.29. Mau Sampai Kapan

1167 Kata
Ruang ber kubikel itu mulai sepi sebab orang-orang mulai pulang. Sudah pukul 6 sore. Beberapa masih tetap berkutat dengan pekerjaan yang sayang jika dilewatkan. Biar besok pagi lebih tenang. “Kenapa lihatnya seperti itu? Ada yang salah ya?”tanya Barat dengan terus mengetik di layar komputernya. Dia sadar kalau orang disampingnya itu memperhatikan sedari tadi. “Ahh, gak ada kok.” “Kalau ada yang mau dibicarakan, bilang aja.” Ray menarik nafas panjang. Dia mengubah posisi kursinya menghadap ke arah Barat. Pria itu masih tetap fokus pada layar itu. Dia selalu antusias kalau sedang bekerja. Tipikal pekerja yang loyal dan bertanggung jawab. “Kau baik-baik saja dengan Sera?” “Ya. Kok tiba-tiba nanya gitu?” “Aku cuma penasaran. Kau gak pernah berniat ngasih tahu dia soal kebenaran ini?” Barat berhenti sebentar lalu kembali fokus. Dia seperti memikirkan sesuatu. Bikin Ray overthinking. Jadi teman Barat seperti syok therapy baginya. Dia ingat pertama kali tahu soal Sera. Barat terlihat lebih hidup. Ya, dengan semua yang dialami Barat, dia pantas untuk bahagia. Walau dengan menyalahi aturan norma  yang berlaku dalam masyarakat.  “Entahlah, Ray.” “Kau akan membuatnya kecewa. Ya, kalau dia tahu.” “Gak. Dia gak akan tahu.” “Mau sampai kapan?” “Aku gak tahu. Aku gak bisa hidup tanpa dia.” “Kau punya Gemini, Bar.” “Aku tahu.” “Apa kau tetap bersamanya karena kasihan?” Kali ini Barat benar-benar berhenti mengetik. Dia diam sebentar lalu mengarahkan wajahnya pada Ray. “Tidak. Aku salah besar. Aku butuh dia.” “Ya, kau butuh dia untuk kebahagiaanmu sendiri. Kau egois.” “Kau tidak tahu apa-apa, Ray.” “Terserahlah. Aku pulang duluan.” Ditempat itu tinggal Barat seorang diri. Dia jadi gak berselera melanjutkan tugas yang menggantung itu. Perkataan Ray benar-benar masuk ke sanubarinya. Dia jadi mempertanyakan dirinya sendiri. Benarkah itu cuma rasa kasihan? Dia yang selalu butuh Sera. Dia ingin bersama perempuan itu. Atau ini cuma demi kebahagiaan diri sendiri? Jika benar begitu, Barat benar-benar sampah. “Apakah kau masih mencintai Varda?”pertanyaan Ray minggu lalu. Sampai sekarang, Barat belum menemukan jawaban. Dia memasuki area rumah dengan harapan bisa menyapa Gemini. Ekspektasi itu gak kejadian sebab Varda duduk di sofa dan melihatnya. Dia hendak ke lantai 2, tapi wanita itu keburu bicara. “Apa kita bisa bicara?” “Oh, tentu.” “Kau bisa mandi dulu. Aku mau bicara dengan Gemi dulu.” “Gemi?” “Dia sedang di rumah papa.” “Ah, baiklah.” Barat agak tidak paham. Ada apa dengan Varda? Sudah lama mereka gak bicara berdua. Barat membuka pintu kamarnya. Kamar yang selalu rapi sebab dibersihkan oleh pembantu. Namun, kamar ini seperti menyimpan kehampaan. Sudah empat tahun ia dan Varda pisah ranjang. Dan ya, semua baik-baik saja demi Gemini. Jika gak ada dia, sudah lama surat cerai dilayangkan. Terkadang, perlu perpisahan walau masih ada sepercik rasa cinta.  Dengan setelan kaos dan celana pendek, ia kembali ke ruang tamu. Duduk di sisi kanan karena sisi tengah diduduki oleh Varda.  “Jadi, apa yang mau dibicarakan?”tanya Barat dengan suara beratnya. “Ini undangan makan malam di rumah Raina. Karena ini sifatnya pribadi, aku harus bicarakan denganmu dulu.”ucap Varda sambil menaruh kertas undangan di atas meja. “Apa kau bisa ikut?”tanyanya lagi. Barat melihat undangan itu. Berpikir sejenak soal jadwal agar tidak bentrok dengan segala rencananya. Makan malam dengan Sera, karaoke dengan teman kantor dan makan-makan dengan anggotanya. Semua itu sangat penting baginya. Seakan Varda bukan sebuah prioritas. Dan kebetulan, hari itu tak ada yang penting. Kebetulan yang cukup aneh. Tapi mungkin ini tanda kalau dia harus ikut. “Hmm, sepertinya bisa. Tak ada acara penting di hari itu.” “Baguslah.”gumam Varda dengan senyuman tipis. “Sudah kan? Atau ada lagi yang mau kau katakan? Aku harus menyelesaikan tugas kantor yang belum beres.” “Argh, tidak ada.” “Oke.” Varda menatapnya menghilang dari pandangan mata. Punggung bidang itu sudah lama tak ia lihat. Bahkan di rumah ini, mereka jarang ketemu. Varda sibuk sekali dengan Varda Cosmetics. Dia sama seperti Barat, selalu mengutamakan pekerjaannya. Fakta bahwa Barat selingkuh membuat mata Varda terbuka. Dia mulai memperhatikan hal kecil yang selama ini luput dari pandangannya. Dan ya, pertemuan makan malam ini dirancang oleh Raina. Dia memaksa Varda untuk mengajak Barat. Tadi siang, wanita itu menemuinya di salah satu cafe mewah di daerah Tangerang. “Pokoknya harus berhasil ngajak dia.” “Buat apa?” “Var, sebagai wanita beranak satu, kita punya perasaan yang sama. Perceraian itu cuma bikin luka di hati anak.” “Kata siapa? Aku tahu kalau Tasha maksa kamu buat ceraikan Ervan.”ungkap Varda menghancurkan suara Raina yang menggebu-gebu. “Tetap aja, aku gak mau semua orang tahu masalah rumah tangga ini. Setidaknya, kami harus baik-baik saja di depan umum. Jadi, kau juga harus begitu?” “Apa gak sakit?” “Hah?” “Apa gak sakit berpura-pura terus?” “Kau gak harus berpura-pura selamanya. Kau harus selamatkan rumah tanggamu. Barat gak seperti Ervan. Dia cuma selingkuh pada satu wanita. Masih ada harapan untuk dia berubah.” Benarkah? “Cobalah untuk bertahan, Var. Demi Gemi. Dia masih sekecil itu. Dia belum bisa mengambil keputusan seperti Tasha.” Begitulah yang terjadi. Raina berencana melakukan sesuatu. Harusnya dia membenci Barat sebagaimana dia juga pernah diselingkuhi. Varda menatap layar televisi yang mati.  “Hallo ma, Gemi udah tidur?” “Udah. Kamu baik-baik saja kan?” “Ya, emang kenapa?” “Tumben kamu sukarela gini ngasih Gemi nginep? Biasanya mama yang rengek-rengek minta.” “Hahaha. Aku cuma pengen Gemi dekat sama mama.” “Makasih ya, Var.” “Iya ma. Udah dulu ya, aku mau istirahat.” Varda melangkah menuju ke kamarnya. Kamar yang tepat di sebelah kamar Barat. Semua penghuni rumah ini sudah tahu sekacau apa majikannya. Jika ditelusuri, semua terjadi sejak empat tahun lalu. Saat orang tua ikut campur urusan rumah tangga anak, semua akan berubah jadi malapetaka. Status Barat yang seorang karyawan biasa seperti aib bagi keluarga Aningrat. Mereka seakan memaksa Barat untuk ikut perusahaan Aningrat. Pria itu tidak terima diperlakukan demikian. Dia berpendirian teguh. Pendirian itulah yang membuat malapetaka ini. Siapa yang harus disalahkan? Varda yang sejak dulu berada di bawah ketiak orang tua tak sanggup menyalahkan orang tuanya. Dia tak berkutik dan cuma diam saja. Diam itu membuat Barat membencinya. Ya, wanita yang ia cintai itu lebih mengikuti kata orang tuanya dibanding suaminya sendiri. Barat mengirim pesan untuk Sera. Seperti kebiasaan, ucapan selamat malam seperti magic tersendiri. Dapat menghangatkan malam yang dingin ini. Hendak terlelap, Barat ingat dengan ucapan Ray. “Mau sampai kapan?” Jika disuruh memilih, Barat belum punya keputusan. Dia sangat bahagia di samping Sera. Tak pernah sedikitpun ada rasa canggung. Tak pernah ada rasa enggan dan rendah diri. Sera memberinya kesempatan untuk menjadi diri sendiri. Disaat rumah ini memaksanya untuk jadi sempurna. Sempurna seperti yang mereka inginkan. Tapi sadar gak, kesempurnaan itu cuma khayalan semata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN