Bekerja dalam keadaan sakit seperti mengantar nyawa. Manusia cuma punya satu nyawa tapi kerap mempermainkannya sesuka hati. Manusia itu emang gak tahu diri dan gak punya rasa takut.
“Jangan marah ya, tapi Berlin sudah berkali-kali mau ketemu kamu. Kamu masih marah sama dia?”tanya Dipta dengan keberanian yang dikumpulkan dengan sekuat tenaga. Takut jika Sera jadi marah padanya juga.
“Aku bicara nanti ya sama dia.”balas Sera dengan seulas senyum di wajahnya.
“Kamu serius?”
“Iya. Aku mau ngomong banyak sama dia. Tapi bukan sekarang.”
Dipta mendorong badannya sambil tertawa. “Gitu dong, Ra. Kalau ada yang mengganjal dikasih tahu biar gak salah paham.”
“Gak ada salah paham kok, Dip. Cuman, aku perlu bicara aja.”
“Yah, apapun itu. Lebih baik kalian bicara berdua.”
“Dia baik-baik aja kan?”
“Ya, sama seperti sebelumnya.”
“Bisnisnya?”
“Selalu luar biasa.”
“Kalian harus sering sharing. Siapa tahu nanti bisa kerjasama.”
“Kamu juga dong, Ra. Kita bisa kembali seperti dulu.”
Dipta terus fokus menyetir. Mereka baru saja memasuki kawasan macet di Kuningan, Jakarta Selatan. Sera jadi kepikiran. Dia melirik Dipta yang sibuk memperhatikan jalan. Sahabatnya itu sering jadi bahan perbincangan anak muda. Dipta masuk dalam kategori selebgram tertampan di Indonesia. Auranya selalu berhasil membuat khalayak ramai kesemsem. Pesona pria tampan gak pernah salah.
“Dip, malam minggu besok available gak?”tanya Sera serius. Bikin Dipta melirik serius. Dia salah tingkah dibalik ekspektasinya yang tinggi. Ini pertama kali Sera ngajak jalan berdua.
“Hmm, kayaknya gak ada kegiatan sih. As usual, tiduran di rumah sambil ngegame.”balas Dipta sambil senyum sumringah.
“Ayo makan es krim di Lavelow.”ajaknya dengan ceria. Lavelow tempat bersejarah bagi mereka. Bukan cuma mereka, tapi juga Berlin. Tempat itu selalu dikunjungi kalau ke mall di daerah Jakarta Pusat. Mall yang ramai seperti pasar, tapi punya vibes tersendiri. Waktu itu, mereka belum punya uang yang melimpah. Jadi kalau ke mall cuma mau lihat-lihat doang. Dan jajan ice cream di Lavelow tidak pernah absen. Ice Cream yang murah meriah tapi rasanya luar biasa. Tempat yang seperti nostalgia bagi tiga sahabat itu.
“Hmm, aku mau kita pergi berdua aja. Soalnya aku kan belum baikan sama Berlin.”lanjut Sera. Perkataan yang bikin Dipta sadar diri. Tak ada tanda-tanda kalau ini akan jadi kencan. Ini cuma nostalgia masa lalu yang tak lebih dari hubungan persahabatan.
“Ok. Boleh sih,”
“Yeay, akhirnya ke Lavelow lagi.”gumam Sera excited.
Tiba di parkiran, mereka segera bersiap ke lantai 12. Acara pernikahan salah satu kolega yang pernah bekerja sama dengan Dipta. Ikut acara seperti ini membawanya pada relasi yang lebih luas. Berkenalan dengan orang baru yang mungkin bisa menunjukkan jalan untuknya suatu hari nanti.
Semakin dewasa, memperluas relasi itu semakin penting. Istilahnya punya jalan pintas yang memudahkan segala sesuatu.
“Congrats ya, kalian!”ucap Dipta sambil mengulurkan tangan kepada kedua mempelai.
“Dipta kan? Mas, kok kamu gak ngasih tahu sih?”
“Biar surprise, sayang.”
“Boleh foto bareng kan?”
“Of course!”
CEKREK!! Sebuah foto tercipta. Foto yang mengukir senyuman di wajah pengantin perempuan itu. Dipta sudah terbiasa dengan cara orang memandang dirinya. Bukannya kepedean, tapi diminta foto bareng udah jadi hal biasa baginya. Padahal dulu dia canggung sekali mendapat perhatian seperti itu.
“Mending lo ketemu sama yang lain. Gue tunggu disini aja.”
“Lo gak mau ikut?”
“Gak, Dip. Gue perlu duduk dan menikmati makanan ini.”
Dipta mengangguk. Dia meninggalkan Sera duduk disana. Sera menarik nafas dan menghembuskannya. Perihnya masih terasa, bekas operasi seminggu yang lalu. Entah berapa kali lagi dia harus dioperasi. Sepertinya, mati lebih menyenangkan daripada perawatan itu.
Mata Sera fokus pada sepotong cake yang baru diantar pelayan. Tentu saja Dipta yang menitipkannya. Dia mengambil sendok dan hendak menikmatinya. Tapi seseorang langsung duduk di kursi kosong yang tepat berada di hadapannya. Wanita yang terlihat samar dalam ingatannya. Yang pasti, mereka pernah bertemu.
“Maaf, ada apa ya?”
“Kamu lupa sama saya?”ucap wanita itu bengis.
“Hah?”
“Kita pernah bertemu. Ya, emang gak sengaja sih. Waktu saya bersama Varda di Balai Sarbini.”
Penjelasan itu membawa Sera pada memori di hari itu. Argh, dia sudah ingat. Wanita itu, dan putrinya yang marah.
“Ah, saya ingat.”ucap Sera dengan penuh hormat.
“Gak usah sok suci. Saya tahu kalau kamu selingkuh sama Barat!”tegas Raina dengan tatapan serius.
“Jangan banyak alasan sebab saya lihat sendiri dengan mata kepala sendiri. Kau benar-benar gak punya hati. Kau lahir dengan kemampuan busuk itu? Tega melakukan hal itu padahal Varda sudah punya anak. Kau bahkan kerjasama dengannya. Kau gak punya hati ya?”ucap Raina seperti jatuhnya batu besar menimpa kepala. Bikin kaget dan sakit. Sera menarik nafas dengan helaan frustasi.
“Kita perlu bicara, mbak.”
“Kita bicara disini saja.”
“Please!”pinta Sera dengan mata berkaca-kaca.
Tiba-tiba Dipta datang. Tangan Sera kian gemetar. Raina akhirnya tahu, Dipta tidak tahu apa-apa. Ya, dilihat dari reaksi Sera yang begitu ketakutan.
“Hai, Dipta.”
“Mbak Raina kan ya?”
“Iya. Mamanya Tasha.”
“Ohh, I see.”
“Kamu masih banyak acara kan? Saya pinjam Seranya bisa kan?”
“Hah?”
“Saya mau bicara sesuatu tentang bisnis. Benar kan, Ra?”ujar Raina dengan tatapan tajam dibalik senyumnya yang merekah. Sera mengangguk setuju. Dia berusaha menutupi matanya yang hampir meneteskan air mata. Namun tidak jadi, keburu diusap dengan tangan kirinya.
“Ya sudah sih, kalau emang mau gitu.”
“Okey, ayo Ra.”
Mereka berjalan meninggalkan aula besar itu. Ada satu ruangan khusus untuk tamu VIP. Tapi sebelumnya, Sera singgah di toilet. Dia mencuci mukanya dengan air yang banyak. Tak ingin terlihat rapuh. Dia harus berani untuk menghadapi hal ini. Berhenti kehilangan arah. Dia harus memutuskan satu hal yang akan jadi arah untuk tujuannya.
“All is well!!”gumamnya teguh.
Resiko jadi selingkuhan sudah pasti ada. Dan ini adalah salah satunya. Ini bukan hal yang membuat syok. Ini sudah masuk dalam kategori prediksi. Pasti ada saat dimana hal yang ditutupi itu terbongkar. Mau sekarang atau seribu tahun lagi, kebenaran akan terungkap.
Dia membuka pintu dan mendapati Raina duduk dengan nafas kesal. Dia menatap tajam Sera dengan segala hal yang belum terucap. Pasti banyak yang belum diungkapkan wanita itu. Dia sedang menahannya dengan mengharapkan penjelasan.
“Jadi, apa yang mau katakan? Kalau aku jadi Varda, sudah kujambak rambutmu, kepukul sekuat tenaga, bahkan ku sebarkan ke seluruh dunia. Biar mereka tahu siapa sebenarnya Serani Floella. Influencer yang katanya positive vibes tapi aslinya benar-benar sampah.”
Kata-kata itu sangat jahat. Bahkan menambah emosional di hati Sera. Tapi dia ingat, ini semua kesalahannya. Diracun sekalipun, dia layak mendapatkannya.
“Sebelumnya, aku mau minta maaf. Untuk semuanya.”
“Maaf? Kau kira mudah dengan maaf? Argh, tapi setidaknya kau masih punya hati. Tak seperti Ervan dan wanitanya.”gumam Raina.
“Aku tahu tidak mudah. Tapi aku mau memberitahu semuanya. Aku tak pernah sengaja jadi selingkuhannya Mas Barat.”
“Pembohong!”
“Aku baru tahu tiga bulan yang lalu.”
“What? Tapi kau masih berhubungan dengannya.”
“Ya, aku,,,, aku butuh waktu untuk melupakannya.”
“Kau gila? Kau masih bisa berkata seperti itu?”
“Tadinya, tadinya aku berpikir seperti itu. Tapi, tapi,,, aku perlu melakukan sesuatu.”
“Apalagi sih? Sial!!”ucap Raina sambil berdiri. Dia menatap keluar jendela. Rasa kesalnya begitu ditahan. Jika tidak, Sera sudah ditampar dari tadi. Wajah perempuan itu sangat kasihan. Terlepas dari perilakunya yang seperti perempuan jalang, dia terlihat pucat. Bibirnya, wajahnya hingga sorot matanya. Dia gak sedang berakting kan ya?
“Sebelumnya, apa Mbak Varda tahu soal saya?”
“Hmm, sepertinya belum. Dia punya hati yang rapuh. Dia menyewa seseorang untuk mengikutimu. Tapi dia bahkan tak berani melihat wajahmu.”ungkap Raina dengan nada suara yang masih kesal. “Kau tahu? Dia sangat mencintai Barat. Kehidupan mereka berawal dari cinta. Tak seperti aku yang terpaksa menikah. Aku saja sempat drop waktu tahu Ervan selingkuh. Tapi aku tidak ada apa-apanya dibanding dia. Aku tak pernah mencintai suamiku. Aku cuma kasihan sama Tasha.”
Ada getir di balik suara itu. Cerita itu sudah menyurutkan semangat Raina. Kembali ingat pada masa lalu yang suram. Ketika dia masih rapuh dan tidak tahan dengan kelakuan Ervan.
Kenapa ada manusia yang secara gamblang bermain api? Harga dirinya saja sudah tercoreng, tapi dia tetap percaya diri menjalani hidup. Antara tidak punya malu atau sudah terbiasa dengan kekacauan itu.
“Baguslah. Kalau begitu, beri aku kesempatan.”
“Kesempatan apa?”