.26. Aku Butuh Bantuanmu

2163 Kata
Tante Pi marah dibalik wajahnya yang memerah. Keegoisan Sera membuatnya murka. Tapi, apa yang diharapkan dari pikiran logika seorang pesakitan? Sera itu kian bebal dan keras kepala. Memberinya saran seperti omong kosong yang masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan. Begitu capek memberinya nasehat dan wejangan. “Terserahlah. Mama capek bicara sama kamu.”Tante Pi keluar dari ruangan itu. Kepergian yang harusnya sebelum jam 10 pagi udah ngaret sampai jam 12 siang. Semua karena perdebatan yang ditimbulkan oleh Sera.  “Terus kamu mau gimana, Ra? Dokter kan bilang harus istirahat. Ini bukan operasi pertama atau terakhir. Kamu butuh kekuatan biar bisa operasi lagi.”ucap Reza dengan penuh kelembutan. Dia ingin mendinginkan kepala yang panas. Meski semua orang di tempat itu terlihat emosional, harus ada yang mencairkannya.  “Aku capek, mas. Mas gak bakal ngerti karena mas gak pernah operasi sebanyak ini.”balas Sera marah. Dia tetap keras menanggapi suara Reza yang sudah diatur dengan penuh kelembutan. “Sudahlah. Biar aku yang bicara.”tegas Ibeth dengan menghela nafas. Reza keluar dari ruangan itu menyusul Tante Pi yang hampir mendekati stress. Ibeth duduk di samping Sera. Barang-barang itu sudah dipacking dan siap dibawa. Semua sudah tertata rapi. Tinggal bagaimana melunakkan hati Sera yang sudah sekeras batu.  “Kamu mau apa? Biar kakak yang bantu.” Sera hanya diam. Tidak sanggup ia percaya pada siapapun. Percaya pada diri sendiri saja sudah melelahkan. “Kakak serius. Kita pulang sekarang dan nanti kakak siap bantu apapun yang kamu mau.” Ibeth selalu berhasil bikin mood Sera kembali. Dia sibuk dengan handphonenya saat mobil melaju dengan kecepatan normal. Banyak sekali notifikasi masuk. Terutama dari Barat dan Berlin. “Aku bisa kok ma. Aku mau duduk dulu di sana.” “Ya sudah, hati-hati ya. Nanti mama ambilkan minum.” “Iya ma. Mama tenang aja.” Sera berjalan dengan bagian tubuhnya yang mulai sakit. Ini efek dari operasi itu. Dia harus kuat menahannya. Masih bersyukur dia bisa hidup. Jika tidak, tak akan sempat memperbaiki semua kesalahannya. “Hallo, mas.” “Ra, kamu kemana aja? Kok pesanku dari kemarin gak dibalas? Nomor kamu juga gak aktif.” “Aku kan lagi liburan, Mas. Terus ini baru nyampe rumah.” “Tapi setidaknya kamu balas dong, Ra. Lagian jarak Indonesia Singapura gak terlalu jauh. Tapi kamu gak balas w******p berjam-jam.” “Maaf, ya. Handphone aku kadang di pegang mama. Jadinya lupa balas. Please, jangan marah.” “Aku gak bakal marah kalau hari ini kita ketemu.” “Argh, tapi aku capek banget..” “Kamu bikin alasan lagi.” “Ya udah. Nanti kita ketemu. Tapi aku yang tentuin tempatnya ya?” “Iya.” “Aku kangen banget sama mas.” “Aku juga, Ra. Kamu sering banget ngilang tanpa ngabarin.” “Lagi dan lagi aku minta maaf.”balas Sera dengan penekanan. “Mulai sekarang, aku pasti akan ngabarin kamu.” “Ya sudah. Aku harus ngerjain sesuatu dulu. Nanti kita bicara lagi ya. Bye, Ra. Love you.” “Bye, mas.” Pura-pura itu bikin capek. Setelah memutus panggilan, Sera kembali bernafas lega. Berkali-kali ia menyembunyikan diri dan berharap semuanya tersembunyi dengan baik. Tapi pasti ada saat dimana semua itu akan terbongkar.  Dia kembali melihat pesan w******p yang menggunung. Rupanya Berlin sudah menyadari sesuatu. Entah apa dia mengirim pesan sebanyak ini. Apakah untuk mengakui sesuatu atau untuk menghakimi? Tak ada niat di hati Sera untuk membalas pesan itu.  “Ra, kamar nya udah beres. Mau pergi jam berapa?”tanya Ibeth sambil mengambil tas terakhir yang ada di bagasi mobil. Seperti kebiasaan, rumah sakit sudah seperti taman hiburan bagi keluarga besar itu. Sejak Sera sakit, bolak balik ke rumah sakit sudah tak bisa dihitung dengan jari tangan. Beberapa barang-barang pribadi dan obat-obatan jadi benda yang harus dibawa setiap saat. “30 menit lagi.” “Oke. Aku mandi dulu deh. Kamu siap-siap ya?” Sera mengangguk paham. Mereka akan pergi memenuhi janji dengan Dipta. Sera tetap saja ingin terlihat baik-baik saja di depan cowok itu. Tak mudah baginya lepas begitu saja dari tanggung jawab. Ya, walau dia sudah minta izin lepas kontrak dari Varda Cosmetics. Anggaplah ini, balas budi. Baik. Bukan balas budi. Anggaplah ini pengorbanan. Pengorbanan untuk menebus kesalahan Sera. Memang, nilainya sangatlah sedikit. Kesalahan itu tak bisa ditebus dengan hal yang beginian.  “Ra, kamu kemana aja sih?”ucap Dipta meminta penjelasan. “Kan ke Singapura, Dip.” “Kenapa handphonenya gak aktif?” “Lowbat.” “Aku juga telepon Tante Pi. Tapi gak ada balasan. Bikin khawatir aja sih.” “All is well, Dip. Nanti jadinya ketemu dimana?” “Kamu beneran bisa? Kalau gak bisa, biar aku aja.” “Bisa. Bisa banget.” “Aku bakal kirim alamatnya. Tapi kamu ke rumahku dulu ya ambil dokumen. Gak apa-apa kan?” “Iya. Aku kesana tiga puluh menit lagi ya.” “Iya, Ra. By the way, kamu bawa oleh-oleh kan buat aku?” “Aduh, sorry banget nih. Gak sempat.” “Pembohong.” “Lain kali aku bawain deh. Lagian kamu bakal ke Inggris tahun depan.” “Mulai deh. Jangan bicarakan sesuatu yang belum terjadi. Alasan aja.” “Hahaha. Udah ya Dip, Kak Ibeth udah ngomel-ngomel. Bye.” “Bye, Ra.” Dia melangkah perlahan dengan tubuh ringkih nya. Emang sih, saran mama dan Reza sudah sangat tepat. Pergi ketika dia habis operasi akan sangat berbahaya. Tapi mau bagaimana lagi. Dia tak mungkin melepaskan tanggung jawab ini.  Ibeth menyetir dengan kegundahan yang amat sangat. Deretan notifikasi dari orang rumah bikin konsentrasinya buyar. Mereka semua khawatir tapi gak bisa berbuat apa-apa. Sera bahkan menangis histeris tadi pagi. Tangisannya berhasil membuat semua orang gak enak hati. Dia ingin melakukan banyak hal.  Sudah lama ia gak percaya kalau kesembuhan atas dirinya adalah nyata. Dia lebih percaya kalau sebentar lagi akan mati. “Apa kabar, Dip?” “Baik kak. Kakak tumben banget mau jadi supirnya Sera?” “Idih, tega banget ya. Padahal aku lagi beramal sama orang rese loh. Dan pasti ada fee yang lumayan.” “Hahaha.” “Lain kali kamu juga bisa aku anterin. Tapi bayarannya lima kali lipat.” “Ish, kok gitu?” “Kata Sera duit kamu lebih banyak.” “Astaga. Kerjaannya ngeledek mulu.” “Oke, Dip. Kami pergi ya.”ucap Sera dengan wajah pucatnya.  “Kamu beneran sehat kan? Kok pucat banget sih?” “Sehat kok dia. Kecapean aja.”ucap Ibeth mengambil alih. “Ya udah. Kalian pergi, gih. Makasih ya, Kak Beth!” Mobil berjalan kembali. Menjauh dari gang sempit yang hanya cukup untuk dua mobil. Sepinya jalanan berganti jadi keramaian yang bikin macet. Hiruk pikuk kendaraan dan beberapa penjual gerobak memenuhi jalanan. Udara di kota ini memang sudah lama tercemar. Tak heran banyak yang memakai masker untuk menghindari polusi.  “Baik. Akan saya sampaikan sama dia.” “Oke, mbak. Tolong tanda tangan disini sebagai bukti kerjasama ya.” “Kalau begitu terima kasih banyak, mbak.” Gedung pertemuan itu bersamaan dengan mall kecil yang sering jadi kunjungan para karyawan. Jadi tak heran kalau banyak outlet makanan yang buka. “Ra, kita makan dulu yok. Sekalian kamu istirahat deh.” “Hmm, boleh kak.” “Kamu tunggu disini ya. Aku ke toilet sebentar baru pesan makan siang buat kita.” Sera mengangguk paham. Dia duduk dan menunggu. Masa itu sudah berlalu. Masa dimana ia menyalahkan segala hal atas hidupnya. Tuhan, orang tua, sahabat bahkan dirinya sendiri. Seiring berjalannya waktu, ia tahu bahwa itu salah. Keadaannya saat ini benar-benar bukan salah siapapun. Ini sudah seperti menit yang dikumpulkan dari beberapa detik. Tak ada menit yang tanpa detik. Itu sudah seperti takdir dan garisan tangan.  Seseorang melambaikan tangan dari jauh. Argh, seharusnya bukan mall ini yang jadi tempat makan siang hari ini. Dia duduk di kursi kosong yang tepat ada di depan Sera. Sera cuma bisa menampilkan gigi rapinya dengan terpaksa. “Ra, kamu dari mana aja sih? Kok gak pernah kelihatan?”tanya Sinka. Perempuan itu mengenakan blazer hitam dan sederet kertas ada di tangan kanannya. Argh, dia mengingatkan Sera akan Trinita Production, perusahaan yang memberinya banyak pengalaman berharga. Sayang sekali, dia harus menghentikan semua kegiatan payah yang menyenangkan itu karena keadaan yang tak bisa dihentikan. Jadi seorang wanita karir adalah impian Sera sedari dulu. Dia punya mimpi yang amat besar. Jika orang lain bosan dengan rutinitas kantor yang gitu-gitu aja, Sera merasakan yang sebaliknya. Dia suka aktivitas rutin yang memusingkan. Ditambah lagi jika hari gajian tiba. Itu jadi hari paling indah dimana dia bisa membakar uang tanpa berpikir panjang. Begitulah anak muda. Ketika beban hidup masih sebesar genggaman tangan, menghamburkan uang seperti bukan masalah. Lain lagi dengan pikiran orang yang sudah berkeluarga. Beban bukan tentang diri sendiri tapi juga tentang orang lain. “Oalah, Sin. Aku kan baru balik dari Singapura.” “Ish, kenapa gak ngajak-ngajak sih?” “Ini liburan keluarga, Sin. Lain kali bisa kok janjian buat jalan-jalan.” “Iya juga ya. Masa aku jadi nyamuk entar.” Sera tertawa menanggapinya. Bicara dengan Sinka membuat perasaannya campur aduk. Dan ada rasa takut sebab dia tahu tentang Barat. “By the way, kamu ngapain disini? Lagi nunggu seseorang?” “Engga. Lagi bareng sama kakak. Kebetulan ada urusan aja.” “Oh, gitu..” Terdapat jeda di antara mereka. Sera tak tahu apa yang dipikirkan Sinka tentang dirinya. Tapi dia sudah bersiap dalam segala macam situasi. Pertama kali, dia harus tenang. Dan yang kedua, dia harus berdusta. “Maaf banget Ra. Untuk semua hal yang aku lakukan sama kamu.” “Hah? Maksudnya apa nih?” “Aku tahu kamu dengar percakapan aku sama Berlin. Windy ngasih tahu kalau di hari itu kamu datang ke butik. Aku benar-benar gak tahu diri sampe bicara kayak gini sama kamu. Tapi beberapa hari ini, aku sama Berlin gak tenang. Kami benar-benar merasa bersalah gak langsung bilang sama kamu.” Seketika, Sera tertawa. Tawa yang tidak pada kodratnya. Dia tertawa untuk kesedihan semata. Sorot mata itu menunjukkan segalanya. Ada putus asa, kecewa dan kepahitan. Sinka bahkan lebih cemas dari sebelumnya. Tidak menyangka kalau reaksi Sera akan begini.  Sera itu orang yang hangat dan jarang marah. Dan kondisinya sekarang berbanding terbalik dengan semua anggapan itu. “Kamu minta maaf hanya karena aku tahu? Kalau nggak, kamu gak akan minta maaf kan? Berlin juga pasti gitu.” “Hmm, eng,nggak kok. Aku cuma butuh waktu, Ra. Untuk berpikir dan menimbang-bimbang biar gak bikin kamu sakit hati. Apalagi kamu benar-benar mencintai Barat.” “Diam!! Ini gak ada hubungannya sama Mas Barat. Ini antara kita. Aku, kamu sama Berlin.” “Jadi kamu masih sama dia? Kamu tetap mau jadi selingkuhan? Kamu gila, Ra.” “Aku,—”bibir Sera bahkan tak bisa berucap. Dia memang masih sedikit berharap. “Aku hanya butuh waktu sejenak.” “Waktu apa? Waktu untuk semakin gila sama dia? Kamu harus mikir, Ra. Dia udah punya anak perempuan. Kamu mau hancurin keluarga mereka?” “Kamu gak akan paham kondisiku, Sin.”balas Sera dengan nada suara yang sedikit melemah. Dia yang sudah menyiapkan diri untuk bertahan ternyata tidak sanggup. Dicekoki pertanyaan sebanyak ini bikin dia mundur dan tak bisa maju.  “Aku paham!”tegas Sinka dengan suara kerasnya. “Kamu itu g****k, Ra. Waktu kamu tahu hal ini harusnya kamu langsung putusin dia. Itu kalau kamu punya hati nurani dan kewarasan. Cinta bikin kamu jadi bodoh.” Sera terdiam.  “Kalau kamu masih waras, putus dari dia segera.” “Pergilah. Aku mau sendiri.” “Aku mengatakan ini demi kebaikanmu, Ra. Aku masih menganggapmu teman. Apapun alasannya, walau keluarganya seburuk itu, kamu gak pantas jadi selingkuhan.” “Stop menghakimi. Kamu tahu kan, aku gak sengaja.” “Dengan bertahan sampai sekarang, jelas-jelas kamu udah sengaja.” Ditampar kenyataan memang menyakitkan. “Kamu tahu Ra, dia bertahan sampai sekarang cuma demi putrinya. Walau begitu, dia pasti gak akan tega jika putrinya tahu soal kamu. Dia tahu soal wanita yang jadi selingkuhan papanya. Anak manapun akan marah dan benci.” “Kamu tahu dari mana? Jangan asal bikin asumsi.” “Sekali lagi, aku minta maaf karena tahu hal ini dibelakang kamu. Tapi ada kebetulan yang baru kuketahui akhir-akhir ini.”ucap Sinka sambil menggigit bibirnya.  “Diam-diam aku nyari informasi soal Barat. Dan kebetulan, aku punya sahabat yang kerja di perusahaan yang sama dengan dia. Dan orang itu berteman baik dengan Barat.” “Hah?” “Oke, ini emang aneh. Tapi kamu pasti mengenal Ray.” “Of course, aku pernah ketemu dia beberapa kali.” “Dia tahu semua hal tentang Barat.” “Kamu jangan bercanda, Sin. Cukup berhenti membohongiku selama ini.” “Aku serius. Oleh karena itu, aku minta kamu cepat putus dengan Barat.” “Kamu ngasih tahu itu sama Berlin?” “Tentang apa?” “Tentang Ray?” “Hmm, belum. Dalam satu minggu ini, aku tak punya waktu ketemu dia.” “Baguslah. Aku butuh bantuanmu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN