.30. Enjoy Your Lunch

1182 Kata
Terdengar suara selotip yang ditarik terus menerus. Di lantai dua, sedang banyak sekali hal yang dilakukan. Mulai dari packing package hingga merancang tempat untuk pengambilan konten. Semakin kaya semakin berat beban dipundak. Itulah yang dialami Dipta sebagai seorang influencer. “Ready nih, makan dulu!!”teriak Kilau dari balkon. Dia menaruh sepiring kentang goreng, burger dan ayam goreng. Makanan yang dipesan via online sebab di rumah itu cuma ada mereka berdua. Para orang tua sibuk dengan kegiatan di luar sana. “Thanks, Kil.”ujar Dipta sambil duduk disampingnya. “Bang, apa gak mending nyewa tempat? Biar abang bisa bebas bikin konten.” “Abang udah mikirin itu. Tapi belum tahu mau direalisasikan kapan.” “Terus ya, abang juga udah bisa bikin brand sendiri. Jadi nanti penghasilannya meningkat. Bisa jadi orang kaya deh.” Dipta memukul kepala Kilau. Bikin perempuan itu mengusap kepalanya yang agak perih. “Kau kira mudah? Ngerjain ini aja udah kewalahan.” “Ish, abang tuh perlu nyari pegawai baru. Kak Sera udah jarang juga kan kesini?” “Dia lagi ada urusan, Kil. Nanti juga bisa rutin kesini.”balas Dipta dengan suara lirih. Impiannya untuk mendapatkan Sera semakin samar-samar. Cewek itu tak pernah menganggapnya sebagai lelaki. Percayalah, terlibat friendzone itu sangat menyakitkan. Bercabang-cabang problem yang jadi beban pikiran. Sampai rasa sesal ketika bahagia melihat sahabat sendiri menderita karena cinta. Bukankah itu jahat? “Tapi abang tetap butuh pegawai baru sih. Ini mah harus dikerjakan beberapa orang.” “Iya sih, Kil. Nanti abang cari pegawai baru deh. Biar gak nyusahin kamu juga.” “Gitu dong.”ucap Kilau sumringah. Dipta sering menjadikannya pegawai serabutan. Digaji sih, tapi bikin Kilau gak fokus belajar. “By the way, Kak Sera baik-baik aja kan, bang?” “Iya. Emang kenapa?” Saat pulang sekolah bersama dua temannya, Kilau tak sengaja melihat Sera. Sera sedang dipapah oleh temannya. Ya, untuk masuk mobil saja perempuan itu seperti tersiksa. Kilau mau nyamperin tapi keburu mobil itu pergi.  “Oh iya? Di mana?”tanya Dipta panik. “Di supermarket ujung jalan itu bang. Terus, muka Kak Sera pucat banget.” “Tunggu, biar abang telepon dia.”ucap Dipta mengambil handphonenya. Berjalan menuju ujung dari balkon yang memperlihatkan sekitar. Dia menunggu beberapa saat hingga ada suara di seberang sana. “Ra, kamu kenapa?” “Kenapa apanya?” “Kata Kilau, kamu dilihat di supermarket kemarin. Kamu sakit ya?” Tak terdengar suara. Hening. “Ra?” “Ah,, aku baru ingat. Kemarin sempat agak pusing. Tapi udah gak apa-apa kok. Aku sama Kak Ibeth lagi belanja kemarin.” “Oh gitu. Tapi beneran kan kamu gak apa-apa?” “Iya. Kamu lebay banget sih.” “Syukurlah.” “Jangan lupa ya. Kita besok ke Lavelow.” “Pasti gak lupa kok.” “Okay, Dip. Udah dulu ya.” Dipta akhirnya bisa bernafas lega. Cinta itu unik. Bahagia dan sedih bisa muncul karena cinta. Khawatir sering mendominasi. Apalagi hati mereka yang bertepuk sebelah tangan. Tetap saja, melihat orang yang dicintai dalam keadaan sakit jauh lebih menyedihkan daripada cinta ditolak. Tak apa ditolak, yang penting dia baik-baik saja. Setidaknya mata masih bisa melihat senyumnya. Setidaknya masih ada bahagia yang tercipta di antara mereka. *** Obat-obatan itu mengaburkan kejernihan pikiran Sera. Maunya marah-marah terus. Tapi setelah marah, dia langsung menyesal. Tak ingin menumbuhkan luka dihati mamanya. “Ini aku bawa sup ikan.”ucap Ibeth yang tiba dengan motor butut milik Reza. Reza harus bekerja di pagi hari ini. Tante Pi mengambilnya dan langsung menaruhnya di dalam wadah. Ibeth duduk disamping Sera yang terus melihat obat-obatan penuh warna itu. Indah sekali tampilannya, tapi tidak dengan rasanya. “Kenapa?” “Cuma melamun.” “Nah, silahkan dimakan.”ucap Tante Pi dengan senyuman merekah. “Thanks, mam.” “Thanks buat gue mana?” “Thanks Kak Ibeth yang berhati malaikat.”ledek Sera sambil tertawa. “Ini kan hari Jum’at. Kita nonton marathon yuk? Ada serial baru di Netflix.”ajak Ibeth sambil mencicipi emping yang terpampang di meja makan.  “Tapi jangan kelamaan ya, kamu harus istirahat.” “Iya, ma.” Ritual sarapan pagi adalah dengan berdoa. Mereka menikmati makanan Tante Pi dengan lahap. Apalagi Ibeth yang hectic banget tadi pagi. Dia bahkan lupa menyetrika seragam kerja Reza. Jadilah pagi itu seperti kapal pecah yang siap karam. Untungnya masih ada sedikit waktu walau dengan hati yang jedag-jedug.  Setelah makan, Sera makan obat. Obat yang awalnya seperti Bon Cabe Level 30. Tapi Sera mulai terbiasa. Obat ini berubah jadi air putih yang melegakan dahaga. Sekali tidak minum obat, ia akan tumbang dalam waktu singkat. Kamar itu dirancang sendiri oleh Sera. Setelah dia bekerja, dia bebas membeli apa saja untuk kamarnya. Mulai dari meja, lampu belajar, LED hingga lampu hias di atap kamar.  “Jadi, kapan kamu putus sama dia?”tanya Ibeth serius. Pertanyaan yang muncul saat series itu menampilkan adegan yang membosankan. “Secepatnya.” “Kamu serius dengan ucapan waktu itu?” Sera mengangguk. “Aku mau membalikkan semuanya. Lalu, mati bukan masalah lagi.” “Stop ngomongin mati. Emangnya kamu malaikat pencabut nyawa?” “Tapi benar kan kak?” “Argh, lagian kamu bodoh banget. Bisa-bisanya suka sama om-om.” “Heh, dia bukan om-om.” “Dia seumuran aku ya, Ra!!” “Berarti kamu tante-tante dong.” “Ya, mungkin saja.”balas Ibeth dengan wajah ketus. Tapi Sera malah tertawa mengatakan hal itu. Bikin Ibeth ikut tertawa.  Sera merasa lega. Walau takut, ia berhasil membujuk Raina. Ya, semua akan sesuai dengan rencana. Meski dia harus sakit sendirian, tidak masalah. Kalau disadari, jadi orang sakit itu sangat beruntung. Dia bisa bertaubat sebelum maut benar-benar menjemputnya. Well, semesta ngasih kesempatan baginya untuk masuk surga. Ini masuk dalam privilege. Harusnya, ada syukur yang besar dari hati pesakitan seperti Sera.  “Hello, mas.” “Lagi ngapain?” “Hmm, nonton Netflix sama Kak Ibeth. Mas lagi ngapain?” “Ini mau istirahat. Lagi jalan ke kantin buat makan siang.” “Oh, gitu..” “By the way, aku ada rencana buat fitting baju gitu. Teman SMA aku dulu mau nikah. Kamu ikut fitting ya? Nanti kita kondangan bareng.” “Teman SMA yang mana?” “Itu loh, Alfonso, anak BUMN itu.” “Oh, yang pernah jadi sebangkumu waktu kelas 12?” “Yups.” “Hmm, boleh deh, mas. Kapan emang?” “Nikahnya masih dua bulan lagi. Kita fitting minggu ketiga bulan depan. Mau gak?” “Hmm, boleh.”balas Sera sambil menuliskan semua itu dalam catatannya. Jangan sampai ada yang luput dari ingatannya.  “Udah ya, Ra. Aku sudah sampai di kantin nih.” “Iya, mas. Enjoy your lunch!” Ekspresi wajah Sera langsung berubah setelahnya. Ia langsung mengambil foto catatan itu. Segera mengirimkannya pada seseorang. “Cepetan sini, Ra. Udah di pause dari tadi!”Teriak Ibeth. Dia udah gak sabar mau nonton lanjutan series itu, tapi gak pengen juga kalau Sera gak ngikutin ceritanya. Sera berjalan cepat dan duduk disamping Ibeth. Kembali menonton acara hiburan itu dengan perasaan yang tidak terhibur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN