putriku itu terus dirundung kesedihan.” Raina menangis tersedu-sedu. Varda langsung beranjak untuk memeluknya. Mengusap punggungnya dengan lembut agar sekiranya dia dikuatkan.  “Aku selalu bermimpi, jika suamiku punya salah, setidaknya dia mau bertobat. Dia mau minta maaf. Tapi Ervan gak pernah melakukannya.” Tasha berlari dan mendekatnya. Memeluk wanita itu dengan erat. Ia pikir dirinya yang paling sakit. Ternyata mamanya merasakan hal yang lebih parah dibanding dia. Pemandangan ini bikin semua orang sedih. Terbawa suasana pada hal yang kosong dan hampa.  “Maafkan, Tasha ma.” “Enggak, mama yang minta maaf.” “Harusnya Tasha paham kenapa mama nutupin ini. Tasha malah ngambek dan marah sama  mama.” Ini bukan makan malam yang indah. Ini seperti gambaran masa depan untuk rumah tangga Barat dan Varda. Barat menghela nafas frustasi. Gadis kecilnya tertidur di pangkuannya.Tidur yang nyenyak sebab ia terlalu lama bermain.  “Semuanya bisa dipertahankan, dan kesalahan bisa dimaafkan.”kata yang didengar Barat dari mulut Raina saat hendak pulang. Seperti sebuah tanda atau memang kebetulan saja?  Barat berpikir keras. Seperti sebuah tamparan keras, kejadian hari ini amat membebaninya. Belum sanggup dia meninggalkan Sera. Perempuan itu terlalu berarti bagi hidupnya. Varda sendiri sibuk dengan handphonenya. Tapi pikirannya juga sama. Dia masih tidak terima dengan Barat. Benarkah pria itu cuma selingkuh dengan satu wanita? Ataukah sama seperti Ervan, dia juga penjahat kelamin? Argh, semua hal negatif melebur jadi satu. Raina saja butuh bertahun-tahun untuk beneran menerima keadaan. Keadaan bahwa ia harus tetap mempertahankan rumah tangganya. Dia selalu bersyukur punya mertua yang ada di sisinya. Mertuanya itu kerap jadi jalan untuk menghabisi selingkuhan Ervan. Satu kali pun, Raina tak pernah mengotori tangannya. Entah bagaimana, mertuanya selalu menghukum selingkuhan Ervan dengan hal yang tidak masuk akal. Yah, dia memang beruntung. Varda menutup matanya. Dia harus siap untuk kemungkinan terburuk. Tapi pesan Raina membuatnya overthinking. Kenapa temannya itu menyuruh untuk diam saja? Kenapa dia ingin Varda menutup mata? Walau untuk sementara, keputusan Raina terlalu labil. Padahal dia pernah bilang untuk menghabisi Barat dan selingkuhannya.  Haruskah ia mengikuti Raina?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN