Tumben.
Di senja ini, Varda sudah di rumah dengan gunting rumput di tangan kanan. Barat sampai mengedipkan mata berusaha sadar kalau ini nyata. Gemini melepaskan genggaman tangannya dan berlari menuju Varda. Wanita itu memeluknya erat sambil tersenyum.
“Mama lagi ngapain?”
“Lagi beresin rumput. Biar rapi.”
“Aku boleh ikut?”
“Boleh. Tapi ganti baju dulu ya?”
“Iya, ma.”balas anak itu bersemangat.
Varda melihat ke arah Barat, pria itu sudah masuk rumah. Dia bahkan tak menyapa Varda. Argh, bukannya itu sudah biasa ya? Perilaku Varda hari ini yang tidak biasa. Pulang saat hari belum gelap. Tumben. Ya, mungkin Barat juga kaget. Mungkin.
Tak lama, gadis kecilnya itu muncul dengan pakaian berwarna merah. Anak kecil suka mengikuti orang dewasa. Varda sering mendengarnya dari baby sitter yang mengurus Gemini. Di masa lalu, Varda tak bisa meluangkan waktunya untuk Gemini. Dia merintis bisnisnya dengan usaha yang luar biasa. Walau dengan modal dari orang tua, dia benar-benar berusaha keras.
“Kenapa rumputnya harus dipotong, ma?”
“Biar gak mengganggu. Ini namanya rumput liar.”
“Oh, rumput liar. Berarti ada yang engga liar dong?”
“Ada. Rumput yang sengaja ditanam itu gak liar.”
“Oh gitu, aku mau ikut memotong rumput liar ini.”
“Hati-hati ya, Gem.”ucap Varda memperingatkan. Tak lama, pembantu membawakan segelas s**u coklat panas dan teh sakura. Mereka duduk sambil melihat senja mulai berakhir.
“Aku senang mama di rumah. Mama harus sering-sering kayak gini ya?”
“Iya, sayang.”balas Varda sambil menggenggam tangannya erat. Gemi terlihat senang. Bisa dilihat dari wajahnya yang tampak merah dan mengukir senyuman lebar. “Tadi kemana aja sama papa? Kok pulangnya sore banget?”
“Mama gak tahu?”tanya Gemi dengan mata membulat. Varda mengangguk. “Beneran?”tanyanya lagi memastikan.
“Hari jumat itu hari makan apa saja yang Gemi mau. Papa akan beli apapun di satu hari itu.”
“Tapi kamu gak makan udang kan?”
“Enggalah ma. Aku kan alergi udang.”
Varda mengangguk paham. Ternyata mereka punya me time yang luput dari Varda. Mereka melakukan hal yang tak ia tahu. Sebab Varda selalu bekerja sampai malam. Ia bahkan pulang saat malam menuju ke tanggal berikutnya.
“Mama gak usah khawatir. Aku faham kalau mama kerja. Papa udah ngejelasin kok.”
“Ngejelasin apa?”
“Kalau mama sangat sayang sama aku. Tapi mama gak bisa ninggalin kerjaan. Dan mama kerja juga buat aku kan?”
Hati dan perasaan Varda seperti disentuh. Walau ia tak punya waktu buat Gemini, anak itu tak masalah. Bagaimana bisa dia tumbuh dengan pikiran dewasa begini?
“Nyonya, sudah waktunya makan malam.”ucap baby sitter yang kini berdiri disampingnya.
“Ayo, mbak. Aku udah lapar.”ajak Gemini sambil meraih tangan wanita itu. Mereka pergi begitu saja.
Seketika, Varda diliputi rasa bersalah. Jikapun Barat ketahuan selingkuh, mungkin Gemini akan memilih pria itu. Dia lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya. Kontribusi Sera padanya cuma sekedar materi. Entahlah, sudah terlalu banyak waktu yang ia sia-siakan.
Varda Cosmetics seakan membuatnya larut dalam popularitas. Dapat pengakuan dari semua orang. Orang tua yang bangga hingga rekan bisnis yang mengajak ikut kerjasama. Pengakuan itu membuatnya lupa. Lupa kalau ada keluarga yang ia tinggalkan selama ini. Sejak cekcok parah dengan Barat, ia semakin larut dengan diri sendiri.
Tangisannya pecah tapi berusaha ia hapus sebab sosok Barat muncul hendak bicara dengan satpam rumah. Ia langsung pergi untuk makan malam bersama Gemini.
***
Kafe itu berada di daerah Sudirman. Kafe yang sering ramai dengan karyawan muda atau anak SMA. Cafe dengan sajian makanan yang istimewa yang cocok untuk kantong kering.
Sera berjalan masuk dan mencari kursi kosong. Dia duduk, lalu datang seseorang. Seseorang yang pernah bertemu dengannya.
“Loh, Sera?”
“Hai, Kak..”Sapanya dengan seulas senyum.
“Waduh, Si Berlin lagi gak disini. Kamu datangnya gak tepat ih.”balas pria dengan kumis tipis itu. Dia adalah kakak laki-laki Berlin. Pria yang jadi pemilik kafe ini. Dia sudah lama mendirikan kafe ini. Jadi, ini termasuk tempat legend di kawasan Sudirman. Tapi siapa sangka, Berlin bisa mengejar ketertinggalan. Berlin yang gak mau kalah akhirnya membangun Nacita Fashion. Mereka memang lahir dengan jiwa bisnis yang tinggi.
Bisa dikatakan, Berlin sudah melewati garis besar di antara mereka. Berlin bahkan sudah lebih sukses dibanding pria ini.
“Aku kesini cuma mau makan, kak.”
“Emang iya? Kok tumben sih?”
“Emang gak boleh ya? Aku pindah nih,”
“Bercanda, Ra. Kamu mau apa?”
Tiba-tiba seseorang memanggilnya. Sebagai owner dari tempat ini, dia cukup banyak kerjaan. Gimana nggak, dia selalu ikut andil dalam setiap hal.
“Kakak pergi aja. Nanti aku panggil pelayan yang lain.”
“Okay, Ra. Enjoy ya.”
Pria itu pergi. Sera mencari menu yang enak untuk dimakan. Dia cukup kecewa karena Berlin tidak ada disini. Ingin sekali bicara dengan perempuan itu. Tentang masa lalu, sekarang dan nanti. Seperti janjinya pada Dipta, ia akan berbaikan dengan Berlin.
Setelah menghabiskan makanannya, ia mendapat pesan dari Dipta. Mereka bersiap untuk pergi ke Lavelow. Dipta menjemputnya.
“Kok kamu kesini sih?”tanya Dipta sambil mengecilkan volume musik.
“Hmm, tadi pisahnya sama Kak Ibeth disini. Kak Ibeth mau ke Depok soalnya.”
“Ohh,,,”
Lavelow, sebuah stand ice cream yang menjual aneka ice cream penuh warna. Rasanya termasuk biasa jika disandingkan dengan ice cream mahal semacam Haagen Dazs. Tapi ini bukan soal rasa. Ini soal kenangan yang tersimpan di tempat kecil itu.
“Akhirnya,,,”ucapnya senang. Dia memegang cupnya dengan sumringah.
“Ngidam banget kayaknya.”
“Iyaps.”balas Sera singkat. “Dip, masih ingat sama kasir itu?”
Dipta langsung tertawa. Dia ingat banget kejadian aneh waktu mereka mau beli topi lucu di tempat itu. Dipta sengaja masuk dan melihat-lihat. Sedang Sera dan Berlin sibuk mencoba beberapa benda yang menarik hati mereka. Sampai akhirnya Berlin games melihat seorang pria yang sibuk mengobrak-abrik barang itu. Dan dengan bodohnya, dia mengira itu seorang pencuri.
Waktu dia ngasih tahu Sera, Sera ngasih ide biar dikasih tahu ke kasirnya. Dan disitulah muncul komedi yang unpredictable. Ternyata pria itu salah satu pegawai di tempat itu. Bikin Berlin dan Sera menahan malu. Mereka langsung pergi setelah membayar satu buah penjepit rambut yang harganya murah.
“Najis! Bego sih, kalian.”
“Itu namanya kelewat suudzon, Dip.”ujar Sera sambil tertawa.
“Lain kali jangan begitu ya?”ledek Dipta. Mereka berjalan tak tentu arah. Hanya sekedar ingin menghabiskan ice creamnya. Saat ice cream itu sudah habis, Sera mengajaknya ke setiap tempat. Tak ada yang tersisa. Mulai dari makan di foodcourt, nonton film, hingga karaoke berdua. Dia benar-benar full energi.
“Capek!”
“Lagian, semua mau dicoba. Gimana gak capek?”
“Biar kayak kencan, Dip. Ini kan malam minggu.”
“Kencan itu ajak pacar. Kamu malah ngajak teman.”
“Biarin.”jawab Sera ketus. “Lagian aku tuh baik hati, Dip. Kamu kan udah lama gak pergi kencan. Joel aja bisa kok ganti-ganti cewek, kamu harusnya bisa.”
“What the hell. Kenapa bandingin sama Joel sih?”
“Harus dong. Kamu harus belajar banyak sama Joel. Biar gak jomblo mulu.”
“Sialan.”
Parkiran jadi tujuan terakhir. Dinginnya udara semakin menambah keheningan. Tak ada yang bicara karena tenggorokan sudah kering kerontang. Seperti biasa, malam minggu selalu menarik bagi anak muda.
Jalanan yang biasanya sepi kini ramai sekali. Bahkan sampai dini hari nanti, jalanan itu pasti masih dijadikan tempat nongkrong para anak muda. Sungguh indah hari yang mereka lewati. Mobil melewati mereka dan berakhir di depan rumah Sera.
“Dip, makasih banyak.”
“Anytime.”balas Dipta dengan seulas senyum.