Kebiasaan itu sulit dihilangkan. Menggigit sedotan dari setiap minuman yang ia beli. Itulah kebiasaan buruk Sinka yang terus jadi bahan sindiran Berlin. Sinka merenung untuk kesekian kalinya. Perkataan Sera masih terngiang-ngiang dalam kepalanya.
“Pertemukan aku dengan Ray.”
Katanya sih gak ada alasan khusus, tapi untuk apa? Apa dia mau buat perhitungan? Dengan segala macam skenario yang sudah kejadian, Sera berhak marah. Tapi kenapa dia gak marah sama Barat? Cowok itu jelas sekali sudah menghancurkan hidupnya.
Sera yang akhir-akhir ini mulai terkenal bisa jadi bahan pergunjingan. Sinka tahu banget drama selebgram yang kerap diterpa isu tidak enak. Kalau mental tidak sekuat baja, bisa drop. Dan ia tahu kalau Sera gak sekuat itu. Menghadapi Berlin saja dia sering makan hati. Gimana menghadapi orang yang sebanyak Indonesia Raya?
“Gundah banget deh. Ada apa sih?”tanya Berlin yang baru saja tiba. Dia menaruh IPad di atas meja untuk menganalisa recap penjualan bulan ini. Sejeli apapun manusia, pasti ada saat dimana matanya luput dari kesalahan. Dan solusi untuk hal itu adalah melakukan cross check berkali-kali.
“No problem kok.”
“Baguslah. Aku bisa fokus sama kerjaan.”balas Berlin sambil tertawa. Kalau Sinka banyak cerita, fokusnya jadi terbagi. Tapi kalau nongkrong sendirian rasanya gak enak. Cenderung cepat bosan.
“By the way, kamu udah ketemu Sera?”
Pandangan Berlin berpindah ke arah Sinka. Bicara tentang Sera bikin dia gak tenang. Tau kan gimana rasanya renggang dengan sahabat yang bersamamu cukup lama? Gak mudah.
“Argh, belum Sin.”
“Kenapa? Bukannya dia sudah balik dari Singapore? Hmm, kata Dipta sih. Kemarin aku gak sengaja ketemu di Supermarket.”ucap Sinka mencari alasan. Dan memang benar dia ketemu Dipta. Tapi gak ada pembicaraan serius karena cowok itu lagi sama keluarganya.
“Aku kesal sama dia. Bagaimanapun juga, dia harusnya maafin aku.”
“Kamu egois banget.”
“Bukan egois. Tapi dia menghindari aku dari dulu sampai sekarang.”
“Itu karena kita memang salah.”
“Aku tahu. Aku paham, Sin.”tegas Berlin dengan marah. Dia kesal karena sifat Sera yang gak bisa ditelusuri dengan akal sehat. “Tapi aku sudah minta maaf. Walaupun via pesan w******p karena kami gak pernah ketemu.”
“Temui dia sekarang.”
“Gak bisa. Terakhir aku ke rumahnya, Tante Pi bilang dia lagi gak di rumah.”
“Aneh banget.”
“You know, aku udah ngumpulin keberanian untuk ketemu dia. Tapi dia sengaja menghindar. Biarin aja. Kalau emang maunya musuhan, siapa takut! Jelas sekali dia gak menghargai aku.”
“Tapi Ber,,,,,”
“Udah lah. Stop bicara tentang dia!”
Sifat egois Berlin kayaknya gak bakal hilang. Dan dia sudah menjatuhkan harga dirinya saat datang ke rumah Sera. Entahlah, pikiran cewek itu selalu demikian. Saat orang lain mudah mengalah, dia malah sebaliknya. Mengalah seperti bukti kekalahan baginya.
Sinka sendiri was-was akan sikap Sera pada Ray. Apakah tidak masalah memberikan kontak Ray padanya? Dan kata Ray mereka akan ketemu hari ini. Apa yang akan terjadi?
***
Ada saja hal yang tak bisa kau hindari. Bagi Ray, ini adalah salah satunya. Bertemu dengan Sera untuk kesekian kalinya. Dia tak menyangka kalau perempuan itu sudah tahu tentang segalanya. Tentang dirinya yang jadi selingkuhan. Bisa saja Ray menghindar dan gak ikut campur. Tapi dia didesak oleh Sinka.
Dunia yang sempit ini bikin dia terhimpit oleh dua orang. Sinka yang adalah sahabatnya dan Barat, pria yang ia hormati.
Segelas kopi panas menemaninya di kafe mewah itu. Kafe yang tidak pernah ia kunjungi. Tempat pertemuan ini dirancang oleh Sera sebagai pihak yang ingin bertemu. Ini terlalu mewah untuk jadi tempat orang seperti dia. Bukankah seharusnya Sera sedang berputus asa? Dia tak pernah tahu bahwa pacarnya sudah punya keluarga?
“Lo jawab semua pertanyaannya. Awas aja kalau lo macam-macam. Gue ada di pihak Sera!”tegas Sinka dalam pesan terakhir yang dikirim via w******p. Bikin Ray gak bisa berkutik. Tentu saja dia sangat menghargai perasaan Sinka.
Pintu terbuka dan muncullah perempuan itu. Perempuan yang tetap cantik meskipun dengan riasan sederhana. Senyum tipis dan anggukan kepalanya jadi sapaan gesture yang jelas dihargai oleh Ray.
“Maaf ya mas, saya datang terlambat.”
“Ah, tidak masalah.”
“Ada sedikit masalah di rumah. Bikin saya hampir gak bisa datang. Tapi syukurlah, kita sudah disini sekarang.”
Ray memberinya waktu untuk beristirahat sejenak. Perempuan itu cuma memesan air putih panas. Agak aneh, tapi bukan hal yang perlu dipertanyakan.
“Saya rasa kita berdua sudah tahu masalah apa yang sedang saya hadapi.”
“Maaf. Sebelumnya saya mau minta maaf karena..”
“Ah, tidak perlu. Saya bisa mengerti kenapa mas begitu.”sanggah Sera menghentikan niat Ray untuk menjelaskan. “Saya cuma perlu memastikan beberapa hal.”
Mobil itu terparkir cukup lama di depan Kafe J. Ibeth tidur dengan tenang sembari menunggu Sera. Setiap hari, cewek itu selalu bikin kegaduhan yang gak bisa diselesaikan dengan mudah.
Tante Pi, Reza hingga keluarga besar lainnya sibuk marah-marah. Bikin kepala pusing saja. Hujan turun membangunkannya dari ketenangan itu. Ia memijit-mijit kepalanya yang akhir-akhir ini bekerja ekstra keras.
“Dia ketemu siapa lagi sih?”keluh-nya saat melihat Sera di pintu keluar dengan seorang pria. Kenapa dia menemui pria yang berbeda akhir-akhir ini? Jelas sekali cowok itu berbeda dengan pria yang kemarin. Mau minta penjelasan, Ibeth tidak tega. Atau bisa dikatakan, tidak berani.
Tak lama, ia membuka pintu dengan kepala agak basah.
“Sorry, tadinya mau bawain payung. Tapi kamu keburu datang.”
“Gak apa-apa, kak. Kita disini sebentar ya?”
“Ah, okey.”balas Ibeth singkat.
Hujan semakin deras dan suaranya memenuhi kedua gendang telinga. Banyak orang yang berniat pulang tapi kembali karena tak punya payung untuk sampai di mobil masing-masing. Satpam sibuk mengantar tamu VIP agar tak basah.
Keheningan di dalam mobil itu membuat Ibeth gundah. Dia lebih suka suara berisik daripada hening yang seperti ini. Dengan cepat dia menyalakan radio. Terdengar lagu Untukku dari Chrisye. Lagu lama yang selalu asik untuk didengar.
“Kak, aku mau cerita.”ujar Sera dengan pandangan tertuju ke depan. Memandangi jatuhnya hujan ke kaca depan mobil. Suaranya begitu jelas di indera pendengar. Ibeth terhenyak dengan mata terbelalak. Dia coba untuk tenang sebab Sera juga bertingkah seperti itu.
“Tiga tahun lalu, kakak tahu aku jatuh hati untuk pertama kalinya kan? Bahkan aku pamer sama kakak dan Kak Reza.”
“Aku ingat, Ra. Kamu norak banget sampai ganti status di semua Sosmed. Berasa sudah mau nikah aja.”ledek Ibeth sambil tertawa.
“Aku ngarepnya emang gitu kak. Bahkan sampai sekarang.”ucap Sera dengan mata nanar dan berkaca-kaca. “Sampai aku tahu kalau aku gak boleh kayak gitu.”
“Ra, ada apa?”Tanya Ibeth serius. Ini tak bisa dibenarkan. Sera sedang tidak baik-baik saja.
“Aku harus gimana kak?”ucapnya dengan isak tangis yang semakin kuat. Ibeth memeluknya erat. Sampai akhirnya hujan deras berubah jadi rintik-rintik. Sera talks about everything. Bikin Ibeth syok dan mengernyitkan dahi. Helaan nafas Sera begitu perih. Ada kecewa, harapan dan putus asa di wajah itu.
“Ini gila, Ra. Kamu udah gak waras?”
“Aku kayak menuntut sama Tuhan. Kalau memang bentar lagi aku mati, kenapa gak bersenang-senang dulu? Toh, aku gak mungkin bisa ngedapetin dia. Iya kan?”
“Tapi ini konyol, Ra. Kalau istrinya sampai tahu gimana? Kamu udah gila ya? Di jaman seperti ini, sesuatu yang buruk bisa viral dan memperburuk keadaan.”
“Aku sakit, kak. Sakit! Aku gak akan dikasih kesempatan melihat semua hujatan itu.”
“Gila kamu. Egois!”
“Egois?”
“Jelas. Mati sekarang pun, kamu gak bakal lihat gimana Tante Pi. Dia akan menderita. Dia yang akan menerima semuanya. Kamu mau?”
Ego. Bikin Sera lupa dengan orang-orang di sekitarnya. Dia menundukkan kepala dan menghela nafas. Suara lirihnya menunjukkan frustasi yang semakin menjadi. Ia kira mati akan menyelesaikan semuanya. Ia tak perlu dicap sebagai pelakor. Ia tak perlu dihakimi dengan fakta yang dilakukan selama ini. Ketidaksengajaan yang tadinya ia syukuri berubah jadi tragedi.
“Aku gak mau kak. Aku mau kalian baik-baik saja jika aku pergi.”ucap Sera dengan tangisan yang lebih keras daripada suara rintik hujan. Ibeth mendekapnya dalam pelukan. Menepuk pundaknya lembut. Berat sekali yang dihadapi. Ibeth jadi saksi betapa cintanya Sera pada Barat.
“Jangan menyalahkan diri sendiri. Kita bisa memperbaiki ini semua.”
“Aku keburu mati.”
“Kau tidak akan mati. Kau tidak boleh mati.”
“Aku akan berada di sisimu, Ra. Semua kesalahan itu tidak pernah sengaja.”
“Tapi,,,,”
“Pertama. Kau harus putus dari dia.”